Mangokal Holi, Tradisi Perpindahan Tulang Belulang Batak Toba

Memberikan penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal, menyatukan jasad leluhur di tempat yang sama dengan keluarga nya.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Bagi masyarakat Batak Toba, tradisi Mangokal Holi merupakan tradisi sakral yang tetap diletarikan secara turun-temurun dari generasi ke genarasi. Tidak ada bukti otentik berupa dokumen atau pun peninggalan terkait kapan atau siapa yang pertama kali memulai atau menciptakan tradisi ini.

Namun, tradisi Mangokal Holi sudah ada sejak masa masyarakat Batak Toba pra-Kristen yang arti nya tradisi ini sudah berlangsung sebelum ada nya intervensi dari pengaruh agama ke kehidupan masyarakat.

Tradisi Mangokal Holi dilakukan dalam bentuk upacara adat Batak Toba yang sakral dan dilangsungkan berhari-hari lama nya serta memerlukan biaya yang banyak. Prosesi upacara ini pun mengundang seluruh keluarga besar pihak yang melakukan upacara  Mangokal Holi beserta tetangga – tetangga kampung.

Oleh sebab  itu, keluarga pihak yang melakukan tradisi sewajarnya menjamu tamu – tamu yang datang dengan makanan dan minuman. Tak jarang jamuan makanan nya berupa hewan kurban yakni kuda yang akan diolah secara saksang, yakni pengolahan makanan yang dicampur dengan darah. Pengolahan makanan dengan cara ini juga menjadi salah satu keunikan suku Batak Toba.

Tradisi ini dilakukan dalam bentuk upacara adat dengan beberapa alasan yaitu. Memberikan penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal, menyatukan jasad leluhur di tempat yang sama dengan keluarganya.

Untuk mengharapkan limpahan berkah, Hagabean (keturunan), Hasangapan (kehormatan) dan Hamoraon (kekayaan).Mempererat tali persaudaraan antar generasi dalam satu keluarga, melestarikan tradisi turun-temurun dari generasi ke generasi.

Konon katanya, tradisi ini dilakukan bilamana salah seorang anggota keluarga didatangai arwah leluhur dalam mimpi atau penglihatan yang meminta agar jasad nya dipindahkan / disatukan dengan anggota keluarga lain nya yang telah meninggal atau arwah tersebut meminta agar jasad nya dipindahkan ke tempat yang lebih layak.

Baca Juga :  Wetonan, Upacara Lahiran Masyarakat Jawa Demi Keselamatan

Untuk melaksanakan ritual tradisi masyarakat Batak ini tidaklah mudah. Selain memerlukan biaya yang tidak sedikit, setiap keturunan juga harus menyetujui dilaksanakannya ritual tradisi ini. Itulah yang menyebabkan ritual ini jarang kali terjadi.

Bagi orang Batak Toba, makam tempat dipindahkan nya tulang – belulang/ jasad leluhur dapat berupa batu napir (bangunan kuburan yang terbuat dari batu dan di dalamnya disediakan kapling-kapling kuburan sejumlah orang yang memiliki hubungan satu silsilah kekeluargaan) atau bangunan yang lebih mewah dari sebelumnya.

- Advertisement -

Masyarakat Batak Toba percaya bahwa dengan meletakkan tulang – belulang tersebut ke tempat yang lebih layak, berarti mendekatkan arwah leluhur kepada pencipta nya.

Makam tersebut dapat dikatakan menjadi makam keluarga dan dibuat seindah mungkin. Ada juga anggapan bahwa tempat makam yang semakin indah dan semakin besar tersebut menunjukkan status dan gengsi suatu keluarga dan menjadi kebanggan tersendiri.

Adapun prosesi Mangokal Holi dapat diceritakan kurang lebih sebagai berikut. Memanggil seluruh pihak keluarga yang terlibat sesuai dengan sistem kekerabatan, musyawarah semua petinggi adat dan warga setempat terkait pelaksanaan upacara.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

Yuk, sama-sama mengenalkan potensi keindahan Indonesia

BACA JUGA

- Advertisement -