Nasu Palek, Tradisi Potong Telinga Suku Dani saat Keluarga Meninggal

Kesedihan akan kehilangan mungkin hanya dapat ditutupi oleh luka, berharap waktu dapat menyembuhkan keduanya.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Suku Dani adalah sekelompok suku yang mendiami wilayah Lembah Baliem di Pegunungan Tengah, Papua Pegunungan.

Pemukiman mereka berada diantara Bukit Ersberg dan Grasberg di ketinggian 1.600 mdpl yang kayak akan kandungan emas, perak, dan tembaga melimpah.

Suku Dani yang telah ada sejak ratusan tahun lalu dikenal sebagai petani yang terampil. Mereka  telah mengenal teknologi pertanian seperti penggunaan alat/perkakas seperti  kapak batu, pisau yang dibuat dari tulang binatang, bambu dan juga tombak yang dibuat menggunakan kayu galian yang terkenal sangat kuat dan berat sejak dulu.

Nasu Palek
Pakaian adat suku Dani

Hidup mereka bergantung sepenuhnya pada alam. Setiap hari, masyarakat Suku menanam sayuran dan ubi-ubian kemudian memanen dan menjualnya ke pasar.

Dari cara berpakaian pun, suku ini masih banyak mengenakan ”koteka” (penutup kemaluan pria) yang terbuat dari kunden/labu kuning dan para wanita menggunakan pakaian wah yang dibuat dari rumput/serat dan tinggal di “honai-honai” (gubuk yang beratapkan jerami/ilalang).

Hingga kini mereka masih memegang erat kepercayaan leluhur seperti upacara-upacara besar dan keagamaan hingga perang suku yang kadang masih terjadi.

Nasu Palek
Suku Dani di Wamena

Keisitimewaan suku dari beratus-ratus tahun menciptakan tradisi unik warisan leluhur yang kharismatis. Salah satu Nasu palek, sebuah tradisi berkabung yang ‘mengerikan’.

Nah, ketika salah satu anggota keluarga meninggal, kaum pria akan memotong sedikit daun telinga menggunakan bambu yang diiris tipis kemudian dibungkus dengan tanaman obat-obatan yang diakhiri ritual mandi lumpur.

Satu irisan telinga itu jadi wujud rasa hormat mereka pada ayah, ibu, anak, maupun saudara yang berpulang. Walau menyakitkan, tradisi ini memiliki filosofi yang mendalam tentang keberadaan dan kehilangan kerabat.

Nasu Palek
Tradisi pemotongan jari suku Dani

Rasa sakit yang ditimbulkan jadi salah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa sedih ketika ada anggota keluarganya yang meninggal,  bentuk tanda cinta.

Dalam palekasanaannya Nasu Pelek berpedoman pada dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu marga, satu honai (rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, hingga satu sejarah/asal-muasal yaitu “Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik” mengenai pentinganya kebersamaan masyarakat tersebut.

Nasu Palek
Suku Dani di Wamena, Papua DOK

Pengobatan setelah melaksanakan Nasu Pelek yang hanya mandi lumpur mengartikan itu sebagai wujud bahwa setiap orang yang meninggal dunia akan kembali ke alam, manusia berasal dari tanah dan berakhir kembali menjadi tanah. Luka dan kehilangan pada akhirnya akan pulih seiring waktu berlalu.

Nasu Palek memang dikhususkan bagi pria namun wanita juga dapat melaksanakannya. Bedanya,  wanita suku dani terlebih dahulu menjalani tradisi Ikipalin (memotong jari). Jika jari telah habis, barulah kamu wanita menjalankan tradisi Nasu Palek. Sedangkan untuk para pria suku Dani, mereka akan langsung menjalankan tradisi Nasu Palek ketika kehilangan anggota keluarga.

Nasu Palek
Rumah adat suku Dani

Seiring zaman, tradisi ini telah ditinggalkan dan tidak lagi dipraktekkan. Alasannya tak lain karena mulainya masuk pengaru agama di kehidupan suku. Tapi kita masih dapat menemui wanita suku Dani yang pernah menjalani ritual ini.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

Komentar belum tersedia

BACA JUGA

- Advertisement -