Pagi baru saja turun di tepian Sungai Kahayan. Kabut menggantung rendah di antara batang-batang meranti, sementara aroma tanah basah bercampur wangi kayu bakar merayap perlahan ke dalam rumah betang. Di dapur berlantai papan, seorang ibu Dayak Ngaju duduk bersila, tangannya cekatan mengupas lapisan luar rotan muda—bagian paling lembut dari tanaman liar yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan keranjang dan anyaman.
Dari celah jendela, cahaya matahari pertama merambat masuk, mengusap potongan rotan yang putih berurat halus—bahan utama Juhu Singkah, sayur berkuah yang menjadi wujud hubungan paling intim antara masyarakat Dayak dan hutan yang menaungi hidup mereka.
Di kalangan Dayak, Juhu Singkah lebih dari sekadar makanan rumahan. Ia adalah catatan ekologis yang diwariskan lewat dapur: bagaimana manusia belajar dari hutan, tidak hanya memanen kayunya, tetapi juga mengambil pangan dari sesuatu yang tampak keras, liar, dan tak mungkin disantap.
Ketika potongan umbut rotan direbus perlahan, rasa pahitnya—yang pada awalnya menusuk—bertransformasi menjadi lembut. Dalam panci tanah liat, ia berpadu dengan gurih ikan sungai, serai yang diketuk, dan kunyit yang memerahkan kuah. Dari dapur itu, asap beraroma rempah mengalun naik, menempel pada balok kayu rumah betang yang telah menyimpan cerita keluarga selama puluhan tahun.
“Juhu itu artinya sayur berkuah,” ujar seorang tetua adat di Tewah sambil tersenyum tenang. “Singkah ya rotan muda. Dulu kami ambil langsung dari hutan, masak dengan ikan sungai, makan ramai-ramai. Itu cara kami menghormati alam—dengan tidak mengambil lebih dari yang kita butuhkan.”
Di banyak kampung sepanjang Kahayan dan Katingan, Juhu Singkah hadir pada berbagai upacara adat: kelahiran, pesta panen, hingga ritual-ritual penghormatan leluhur. Ia disajikan di tengah ruang betang, di atas daun pisang atau talam rotan, bersama cerita-cerita yang menghubungkan generasi—kisah perjalanan, musim berburu, hingga legenda penghuni rimba.
Dalam setiap sendokan, ada sensasi yang saling bertolak belakang namun harmonis: pahit yang tersamar, gurih ikan sungai yang bersahaja, serta aroma kunyit dan serai yang menghangatkan dada. Masakan sederhana ini menjadi jembatan antara manusia dan lanskap Kalimantan, mengingatkan bahwa setiap rasa memiliki perjalanan panjang dari hutan ke meja makan.
Kini, ketika wisata budaya dan ekowisata tumbuh pesat di Kalimantan Tengah, Juhu Singkah mulai menarik perhatian para pelancong yang ingin merasakan lanskap lewat kuliner. Di beberapa homestay di sekitar Palangkaraya dan Tewah, para ibu memasaknya secara perlahan, memperkenalkan kisah hidup Dayak melalui piring yang tampak sederhana namun sarat makna.
Pada malam hari, ketika suara serangga memenuhi udara dan sungai memantulkan cahaya bulan, semangkuk Juhu Singkah kembali menjadi alasan orang duduk lebih dekat. Kuah kuningnya mengepul pelan, percakapan mengalir lembut, dan setiap orang merasakan bahwa makanan ini bukan hanya tubuh rotan yang direbus lama—melainkan memori, kesabaran, dan kedekatan dengan alam.
Di tengah gempuran modernisasi, makanan cepat saji, dan dapur yang serba instan, Juhu Singkah berdiri sebagai penanda identitas: bahwa orang Dayak tidak hanya hidup dari hutan, tetapi hidup bersama hutan. Dari rasa pahit rotan yang akhirnya melembut ketika diberi waktu, terselip pelajaran yang terus diwariskan: alam memberi, selama manusia mau menjaganya.
Dan justru di situlah kekuatan terbesar Juhu Singkah—bukan sekadar pada kelezatannya, tetapi pada kisah panjang yang dibawanya dari jantung Kalimantan. Sebuah cerita yang selalu kembali ke akar: antara manusia, rasa, dan hutan yang menjadi rumah.


