Para pembuatnya harus memilih jenis bambu yang tepat, memotongnya pada waktu yang pas, lalu membelahnya sehingga dua bilik bambu saling menguatkan ketika mengapit bungkusan pengkang. Ikatan yang digunakan bukan sembarang tali—ia adalah tali bundung dari tumbuhan rawa yang banyak ditemukan di Kubu Raya. Batang kering itu dilinting hingga kuat, lalu menjadi pengikat tahan panas untuk menjepit dua picukan pengkang.
Setelah ketan bersantan dan isian ebi dikemas dalam daun pisang, dua bungkus itu dimasukkan ke jepitan bambu. Satu ujung jepitan diikat rapat. Dari sini, pengkang siap dipanggang selama kurang lebih tiga jam. Perlahan, asap berkumpul di sela bilah-bilah bambu, mengisi setiap ruang kecil dalam daun, mengubah ketan menjadi hidangan yang beraroma kompleks—hangat, gurih, dengan sentuhan manis alami ebi.
Di masa lalu, makanan ini menjadi bekal bagi masyarakat yang hendak ke hutan, ladang, atau kebun. Ketan yang padat dan gurih membuat perut kenyang lebih lama. Rasanya sederhana, tetapi cukup untuk menemani perjalanan panjang melintasi rawa dan ladang gambut.
Sambal Kepah, Laut yang Menyentuh Ketan
Lihat postingan ini di Instagram
Pengkang hampir selalu ditemani sambal kepah—racikan sambal khas Kalimantan Barat yang menggunakan kerang muara. Warna dan aromanya sekilas mirip sambal terasi yang agak manis, tetapi pada gigitan pertama, rasanya berubah: pedas menyengat, gurih, dengan sentuhan asam segar dari tomat. Tekstur kerangnya menciptakan kontras dengan lembutnya ketan—pertemuan rasa laut dan darat yang menegaskan identitas kuliner pesisir.
Selain sambal kepah, beberapa tempat menyajikan pengkang dengan sate kerang berbumbu kacang, menggunakan jenis kerang yang sama. Dengan kombinasi ini, satu porsi pengkang terasa seperti peta kecil Kalimantan Barat: rawa air payau, muara, ladang kelapa, dan asap bambu yang menjadi latar setiap dapur tradisional.
Jejak Rasa dari Sabuk Khatulistiwa
Pengkang bukan sekadar jajanan pasar. Ia adalah kisah perjalanan masyarakat Melayu di Kalimantan Barat—kisah tentang bagaimana mereka memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, mengolahnya dengan metode yang diwariskan nenek moyang, dan menciptakan hidangan yang menyatukan unsur bumi, air, dan api.
Di jalur Peniti, para pembuat pengkang bekerja dalam irama yang hampir tidak berubah selama puluhan tahun. Jepit bambu, bara, daun pisang, dan ketan—semuanya menjadi bagian dari lanskap kuliner yang tumbuh dari tradisi dan ketekunan.
Ketika pelancong berhenti di pondok-pondok kecil itu, duduk di bangku kayu sambil memegang satu jepit pengkang yang masih mengepulkan uap, mereka sebenarnya sedang mencicipi lebih dari sekadar makanan. Mereka sedang menggigit fragmen sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang lahir dari pertemuan laut, sungai, dan hutan.


