Di dapur-dapur Melayu, aroma santan yang hangat sering kali berpadu dengan wangi rempah yang lembut. Namun sesekali, ada kejutan yang tak terduga: potongan nanas yang perlahan dimasak dalam kuah gulai. Asamnya yang segar tidak hilang, justru melebur dengan gurih santan, menciptakan rasa yang berlapis dan tidak biasa.
Pacri nenas adalah pertemuan antara dua dunia rasa—buah dan rempah. Ia menantang anggapan bahwa nanas hanya cocok sebagai hidangan penutup. Dalam tradisi ini, nanas menjadi inti dari sajian utama, menghadirkan keseimbangan yang halus antara asam, manis, dan gurih.
Di Pontianak dan wilayah sekitarnya, pacri nenas bukan sekadar hidangan. Ia adalah bagian dari identitas kuliner yang telah hidup selama berabad-abad.
Dari Sungai Kapuas ke Tradisi Saprahan
Jejak pacri nenas dapat ditelusuri hingga abad ke-18, ketika masyarakat Melayu di tepian Sungai Kapuas mulai mengolah nanas dengan bumbu gulai. Dalam catatan tradisi lisan, hidangan ini telah dikenal sejak sekitar tahun 1771 dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pacri nenas kerap hadir dalam tradisi saprahan, sebuah budaya makan bersama yang menjadi ciri khas masyarakat Melayu Pontianak. Dalam tradisi ini, makanan dihidangkan di atas kain panjang, dan orang-orang duduk berkelompok untuk menikmati hidangan secara bersama.
Saprahan—yang berasal dari kata “saprah” atau berhampar—bukan sekadar cara makan. Ia adalah ruang sosial, tempat kebersamaan dirayakan melalui makanan. Dalam susunan hidangan yang beragam, pacri nenas hadir sebagai penyeimbang—menyegarkan lidah setelah santapan berlemak.
Rasa asam dari nanas berfungsi seperti jeda dalam komposisi rasa, membersihkan palate dan mengembalikan selera. Di sinilah pacri nenas menemukan perannya: bukan sebagai hidangan utama, tetapi sebagai penghubung yang menyempurnakan keseluruhan pengalaman makan.
Rasa yang Beradaptasi, Tradisi yang Bertahan
Seiring waktu, pacri nenas melintasi batas geografis. Ia ditemukan di berbagai wilayah Melayu seperti Aceh, Riau, hingga Sumatra bagian selatan. Meski membawa nama yang sama, setiap daerah menghadirkan interpretasi yang berbeda.
Di Pontianak, pacri nenas biasanya dimasak dengan santan, menghasilkan kuah yang lembut dan gurih, menyerupai gulai. Sementara di Aceh, hidangan ini kerap diperkaya dengan karamel, menghadirkan rasa manis yang lebih dalam dengan sentuhan pedas yang halus.
Namun di balik variasi tersebut, satu hal tetap sama: keseimbangan rasa. Pacri nenas selalu menjaga harmoni antara asam buah, gurih santan, dan kompleksitas rempah. Ia adalah contoh bagaimana kuliner tradisional mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.
Pengakuan terhadap nilai budaya hidangan ini pun semakin menguat ketika pacri nanas ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2018. Status ini menegaskan bahwa makanan bukan sekadar konsumsi, tetapi juga warisan yang menyimpan pengetahuan dan identitas.
Pacri nenas mengajarkan bahwa rasa tidak selalu mengikuti aturan yang kita kenal. Ia membuktikan bahwa buah bisa menjadi hidangan utama, bahwa asam bisa berpadu dengan gurih, dan bahwa tradisi selalu menemukan cara untuk bertahan.
Di setiap sendoknya, ada jejak sungai, sejarah, dan kebersamaan. Sebuah pengingat bahwa kuliner bukan hanya tentang apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana sebuah budaya hidup—dan terus diwariskan—melalui rasa.


