Sate Kambing Indonesia Mendunia, Menempati Posisi Ketiga Street Food Terbaik Versi TasteAtlas

Dari gerobak kaki lima hingga meja makan, sate terus memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat bertahan sekaligus menarik perhatian penikmat kuliner dari berbagai belahan dunia.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Asap mengepul dari bara arang, sementara potongan daging kambing yang ditusuk perlahan berubah warna di atas panggangan. Aroma bmbu yang bercampur dengan daging terbakar menjadi bagian dari pengalaman menikmati sate, kuliner yang mudah dijumpai di berbagai sudut Indonesia.

Kini, hidangan tersebut mendapat sorotan di panggung kuliner dunia setelah sate kambing Indonesia menempati peringkat ketiga dalam daftar street food terbaik versi TasteAtlas, dengan skor 4,5.

Pencapaian ini menempatkan sate kambing di antara hidangan jalanan dari berbagai negara. Taste Atlas menyusun pemeringkatannya berdasarkan ulsan pengguna terverifikasi, sehingga daftar tersebut mempertemukan beragam selera dan tradisi kuliner dari berbagai belahan dunia.

- Advertisement -

Namun, sate kambing bukan satu-satunya makanan Indonesia yang masuk dalam daftar itu. Beberapa kuliner Nusantara lainnya turut tercatat, memperlihatkan betapa beragamnya sajian yang berkembang dari dapur rumah, pasar tradisional, hingga gerobak kaki lima.

Sate Kambing di Antara Kuliner Dunia

Dalam daftar TasteAtlas yang menjadi acuan artikel ini, posisi teratas ditempati karantika dari Aljazair dan kontosouvli dari Yunani, masing-masing dengan skor 4,6. Sate kambing Indonesia menyusul di posisi ketiga dengan skor 4,5.

Berikut sepuluh street food yang tercatat dalam daftar tersebut.

- Advertisement -
  1. Karantika — Aljazair (4,6)
  2. Kontosouvli — Yunani (4,6)
  3. Sate kambing — Indonesia (4,5)
  4. Quesabirria — Meksiko (4,5)
  5. Guotie — Tiongkok (4,5)
  6. Taameya — Mesir (4,5)
  7. Bánh mì heo quay — Vietnam (4,5)
  8. Anticuchos de corazón — Peru (4,5)
  9. Siu mei — Tiongkok (4,4)
  10. Amritsari kulcha — India (4,4)

Di luar posisi tiga besar, kuliner Indonesia juga tersebar di sejumlah peringkat berikutnya. Batagor asal Bandung berada di posisi ke-19 dengan skor 4,4, disusul sate Padang di peringkat ke-20 dan siomay di posisi ke-22. Ketiganya sama-sama memperoleh skor 4,4.

Baca Juga :  Bubor Paddas, Warisan Rasa dari Tanah Sambas

Batagor memadukan tahu dan adonan ikan yang digoreng, kemudian disajikan dengan saus kacang. Sate Padang menawarkan karakter berbeda melalui kuah kental berbumbu, sedangkan siomay menghadirkan olahan ikan yang dikukus bersama beragam pelengkap.

Nama-nama lain turut mengisi daftar tersebut. Rendang berada di peringkat ke-50, bubur ayam di posisi ke-53, sate Madura di peringkat ke-61, dan pempek di posisi ke-65. Masing-masing memperoleh skor 4,3.

- Advertisement -

Sementara itu, sate babi, nasi uduk, gorengan, sate, dan sate lilit menempati peringkat ke-74, ke-77, ke-78, ke-80, dan ke-98, dengan skor masing-masing 4,2.

Ragam hidangan itu menunjukkan bahwa kuliner Indonesia tidak bertumpu pada satu jenis makanan. Olahan daging, ikan, nasi, hingga jajanan goreng memiliki tempat tersendiri dalam kekayaan rasa yang berkembang di berbagai daerah.

Menelusuri Jejak Panjang Sate

Popularitas sate membawa perhatian kembali pada sejarah hidangan yang telah lama dikenal masyarakat Nusantara. Meski mudah ditemukan saat ini, asal-usul sate belum memiliki satu penjelasan yang diterima secara luas.

Tulisan Wiwik Nirmala Sari dan rekan-rekannya dalam jurnal Media Bina Ilmiah mencatat keberadaan sate di Nusantara setidaknya sejak 1843. Sejumlah teori mencoba menjelaskan bagaimana hidangan daging yang ditusuk dan dipanggang ini muncul serta berkembang.

Salah satu teori menghubungkan kata sate dengan istilah Tamil sathai, yang dikaitkan dengan potongan daging berbumbu yang dipanggang menggunakan tusuk. Teori lain menyoroti pengaruh pedagang Muslim dari Tamil dan Gujarat yang membawa tradisi mengolah daging panggang menyerupai kebab.

Ada pula teori yang mengaitkan istilah sate dengan dialek Minnan dari Tiongkok, yakni sa tae bak, yang disebut bermakna tiga potong daging. Sementara itu, cerita lokal menghubungkan kemunculan sate dengan Satah, seorang murid Sunan Gresik yang konon mengolah daging kambing dengan cara ditusuk dan dibakar pada awal abad ke-15.

Baca Juga :  Filosofi Kue Taripang: Simbol Kehidupan dan Kenikmatan dalam Tradisi Bugis-Makassar

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan beragam upaya untuk menelusuri asal-usul sate. Namun, teori etimologi dan cerita tradisional perlu dibedakan dari bukti sejarah yang dapat diverifikasi. Karena itu, asal-usul sate sebaiknya dipahami dengan mempertimbangkan catatan tertulis, perkembangan bahasa, dan konteks budaya pada masanya.

Dari Satu Teknik, Lahir Beragam Cita Rasa

Di Indonesia, sate berkembang menjadi hidangan dengan banyak wajah. Daging ayam, kambing, sapi, domba, babi, lidah, dan jeroan dapat diolah dengan teknik serupa, tetapi menghasilkan karakter rasa yang berbeda melalui pemilihan bumbu, jenis bahan, dan cara penyajian.

Sate kambing, misalnya, dikenal melalui potongan daging yang dibakar di atas bara arang. Sate Padang mengandalkan kuah berbumbu, sedangkan sate lilit menggunakan adonan yang dililitkan pada batang penusuk. Perbedaan ini menunjukkan bagaimana teknik memasak yang serupa dapat beradaptasi dengan bahan pangan dan tradisi setempat.

Di banyak tempat, sate juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hidangan ini dijual di pinggir jalan, disajikan dalam perayaan keluarga, hingga hadir dalam berbagai acara masyarakat. Kehadirannya melampaui fungsi sebagai makanan, karena turut menjadi bagian dari kebiasaan makan dan identitas kuliner daerah.

Peringkat ketiga dalam daftar TasteAtlas menjadi salah satu sorotan internasional bagi sate kambing Indonesia. Namun, di balik angka dan posisi tersebut, daya tarik sate tetap berakar pada hal yang sederhana: perpaduan daging, bumbu, dan bara api yang telah akrab dengan kehidupan kuliner masyarakat.

- Advertisement -

Majalah Dimensi Indonesia:
Edisi Nagekeo

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.

Unduh majalah