Pengkang: Asap, Ketan, dan Jejak Sungai di Kalimantan Barat

Di Kalimantan Barat, pengkang adalah aroma rumah; rasa yang mengikuti perjalanan; cerita yang melekat pada asap.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Pagi di jalur Peniti selalu dimulai dengan asap. Di sepanjang jalan yang membelah hutan rawa dan permukiman Melayu di Kalimantan Barat itu, kepulan asap tipis terangkat dari bilah-bilah bambu yang dijepitkan di atas bara.

Asapnya tidak pernah pekat, tetapi cukup untuk membawa aroma yang khas—aroma daun pisang terbakar, ketan bersantan, dan ebi yang baru saja disentuh panas. Bagi banyak pelancong yang melintasi rute ini, aroma itulah tanda bahwa mereka sudah dekat dengan makanan yang hanya bisa ditemukan di tanah ini: pengkang.

Di sebuah pondok kayu yang telah berdiri sejak 1934, seorang perempuan merapikan deretan jepitan bambu bertanda hak paten—ikon kuliner yang diwariskan turun-temurun. “Dari dulu, orang yang lewat sini pasti berhenti makan pengkang,” ujarnya sambil tersenyum. “Kalau tidak, rasanya perjalanan belum lengkap.”

- Advertisement -

Kue Ketan yang Menyimpan Ingatan Rantau Melayu

Seperti banyak makanan tradisional Indonesia, pengkang berakar pada sesuatu yang sederhana: beras ketan, santan, dan ebi. Tetapi di tangan masyarakat Melayu Kalimantan Barat, bahan yang tampak biasa itu berkembang menjadi hidangan yang sangat khas—mirip lemper berbentuk segitiga, mengingatkan pada bacang, jadah, atau uli, namun dengan karakter yang benar-benar berbeda.

Disebut pula lempar atau pulut bakar, pengkang dibungkus daun pisang dalam bentuk segitiga. Dua bungkus pengkang kemudian dijepit menggunakan bilah bambu sebelum dibakar perlahan di atas bara. Teknik ini tidak hanya memberi bentuk, tetapi juga identitas. Daun pisang yang hangus di bagian luar memberi aroma smokey tipis, sementara bagian dalam tetap lembut, kenyal, dan pulen.

Menurut buku Perempuan Saudagar Pengkang; Dari Sabuk Kathulistiwa dan Ragam Kudapan Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan, nama “pengkang” berasal dari kebiasaan masyarakat Cina menyebut kue ketan bakar: “peng” berarti panggang, “kang” berarti kue ketan. Seiring waktu, penyebutan itu melebur menjadi istilah yang dikenal masyarakat Pontianak dan Mempawah hingga kini.

- Advertisement -
Baca Juga :  Nasi Jaha, Kuliner Khas Manado yang Mirip Lemang

Di Desa Peniti, nama itu bahkan menjadi semacam penanda geografis. Hampir semua pelancong yang datang ke Kalimantan Barat, menurut arsip wawancara detikFood, akan menyempatkan diri untuk duduk di Pondok Pengkang Peniti. Dalam sehari, hingga 2.000 jepit pengkang bisa terjual—angka yang membuktikan bahwa makanan sederhana ini telah melampaui status jajanan pasar. Ia telah menjadi ikon perjalanan.

Asap, Bambu, dan Keahlian yang Tak Terlihat

Jika ada yang membuat pengkang begitu istimewa, maka itu adalah jepitannya. Dua bilah bambu yang tampak sederhana itu ternyata dibuat melalui proses panjang yang nyaris ritmis, seperti ritual yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jepitan bambu di Pondok Pengkang bahkan memiliki hak paten—bukan hanya sebagai merek dagang, tetapi juga sebagai simbol teknik tradisional yang tidak ingin hilang ditelan modernisasi.