Di antara ragam jajanan tradisional Solo yang lembut dan manis, opak angin hadir sebagai kudapan sederhana yang renyah dan bersahaja. Bentuknya tipis dan bundar, sekilas menyerupai kerupuk. Namun opak angin bukan sekadar pelengkap santapan atau pengganjal lapar. Ia adalah jejak ingatan kolektif, sebuah camilan yang pernah akrab dengan kehidupan masyarakat Solo beberapa dekade silam.
Hari ini, jajan ini semakin sulit dijumpai. Banyak orang bahkan tidak lagi mengenal namanya. Kondisi ini sangat berbeda dengan masa lalu, ketika jajanan tradisional khas Solo ini menjadi pemandangan lazim di rumah-rumah warga, terutama menjelang momen tertentu. Keberadaan opak angin tidak bisa dilepaskan dari ritme kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Jawa, yang menempatkan makanan sebagai bagian dari perayaan dan penanda waktu.
Opak angin biasanya dikonsumsi sebagai camilan di sela-sela aktivitas harian. Teksturnya ringan dan renyah, tidak berminyak, dan mudah dinikmati tanpa tambahan apa pun. Kesederhanaan inilah yang membuatnya dulu begitu dekat dengan keseharian masyarakat Solo.
Tepung Ketan, Lesung, dan Bara Api
Meski tampak mirip kerupuk, opak angin memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan paling mendasar terletak pada bahan bakunya. Jika kerupuk umumnya dibuat dari tepung tapioka, opak angin menggunakan tepung ketan atau tepung beras sebagai bahan utama. Pilihan bahan ini memberikan tekstur dan rasa yang khas, sekaligus menuntut ketelitian lebih dalam proses pembuatannya.
Tepung ketan yang digunakan untuk opak angin tidak diproses secara instan. Tepung tersebut harus ditumbuk secara manual menggunakan alu dan lesung. Proses ini bukan sekadar tradisi, melainkan bagian penting untuk memastikan adonan dapat mengembang dengan baik saat dimasak. Tumbukan tangan diyakini menghasilkan tekstur yang lebih hidup dan merata dibandingkan proses mekanis.
Keunikan opak angin semakin terasa pada teknik memasaknya. Tidak seperti kerupuk yang digoreng dalam minyak panas, opak ini dipanggang tanpa minyak. Adonan tipisnya diletakkan di atas anglo yang dipanaskan dengan bara api.
Selama proses pemanggangan, opak angin dibolak-balik dengan cermat hingga mengembang sempurna dan matang merata. Teknik ini menghasilkan camilan yang kering, ringan, dan bebas rasa berminyak, sekaligus memperkuat aroma alami dari tepung ketan yang dipanggang.
Penanda Waktu dan Kudapan yang Kian Langka
Opak angin bukan sekadar jajanan harian. Dalam perjalanan sejarahnya, camilan ini memiliki kaitan erat dengan momen-momen khusus. Sejak dikenal masyarakat Solo setidaknya pada era 1960-an, opak angin pernah dibuat secara khusus untuk menyambut Tahun Baru Islam, tepatnya pada 1 Muharram. Pada masa itu, kehadiran opak angin menjadi bagian dari suasana perayaan, penanda pergantian waktu yang sarat makna spiritual.
Seiring perubahan zaman, tradisi tersebut perlahan memudar. Pola konsumsi masyarakat berubah, jajanan modern semakin mendominasi, dan proses pembuatannya yang memerlukan waktu serta keterampilan khusus membuatnya kian jarang diproduksi. Kini, hanya sedikit penjual yang masih mempertahankan pembuatannya.
Meski demikian, opak angin belum sepenuhnya menghilang. Pada momen tertentu, terutama dalam festival makanan tradisional atau acara budaya di Solo, camilan ini masih bisa dijumpai. Kehadirannya di ruang-ruang tersebut bukan sekadar sajian kuliner, melainkan pengingat akan lapisan sejarah, tradisi, dan pengetahuan dapur yang pernah hidup di tengah masyarakat.
Opak angin mengajarkan bahwa di balik bentuknya yang tipis dan rasanya yang ringan, tersimpan cerita panjang tentang kebersamaan, ritual, dan cara hidup yang perlahan berubah. Ia adalah camilan yang membawa angin masa lalu, berbisik pelan dari dapur-dapur tradisional Solo.


