Jalanan berkelok yang membelah perbukitan Enrekang menyuguhkan pemandangan yang nyaris terasa seperti lukisan. Sawah bertingkat menghampar di kaki gunung, diselingi rumah-rumah kayu yang berdiri sederhana namun kokoh. Udara di wilayah ini lebih sejuk dibandingkan daerah pesisir Sulawesi Selatan, dengan aroma tanah basah dan daun-daun kering yang sesekali terbawa angin.
Di sepanjang jalur itu, terutama sebelum memasuki pusat kota Enrekang, terdapat pemandangan kecil yang selalu mengundang perhatian para pelintas: warung-warung sederhana di tepi jalan yang mengepul tipis dari wajan besar berisi minyak panas.
Di sanalah deppa te’tekang menunggu untuk dipersiapkan.
Bagi masyarakat Enrekang, membawa pulang sesuatu yang khas dari sebuah perjalanan adalah semacam kebiasaan tak tertulis. Sebuah bentuk ikatan emosional antara mereka yang pergi dan mereka yang menunggu di rumah. Maka tidak mengherankan bila setiap orang yang berkunjung ke daerah ini hampir selalu ditagih oleh keluarga atau sahabatnya untuk membawa buah tangan.
Di antara berbagai penganan lokal, seperti baje kotu yang legit dari ketan dan gula merah atau dangke yang unik karena berasal dari fermentasi susu sapi, deppa te’tekang menempati tempat istimewa dalam ingatan lidah banyak orang.
Dalam bahasa Indonesia, deppa te’tekang dikenal sebagai kue cucur. Namun nama itu seakan tidak sepenuhnya mampu mewakili kedekatan emosional masyarakat Enrekang terhadap panganan tradisional ini. Kata deppa sendiri berarti kue, sedangkan te’tekang merujuk pada proses pembuatannya yang khas, sebuah istilah lokal yang bertahan lintas generasi.
Di warung-warung Kecamatan Maiwa, nama deppa te’tekang lebih sering diucapkan daripada kue cucur, seolah menegaskan bahwa panganan ini bukan sekadar kue biasa, melainkan bagian dari identitas lokal.
Salah satu hal yang membuat deppa te’tekang begitu dicari adalah kesegarannya. Kue ini tidak pernah digoreng sebelum ada yang memesan. Wajan hanya akan dipanaskan ketika ada tangan yang menunjuk dan suara yang memesan. Akibatnya, antrean kecil kerap terbentuk, baik oleh pengendara motor maupun mobil yang sengaja berhenti sejenak untuk mencicipi atau membawa pulang beberapa bungkus.
Kesabaran menjadi bagian dari pengalaman menikmati deppa te’tekang, karena menunggu adonan berubah menjadi kue keemasan adalah bagian dari ritual yang justru membuat rasanya semakin berharga saat akhirnya digigit.
Tekstur luarnya renyah dan sedikit garing, sementara bagian dalamnya lembut, berserat halus, dengan sensasi kenyal yang menyenangkan. Rasa manis dari gula merah tidak berlebihan, justru berpadu dengan aroma khas wijen yang menempel di permukaannya. Saat masih hangat, uap tipis keluar dari retakan kecil di bagian tengah, membawa wangi yang langsung menggoda indera penciuman. Inilah alasan mengapa satu potong saja hampir selalu terasa kurang.
Di balik kesederhanaannya, deppa te’tekang menyimpan proses yang sepenuhnya mengandalkan bahan-bahan lokal. Tepung beras yang digunakan berasal dari beras yang baru ditumbuk, memberikan hasil yang lebih segar dan alami. Gula merah dihaluskan, lalu dicampur dengan air dan dipanaskan dalam kuali hingga mencair sempurna. Setelah itu, tepung dimasukkan sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan sampai adonan mengental dan tidak lagi lengket di tangan.
Adonan tersebut kemudian diratakan di atas loyang sebelum digulung perlahan menggunakan plastik yang telah dilumuri sedikit minyak agar tidak menempel. Lapisan wijen ditaburkan di permukaannya, menambah aroma dan tekstur khas.
Setelah itu, adonan dipotong miring dalam ukuran yang seragam, lalu satu per satu dimasukkan ke dalam minyak panas. Di dalam wajan, potongan deppa itu perlahan mengembang, membentuk permukaan bergelombang yang menjadi ciri khasnya.
Proses ini mungkin terlihat sederhana, tetapi membutuhkan ketepatan rasa dan pengalaman bertahun-tahun. Suhu minyak, kekentalan adonan, hingga waktu penggorengan adalah detail-detail kecil yang akan menentukan hasil akhir. Bagi pembuatnya, memasak deppa te’tekang bukan semata pekerjaan, melainkan bentuk pengetahuan tradisional yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di sebuah bangku kayu di depan warung, deppa te’tekang paling nikmat disantap bersama secangkir teh panas atau kopi hitam khas daerah pegunungan. Di sela-sela hirupan minuman hangat, para pelintas biasanya memandang jauh ke arah lereng hijau yang membingkai Enrekang. Suasana menjadi syahdu, seakan waktu melambat dan membiarkan tiap gigitan dinikmati tanpa tergesa.
Lebih dari sekadar kudapan, deppa te’tekang adalah bagian dari perjalanan, penanda bahwa seseorang pernah singgah di tanah yang tenang ini. Ia menjadi cerita kecil yang dibawa pulang, dibagikan kepada keluarga, dan dikenang lewat rasa. Di tengah gempuran makanan modern dan serba instan, deppa te’tekang tetap bertahan dalam kesederhanaannya, menjadi penjaga rasa lama yang masih setia berdenyut di dapur-dapur tradisional Enrekang.
Ketika hari mulai senja dan warung-warung kecil itu perlahan sepi, aroma gula merah dan wijen masih tertinggal di udara. Sebuah jejak rasa yang tidak mudah dihapus oleh waktu, seolah berbisik bahwa di lereng-lereng Enrekang, tradisi masih hidup — hangat, manis, dan penuh cerita.


