10 Kue Kering Khas Makassar, Menyelami Warisan

“Dalam kue tradisional Makassar,” kata Fajar Sidiq Limola, “kita tidak hanya menemukan rasa, tetapi juga menemukan sejarah.”

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di jantung pesisir Sulawesi Selatan, Kota Makassar menyimpan lebih dari sekadar kisah pelaut dan sejarah perdagangan rempah. Dari aroma laut yang asin hingga jejak budaya Bugis-Makassar yang kuat, kota ini juga dikenal dengan satu hal lain yang melekat di setiap perayaan: kue tradisionalnya yang manis dan sarat makna.

Bagi masyarakat Makassar, kue bukan hanya panganan pelengkap. Ia adalah bahasa budaya—penanda kasih, doa, dan simbol kebersamaan yang diwariskan turun-temurun. Setiap bentuk dan rasa menyimpan cerita: tentang sejarah, migrasi, hingga filosofi hidup yang dibungkus dalam adonan tepung dan gula.

Dari Dapur Tradisional ke Meja Perayaan

Menurut sejarawan Universitas Hasanuddin, Fajar Sidiq Limola, kue kering tradisional Makassar dulu hanya muncul di momen-momen tertentu—pernikahan, kedukaan, atau syukuran. “Sebelum abad ke-20, rempah dan bahan manis masih sulit diperoleh,” tuturnya. “Kue kering baru menjadi umum setelah pabrik gula di Camming, Bone (1981) dan Takalar (1984) mulai beroperasi.”

- Advertisement -

Kehadiran gula pasir mengubah lanskap rasa masyarakat Makassar. Dari bahan dasar tepung beras yang telah lama menjadi komoditas unggulan Sulawesi Selatan, lahirlah berbagai kreasi manis—tiap kue membawa karakter dan filosofi yang berbeda.

1. Baruasa: Simbol Keabadian dalam Pernikahan

Kue Baruasa menjadi ikon kue kering Makassar. Bentuknya bulat, rasanya gurih, dan teksturnya lembut. Dalam sebuah penelitian di Universitas Hasanuddin, Baruasa dibuat dari tepung beras, kelapa sangrai, dan gula—baik gula pasir maupun gula aren.

Namun, di balik cita rasanya yang sederhana, kue ini memiliki makna yang dalam. “Baruasa yang tahan lama melambangkan harapan agar pernikahan sepasang pengantin juga kekal,” jelas Fajar.

- Advertisement -

Sebagai kudapan, Baruasa juga kaya nutrisi: mengandung karbohidrat, protein, dan kalori—cerminan kuliner rakyat yang tidak hanya lezat tetapi juga bergizi.

Baca Juga :  9 Kuliner Khas Ramadan dari Berbagai Daerah, Dijamin Lezat

2. Bannang-Bannang: Benang Kehidupan Rumah Tangga

Dari tepung beras dan gula merah, tangan-tangan ibu di Makassar menciptakan Bannang-Bannang, kue berbentuk jalinan benang kusut yang digoreng hingga renyah.

Dalam adat Bugis-Makassar, kue ini menjadi simbol filosofi rumah tangga: untaian benang yang saling terhubung, tak terputus hingga akhir hayat. Seperti benang yang dirangkai hati-hati agar tidak putus, demikian pula hubungan suami-istri dijaga dengan ketekunan.

- Advertisement -

Kue ini lazim hadir dalam pernikahan adat—menjadi lambang ketekunan dan kesetiaan.

3. Se’ro-Se’ro: Simbol Pengabdian dalam Adat Pernikahan

Kue Se’ro-Se’ro, yang bentuknya menyerupai timba dari daun nipah, adalah bagian tak terpisahkan dari erang-erang—hantaran pengantin pria dalam upacara pernikahan Makassar.

Nama se’ro-se’ro sendiri berarti “timba”, yang merepresentasikan tugas saling membantu dalam kehidupan rumah tangga. “Dulu, pasangan pengantin menimba air secara bergantian di sumur—melambangkan keseimbangan dan kebersamaan,” kata Fajar.

Dibuat dari tepung beras yang digoreng dan dilumuri gula halus hingga putih bersih, kue ini disebut juga beppa pute atau dumpi pute oleh masyarakat Bugis.

4. Toli-Toli: Ikatan yang Tak Terputus

Toli-Toli
Toli-Toli

Berbentuk angka delapan yang utuh, kue Toli-Toli melambangkan keabadian dan kesatuan. Dibuat dari tepung beras, gula merah, dan taburan wijen, kue ini tidak terlalu manis—justru menghadirkan keseimbangan rasa gurih dan legit yang halus.

Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan pesan mendalam: hubungan antarmanusia yang erat dan tradisi yang terus diwariskan lintas generasi.

5. Bagea: Jejak Rempah dan Sagu dari Laut Timur

Bagea adalah saksi bisu perjalanan perdagangan rempah dan sagu di perairan timur Nusantara. Bertekstur keras dan beraroma manis, kue ini terbuat dari pati sagu—bahan pokok yang juga ditemukan di Maluku dan Papua.

Baca Juga :  Filosofi Ma’burasa, Tradisi Bugis-Makassar Menjelang Lebaran

Dalam penelitian Universitas Hasanuddin, bagea kerap dibuat dari campuran tepung sagu dan terigu. Teksturnya yang kering dan padat membuatnya tahan lama—ideal sebagai bekal pelaut atau “pangan darurat”.

Dari Makassar hingga Ambon, bagea menjadi benang merah kuliner maritim Nusantara.

6. Buroncong: Si Legit dari Pagi Hari

Buroncong
Buroncong

Di banyak sudut Makassar, aroma Buroncong kerap menguar di pagi hari. Bentuknya mirip kue pukis, namun lebih padat dan gurih.

Adonannya terdiri dari tepung terigu, kelapa muda parut, santan, dan sedikit soda kue. Dipanggang di atas bara api dari kayu bakar, buroncong memadukan rasa manis dan gurih yang lembut di lidah—teman sempurna untuk secangkir kopi hitam di warung pinggir jalan.