Tari Fataele, Ksatria Nias Ketika Berperang

Pada tahun 1863, Belanda menyerang Desa Orahili Fau sehingga warga melarikan diri ke Desa Majine, termasuk 4 orang kakak beradik.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Tari Fataele adalah tarian adat Sumatera Utara lebih tepatnya dari Nias. Ini merupakan tari perang dan menjadi tradisi khas Nias yang sangat berhubungan dengan tradisi hombo batu yakni tradisi lompat batu yang keduanya lahir secara bersamaan. Tari ini menjadi salah satu jenis tarian yang terkenal di Sumatera Utara khususnya Nias.

Dalam pertunjukan, tarian Sumatera Utara ini, penari akan membawa gari atau pedang, baluse atau tameng dan juga toho atau tombak sebagai properti ketika menari. Tameng yang digunakan biasanya terbuat dari kayu berbentuk menyerupai daun pisang pada tangan kiri.

Sedangkan pedang atau tombak akan dipegang pada tangan kanan. Kedua senjata ini juga menjadi senjata utama yang digunakan ksatria Nias ketika berperang.

Sejarah Tarian

Pada tahun 1863, Belanda menyerang Desa Orahili Fau sehingga warga melarikan diri ke Desa Majine, termasuk 4 orang kakak beradik. Setelah beberapa tahun, 3 orang kakak beradik itu kembali ke Desa Orahili Fau, sedangkan yang 1 lagi tetap tinggal di Desa Majine.

Tiga kakak beradik itu takut kalau Belanda akan menyerang lagi sehingga mereka mendirikan desa baru di dekat situ dan diberi nama Desa Bawomataluo. Setelah beberapa tahun, dua kakak beradik yang paling muda memilih kembali ke Desa Orahili Fau, sedangkan si kakak tetap tinggal di Desa Bawomataluo.

Karena rumah adat di desa asal mereka sudah dihancurkan Belanda, akhirnya mereka memutuskan untuk membangun rumah adat besar di masing-masing desa.

Perlengkapan Tari Fataele

Para penari memakan seragam tari yang khas. Pada pertunjukan tari, mereka menggunakan pakaian dari bahan kain. Namun kalau di Desa Orahili Fau dan di Desa Bawomataluo yang sampai sekarang masih ada, para penarinya akan memakai pakaian yang terbuat dari kulit kayu asli berwarna coklat. Bahkan ada yang memakai baju dari bahan ijuk. Wah, pasti rasanya kaku dan kasar.

Baca Juga :  Kambira Baby Graves, Pemakanam Primitif Khusus Bayi Suku-suku Toraja

Para penari juga menggunakan topi perang dan alas kaki yang terbuat dari sabut kelapa. Mereka membawa perisai dan lembing sebagai perlengkapan perang. Perisai terbuat dari besi asli, tapi lembingnya tidak tajam karena takut melukai penonton di sekitar penari.

Pertunjukan Tari

Tarian ini dimainkan sebagai salah satu kesenian tradisional asal Nias untuk mengenang bahwa dahulu telah terjadi perang antardesa. Tak hanya di Nias, tarian ini sudah cukup terkenal ke seluruh Indonesia, bahkan ke luar negeri, lo.

- Advertisement -

Gerakan tariannya sangat menarik dengan hentakan kaki dan ayunan tombak yang diiring oleh musik. Gerakannya menggambarkan semangat para ksatria dalam mempertahankan desa mereka dari serangan musuh.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

[gs-fb-comments]

BACA JUGA

- Advertisement -