Menilik Tradisi Kematian Suku Kajang, Satu dari Lima Suku Paling Ditakuti di Indonesia

"Olukkung allisako’ riujung pontu attijjoko rimata jarung alleteko ridaenglampu annosoko rikaraeng mappasila".

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Tradisi Kematian Suku Kajang. Tersirat makna yang berarti pergilah engkau kealammu dan ikutilah jalan menuju ke tempat kediamanmu yaitu akhirat. Itulah kalimat yang diucapkan ketika mengantar jenazah ke peristirahatan terakhirnya.

Suku kajang merupakan salah satu dari lima suku yang paling ditakuti di Indonesia. Beragam tradisi dalam suku ini yang membuatnya berbeda dengan adat dan budaya masyarakat lainnya ialah pada prosesi setelah kematian seseorang.

Tradisi kematian masyarakat suku kajang dimulai saat upacara pemakaman sampai hari ke-100. Sedangkan pada saat dimandikan sampai disalatkan, hampir sama dengan ajaran Islam pada umumnya.

Proses tersebut dapat dilihat dari nilai-nilai adat yang begitu sakral dan masih dipegang teguh sampai sekarang oleh masyarakat. Selain itu, keluarga terdekat harus memakai pakaian serba hitam dan hanya menggunakan tank top dan sarung hitam sampai hari ke-100.

Satu hari setelah kematian, keluarga mendatangi kuburan selama tiga kali dalam sehari yaitu pagi, siang dan sore harinya untuk menziarahi keluarga yang telah meninggal. Mereka didampingi oleh tupparenta tumate (pemangku adat) selama tiga hari berturut-turut.

Makna yang terkandung dalam ritual ini yaitu agar orang yang telah meninggal tidak dilupakan begitu saja, serta dibacakan doa untuk keselamatan dan dipandu oleh tupparenta tumate.

Keluarga yang berduka wajib menjaga tempat pembakaran kecil (masyarakat sekitar menyebutnya dupa). Dupa ini dipercaya sebagai penerang di alam kubur untuk orang yang meninggal.

A Bilang Bangngi (Menghitung Malam)

Setelah acara takziyah hari ketiga selesai, keluarga dan kerabat akan mendatangi kuburan setiap dua kali sehari yaitu pagi dan sore sampai hari ke-20 selesai. Kegiatan memperingati hari kematian ini dimulai sejak hari ketiga, tujuh hari kematian, 14 hari, 20 hari, 40 hari, 70 hari, 80 hari, hingga hari ke-100 yang merupakan puncak peringatan kematian.

Baca Juga :  Suku Mante, Manusia Kerdil Rumpun Melayu Proto yang Misterius

Setiap peringatan hari di atas, para keluarga dan kerabat bersama tupparenta tumate akan mengunjungi makam dan melakukan ritual. Sementara itu, hari ke-20 atau ‘akkalli’ merupakan pelepasan bilik rumah bagian kiri dan kanan, tujuannya agar angin leluasa berhembus dalam rumah.

Pada malam ini dilakukan ritual a’basing atau melantunkan seruling dan a’kelong (orang menyanyi) sampai subuh tiba.

Tradisi Kematian Suku Kajang
Tradisi Kematian Suku Kajang

Tradisi dan kepercayaan yang dianut masyarakat suku kajang sangatlah kental, banyak hal yang tidak bisa dilanggar oleh keluarga (istri/suami, anak, cucu, bahkan orang yang masuk ke dalam rumah) orang yang meninggal.

Misalnya, tidak boleh membawa cabai ke dalam rumah karena masyarakat setempat percaya memakan cabai di dalam rumah akan membuat orang yang meninggal kepedisan di alam kubur.

Bagikan

Bantu kami menyabarkan kaindahan Indonesia.

BACA JUGA

- Advertisement -