Di tanah Melayu pesisir Sambas, di mana sawah membentang dan padi menjadi denyut kehidupan, lahirlah sebuah kue yang sederhana namun sarat makna: putu rateh. Namanya mungkin mengingatkan pada kue putu yang akrab di banyak daerah, tetapi kesamaan itu berhenti pada sebutan.
Putu rateh hadir dengan karakter yang berbeda. Tidak ada tabung bambu, tidak ada uap panas yang mengepul saat disajikan. Sebaliknya, kue ini tampil padat, cenderung kering, dengan warna yang tenang dan bentuk yang sederhana. Manisnya tidak datang dari isian, melainkan menyatu langsung dalam adonan melalui gula kelapa, menciptakan rasa yang halus namun membekas.
Saat digigit, teksturnya memberi sensasi yang lebih berisi, seolah membawa kita pada masa ketika makanan dibuat untuk bertahan lebih lama—bukan hanya untuk dinikmati sesaat, tetapi juga untuk menemani perjalanan hidup yang sederhana.
Dari Padi ke Piring: Tradisi yang Tumbuh Bersama Alam
Untuk memahami putu rateh, kita perlu kembali ke masa ketika padi bukan sekadar bahan makanan, melainkan pusat kehidupan masyarakat. Di Sambas, padi diolah dengan penuh perhatian—tidak hanya menjadi nasi, tetapi juga diolah menjadi berbagai bentuk pangan, termasuk kue tradisional.
Proses pembuatan putu rateh mencerminkan kedekatan itu. Padi disangrai hingga mengembang, lalu ditumbuk menjadi tepung kasar. Teknik ini bukan hanya soal memasak, tetapi juga bagian dari aktivitas kolektif—dilakukan bersama, diiringi percakapan, tawa, dan rasa kebersamaan.
Tradisi ini berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat Melayu Sambas dalam berkumpul dan berbagi makanan, seperti dalam tradisi besaprah—ritual makan bersama yang menekankan nilai sosial dan kebersamaan. Dalam konteks ini, putu rateh bukan sekadar kudapan, melainkan bagian dari ikatan sosial yang lebih luas.
Rasa yang Bertahan, Keberadaan yang Kian Langka
Seiring waktu, putu rateh mulai jarang dijumpai. Proses pembuatannya yang panjang dan membutuhkan ketelatenan membuat kue ini perlahan tersisih oleh makanan yang lebih praktis. Namun, bagi sebagian masyarakat, terutama saat bulan Ramadan, putu rateh masih memiliki tempat tersendiri sebagai takjil berbuka.
Rasanya yang manis dan tidak berlebihan menjadikannya cocok disajikan untuk tamu, terutama pada momen-momen penting seperti Lebaran. Biasanya, kue ini dicetak dalam loyang besar berbentuk persegi, lalu dipotong-potong menjadi bagian kecil yang siap dinikmati bersama.
Harga yang relatif terjangkau—sekitar Rp50.000 hingga Rp70.000 per loyang—tidak sepenuhnya mencerminkan nilai yang dikandungnya. Karena di balik setiap potongan, tersimpan kerja panjang, teknik tradisional, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Putu rateh adalah pengingat bahwa tidak semua yang berharga tampil mencolok. Ia hadir dalam kesederhanaan, dalam bentuk yang mungkin tak lagi populer, tetapi justru di situlah letak kekuatannya.
Di tengah arus jajanan modern yang terus berubah, kue ini berdiri sebagai jejak masa lalu—tenang, bersahaja, dan penuh makna. Sebuah warisan yang menunggu untuk kembali dikenali, sebelum benar-benar hilang dari ingatan.


