Di dapur-dapur tradisional Kalimantan Selatan, suara uap yang keluar dari kukusan menjadi penanda dimulainya sebuah ritual kecil yang telah berlangsung turun-temurun. Di dalam loyang, adonan santan dan tepung perlahan mengeras, sementara irisan pisang matang tersusun rapi, seolah membentuk lanskap kecil yang manis. Dari proses sederhana itulah amparan tatak lahir—sebuah kue yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mengikat ingatan.
Aroma pisang yang matang berpadu dengan gurih santan menciptakan wangi yang hangat dan menenangkan. Saat disentuh, teksturnya terasa lembut dan sedikit kenyal, dengan lapisan bawah yang lebih padat dan bagian atas yang lebih halus. Ketika digigit, rasa manis alami dari pisang menyatu dengan gurih santan, menghadirkan keseimbangan yang nyaris sempurna—tidak berlebihan, namun cukup untuk membuat siapa pun ingin kembali mencicipinya.
Bagi masyarakat Banjar, kue ini bukan sekadar camilan. Ia adalah bagian dari keseharian sekaligus perayaan. Di bulan Ramadan, amparan tatak hampir selalu hadir sebagai takjil, menjadi teman berbuka yang sederhana namun penuh makna.
Jejak Nama dan Filosofi dalam Setiap Lapisan
Lihat postingan ini di Instagram
Nama amparan tatak berasal dari bahasa Banjar yang sederhana namun penuh makna. “Amparan” merujuk pada sesuatu yang dihamparkan, sementara “tatak” berarti dipotong. Nama ini menggambarkan proses pembuatannya—adonan yang dihampar dalam loyang, lalu dipotong-potong setelah matang.
Dari Banjarmasin hingga wilayah seperti Tabalong, kue ini dikenal luas sebagai salah satu wadai khas yang mencerminkan kesederhanaan masyarakat Banjar. Tampilannya yang berlapis sering disandingkan dengan kue lapis, namun karakter rasanya berbeda—lebih ringan, lebih alami, dan lebih dekat dengan bahan-bahan lokal.
Pisang menjadi elemen utama yang memberi identitas kuat. Jenis seperti pisang kepok, raja, atau tanduk yang matang di pohon dipilih untuk menghadirkan rasa manis alami yang optimal. Di beberapa variasi, potongan nangka ditambahkan untuk memperkaya aroma, menciptakan dimensi rasa yang lebih kompleks tanpa kehilangan esensi utamanya.
Dari Hidangan Bangsawan ke Warisan Kolektif
Pada masa lampau, amparan tatak bukanlah kue yang bisa dinikmati semua orang. Ia pernah menjadi hidangan istimewa di lingkungan Kerajaan Banjar dan Kerajaan Daha, disajikan untuk kalangan bangsawan sebagai simbol kehalusan rasa dan keterampilan dapur.
Namun waktu mengubah segalanya. Kue ini perlahan keluar dari lingkaran istana dan menjadi milik masyarakat luas. Di era 1970-an, jejak popularitasnya bahkan terlihat di Samarinda, ketika para penjual dari kawasan Samarinda Seberang menyeberangi Sungai Mahakam dengan perahu tambangan, membawa amparan tatak untuk dijajakan dari satu sudut kota ke sudut lainnya.
Perjalanan itu bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga penyebaran budaya. Dari satu tangan ke tangan lain, dari satu gigitan ke gigitan berikutnya, amparan tatak tumbuh menjadi simbol kebersamaan.
Pengakuan terhadap nilai budayanya mencapai puncak ketika kue ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2025. Sebuah penegasan bahwa amparan tatak bukan hanya makanan, tetapi bagian dari identitas yang layak dijaga.
Amparan tatak adalah bukti bahwa rasa dapat melampaui waktu. Dalam setiap lapisannya, tersimpan cerita tentang tanah, tradisi, dan perjalanan manusia yang merawatnya.
Di tengah dunia yang terus berubah, kue ini tetap bertahan—tenang, sederhana, namun penuh makna. Sebuah warisan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mengingatkan kita bahwa di balik setiap rasa, selalu ada cerita yang layak untuk terus hidup.


