Putri Mandi, Manisnya Tradisi Ramadan di Tepian Kapuas

Di antara hiruk-pikuk pasar takjil Pontianak, semangkuk kecil putri mandi menyimpan lebih dari sekadar rasa manis. Ia adalah jejak tradisi Melayu—tentang kebersamaan, warisan dapur, dan keindahan yang sederhana.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Menjelang senja di Pontianak, udara dipenuhi aroma gula aren yang menghangat dan santan yang perlahan mendidih. Di lapak-lapak takjil, mangkuk-mangkuk kecil berisi bulatan ketan berwarna-warni tersusun rapi. Di sanalah putri mandi hadir—tenang, sederhana, namun selalu mengundang.

Sekilas, tampilannya lembut dan bersahaja. Bulatan pulut ketan yang kenyal, berbalut warna hijau, merah, atau kuning, terendam dalam kuah manis yang mengilap. Namun begitu menyentuh lidah, rasa manis dan gurihnya segera menyatu, menghadirkan sensasi yang akrab sekaligus menenangkan.

Di bulan Ramadan, kue ini menjadi salah satu incaran utama warga. Ia bukan sekadar takjil, melainkan bagian dari ritme harian—menemani waktu berbuka dengan kehangatan yang sudah dikenal sejak lama.

Dari Dapur Keluarga ke Pasar Ramadan

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Bilco (@bilco.handmade)

- Advertisement -


Bagi banyak pembuatnya, seperti para perajin rumahan di Pontianak, putri mandi bukanlah resep yang dipelajari dari buku, melainkan warisan yang hidup di dapur keluarga. Adonannya sederhana—beras ketan yang diolah menjadi pulut, dibentuk kecil-kecil, lalu dimasak hingga kenyal sempurna.

Kuahnya, campuran gula aren dan gula pasir, memberikan rasa manis yang lembut tanpa berlebihan. Saat disiramkan, kuah itu menyatukan seluruh elemen dalam satu mangkuk—sebuah metafora sederhana tentang kebersamaan.

Di pasar juadah, kue ini mudah ditemukan. Harganya terjangkau, tetapi nilai yang dibawanya jauh melampaui angka. Setiap porsi adalah hasil dari keterampilan tangan, kesabaran, dan ingatan yang diwariskan lintas generasi.

- Advertisement -

Jejak Melayu dalam Setiap Bulatan Ketan

Sejarah putri mandi berakar kuat dalam tradisi Melayu, khususnya di kawasan Sungai Kapuas. Sejak masa Kesultanan Pontianak pada abad ke-18, bahan-bahan seperti beras ketan, kelapa, dan gula aren telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pesisir.

Baca Juga :  Manggulu, Cita Rasa Manis-Asam dari Sumba Timur

Kue-kue berbahan ketan sering hadir dalam berbagai upacara adat—dari kenduri hingga perayaan keagamaan. Putri mandi, dengan teksturnya yang lembut dan penyajiannya yang menyatu dalam kuah, melambangkan harmoni dan kebersamaan.

Namanya sendiri menyimpan imaji yang puitis. Bulatan ketan yang “terendam” dalam kuah manis seolah-olah sedang mandi, sementara warna-warninya mencerminkan keindahan—seperti sosok putri dalam cerita rakyat. Filosofi ini mengikatnya dengan peran perempuan Melayu, yang sejak lama menjadi penjaga tradisi di dapur.

- Advertisement -

***

Di tengah gempuran kuliner modern yang silih berganti, putri mandi tetap bertahan—tidak dengan kemewahan, tetapi dengan kesetiaan pada rasa dan makna.

Ia hadir setiap Ramadan, di mangkuk-mangkuk kecil yang mungkin tampak sederhana. Namun di dalamnya, tersimpan sesuatu yang lebih besar: ingatan kolektif, kehangatan keluarga, dan tradisi yang terus hidup.

Dan saat senja tiba, ketika azan berkumandang, satu suap putri mandi menjadi lebih dari sekadar makanan—ia menjadi penghubung antara masa lalu dan hari ini.