Meayunan, Ayunan Tradisional Bali yang Hanya Boleh Dinaiki Remaja Perempuan

Jadi kamu bakal menemui rumah-rumah masyarakat setempat yang dibangun dengan menyesuaikan tradisi tata letak bangunan berdasar aturan adat. 

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Walau didatangi jutaan wisatawan setiap tahunnya, masyarakat Bali tampaknya tidak kemudian meninggalkan tata cara adat dan budaya asli Pulau Dewata. Salah satunya penduduk yang ada di Desa Tenganan.

Desa yang terletak sekitar enam puluh kilometer dari arah timur Denpasar ini, kerap dijuluki Bali Kuno. Ketika berkunjung kesini, wisatawan akan dibawa mundur menyusuri lorong waktu saat masyarakat Bali masih menjalankan adat-adat tradisional.

Asal usul desa ini juga tak lepas dari cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Konon ceritanya, pada suatu waktu Raja Bali pertama Gianyar kehilangan seekor kuda. Ia mengadakan sayembara terbuka. Bagi yang menemukan kudanya, Raja Gianyar akan memberikan hadiah sebagai imbalan.

Sayembara ini berakhir ketika leluhur orang Tenganan menemukan kuda raja dalam keadaan mati. Meskipun demikian, raja tetap menepati janjinya dengan memberikan tanah seluas bau bangkai kuda tercium.

Dengan cerdas, orang Tenganan membagi bangkai kuda dan berjalan sejauh mungkin. Berkat taktik tersebut, Tenganan kini memiliki wilayah dengan luas 917,2 hektar dan dihuni oleh 700 penduduk.

Nah, yang unik, penduduk desa ini masih bertahan dan melakukan aktivitas berdasarkan peraturan adat desa yang dikenal dengan sebutan awig-awig. Di sana, masrakatnya masih menerapkan aturan dan tradisi adat. Rumah-rumah dibangun dengan menyesuaikan tata letak bangunan berdasar aturan adat.

Selain pemukiman, Desa Tenganan juga punya dua tradisi unik. Namanya adalah tradisi Meayunan dan tradisi Makare-kare (Perang Pandan). Keduanya adalah simbol kedewasaan bagi remaja Desa.

Tradisi Perang Pandan dilakukan oleh remaja laki-laki. Perang Pandan sebagai bentuk penghormatan penduduk Desa Tenganan kepada Dewa Perang. Setelah melakukan tradisi Perang Pandan, barulah dilanjutkan dengan ayunan.

Ayunan tradisional di Desa Tenganan Bali ini tak seperti bentuk ayunan pada umumnya. Bentuknya mirip dengan biang lala yang terbuat dari kayu.

Baca Juga :  Ma’pasilaga Tedong, Pelipur Lara pada Upacara Kematian Suku Toraja
- Advertisement -

Ayunan ini akan dinaiki setidaknya 8 remaja Desa Tenganan. Para remaja perempuan yang menaiki ayunan tradisional tersebut biasa disebut sebagai Daha. Diputarnya ayunan ini merupakan simbol kehidupan yang terus berputar. Kadang kita berada di bawah, kadang di atas.

Meayunan hanya khusus dilakukan dalam ritual Usabha Sambah yang digelar pada bulan kelima dalam kalender Desa Tenganan yang disebut Sasih Sambah. Sasih Sambah ini merupakan bulan berlangsungnya upacara-upacara adat terbesar di Desa Tenganan yang termasuk desa Bali Aga (Bali Tua).

Karena ini berkaitan dengan upacara adat, ayunan ini bersifat sakral dan tidak bisa digunakan secara sembarangan. Ayunan baru bisa digunakan setelah lima hari dipasang. Sebelum digunakan juga harus digelar persembahyangan.

Kalau kamu ingin berkesempatan melihat pesona kedua tradisi tersebut secara langsung, kamu harus bertandang ke Desa Tenganan pada Mei atau Juni ya. Soalnya tradisi tersebut hanya diselenggarakan pada bulan ke-5 kalender Tenganan.

VIDEO: PASAR TOMOHON ! Asal Bukan Pesawat, Asal Bukan Kereta. Semuanya Bisa Dimakan

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

Yuk, sama-sama mengenalkan potensi keindahan Indonesia

BACA JUGA

- Advertisement -