7. Putu Cangkiri’: Tradisi dalam Cangkir Terbalik
Dari namanya, Putu Cangkiri’ sudah memberi petunjuk bentuknya—seperti cangkir yang terbalik. Kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula merah, menciptakan tekstur kenyal dan rasa manis legit.
Dalam bahasa Makassar, putu berarti makanan dari beras ketan, sedangkan cangkiri’ berarti cangkir. Kue ini sering dihidangkan dalam upacara adat dan menjadi bukti bagaimana masyarakat Bugis-Makassar mengolah bentuk keseharian menjadi simbol budaya.
8. Toloba: Kue Kuning Keemasan dengan Kismis dan Kenari

Meski jarang ditulis secara akademik, Toloba masih lestari di rumah-rumah Makassar. Warnanya kuning keemasan, dihiasi kismis di atasnya. Rasanya manis dan gurih dengan potongan kenari di dalam—mewakili cita rasa klasik yang berakar dari pengaruh kolonial dan lokal sekaligus.
9. Cucuru Jintan: Perpaduan Wangi Rempah dan Tekstur Lembut
Kue Cucuru Jintan adalah contoh sempurna sinergi rempah dan tepung. Bagian luar kue ini renyah, sementara dalamnya lembut seperti bolu.
Biji jintan yang menjadi bahan utamanya menghadirkan aroma khas—mengingatkan kita pada peran rempah-rempah yang sejak dulu menjadi denyut ekonomi dan budaya Makassar.
10. Bangke Canggoreng: Manis Renyah Khas Kacang Tanah

Kue Bangke Canggoreng berbahan dasar kacang tanah cincang kasar, dengan tekstur renyah yang disukai anak-anak. Namanya berasal dari kata bangke, yang berarti “kue” dalam bahasa Bugis-Makassar.
Rasanya manis gurih dan ringan—cerminan gaya hidup masyarakat pesisir yang sederhana namun penuh cita rasa.
Lebih dari Sekadar Kudapan
Setiap kue tradisional Makassar adalah cermin hubungan masyarakat dengan alam dan sejarahnya. Dari sagu dan beras yang tumbuh di tanah subur Sulawesi, hingga rempah dan gula yang datang dari jalur perdagangan Nusantara, semuanya berpadu dalam harmoni rasa.
Kini, ketika toko oleh-oleh di Jalan Somba Opu menata deretan kue khas Makassar di etalasenya, setiap gigitan masih membawa jejak masa lampau—jejak tangan ibu-ibu di dapur tradisional yang menjaga resepnya tetap hidup.
Makassar bukan hanya kota pelaut dan pedagang, tetapi juga penjaga rasa dan tradisi. Dan dalam setiap potongan Baruasa atau Bannang-Bannang, kita mencicipi bukan sekadar manisnya gula, tapi kisah panjang tentang ketekunan, cinta, dan identitas.


