Tradisi Ekstrim, Baku Pukul Manyapu Akan Digelar Esok

Walau dalam kategori esktrim, tradisi ini masih terus aktif dilakukan hingga sekarang. Tepatnya di Desa Mamala dan Desa Morella di Kecamatan Leihitu, Maluku.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Walau dalam kategori esktrim, Tradisi Pukul Manyapu masih terus aktif dilakukan hingga sekarang. Tepatnya di Desa Mamala dan Desa Morella di Kecamatan Leihitu, Maluku.

Tradisi ekstrim namun unik ini, pertama kali diciptakan oleh seorang tokoh Islam Maluku bernama Imam Tuni yang diadakan setelah Idul fitri, tepatnya tanggal 7 Syawal dalam penanggalan Islam setiap tahunnya.

Baku Pukul manyapu juga familiar dengan nama ukuwala mahiate. Ukuwala dari bahasa negeri Mamala berarti sapu lidi, sementara mahiate artinya saling memukul. Tradisi ini menggunakan sapu lidi (Pohon Enau) sepanjang 1,5 meter dan untuk saling pukul.

Dilansir dari ambon.tribunnews.com pada Senin (9/5/2022), Negeri Morella, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah akan menggelar atraksi pukul manyapu.

Selain menarik perhatian masyarakat dan wisatawan, tradisi ini juga jadi sarana edukasi dan hiburan. Apalagi sajian seremonial ini dikemas dengan sarat histori atas para pejuang melawan penjajahan. Bahkan tradisi baku pukul manyapu sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Tradisi untuk Mempererat Solidaritas Antar Sesama

Tradisi Pukul Manyapu juga menjadi bagian dari acara syukuran perdamaian antara warga Mamala dan Morella. Selain itu, tradisi ini juga dipandang sebagai alat untuk perekat tali silaturahmi antara kedua desa.

Atraksi tersebut diikuti oleh 20 peserta dari kedua desa yang saling berhadapan dengan memegang sapu lidi di kedua tangan. Suling yang ditiup sebagai tanda mulainya kedua kelompok ini saling mengayunkan lidi. Hingga akhir pertandingan tidak nampak rasa sakit dari kedua kelompok ini dirasakan.

Ketika pertempuran selesai, pemuda kedua desa tersebut mengobati lukanya dengan menggunakan obat alami, yakni dengan getah pohon jarak.

Ada juga yang mengoleskan minyak ‘nyualaing matetu’ (minyak tasala), minyak mujarab untuk mengobati patah tulang dan luka memar. Dalam beberapa minggu, luka-luka tersebut akan sembuh tanpa berbekas.

- Advertisement -

Dari pertempuran itu, terdapat nilai filosofis, yaitu persaudaraan tidak memandang suku, agama, dan ras. ‘Sakit di kuku, rasa di daging’, yang artinya rasa senang maupun rasa sakit dapat dirasakan bersama, demi terwujudnya kehidupan yang harmonis antar sesama.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

[gs-fb-comments]

BACA JUGA

- Advertisement -