Kerbau Toraja, Kendaraan Menuju Puya

Diyakini semakin banyak kerbau yang dikurbankan semakin cepat dosa jenazah terhapuskan dan mendapat tempat di sisi-Nya.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, kerbau punya tempat khusus bagi masyarakat. Kerbau  melambangkan kesejahteraan sekaligus menandakan tingkat kekayaan dan status sosial pemiliknya. Karena itulah, di daerah ini seekor kerbau bisa berharga lebih dari Rp1 miliar.

Kerbau dengan harga itu bukan kerbau biaya. Jenis yang bisa mencapai harga Rp1 miliar disebut ‘saleko‘ dengan ciri fisik tanduk kuning, lingkaran putih di bola mata, serta kulit berwarna kombinasi hitam dan putih.

Budayawan Otto Mitting bilang mengatakan, orang Toraja mengenal 24 jenis kerbau, bedasarkan corak pada tubuh kerbau. Dalam bahasa Toraja, kerbau disebut tedong.

Tedong bonga adalah kerbau dengan kasta tertinggi. Dinamai bonga karena memiliki belang di sekujur tubuh. Tedong bonga yang unik terdiri dari beberapa jenis berdasarkan belang yang ada di tubuhnya. Misalnya  bongsa sanga’daran, yaitu kerbau belang bagian mulut didomisasi warna hitam.

Lalu ada juga bonga randan dali’ jika warna alis mata hitam. Juga bonga lotong boko’ yang memiliki warna hitam di bagian punggung. Untuk Tedong bonga dengan nilai tertinggi adalah tedong saleko atau kerbau belang terbaik. Kulit didominasi warna putih pucat, dengan bercak atau belalang hitam di sekujur tubuh.

Tedong saleko, memiliki harga fantastis karena lazim digunakan untuk ritual, dan sangat sulit untuk mendapatkan kerbau ini. Dibanding kerbau lain, proses pembiakan Tedong saleko relatif susah karena masa birahi betina yang sulit diketahui, tidak mudah mendapatkan seekor anak saleko.

Di Toraja, kerbau lain yang juga bisa berharga ratusan juta rupiah adalah yang memiliki kelangkaan-kelangkaan, seperti tanduknya sangat lebar (kerbau balian), tanduknya mengarah ke bawah (kerbau sokko), satu tanduk ke atas satu tanduk ke bawah (kerbau taken langi), atau bahkan tidak bertanduk sama sekali.

Baca Juga :  Suku Mante, Manusia Kerdil Rumpun Melayu Proto yang Misterius

Kerbau-kerbau langka itu memegang peran penting dalam upacara adat, seperti upacara Rambu Solo (pemakaman). Makin langka kerbau yang dikorbankan, itu menunjukan makin tingginya strata sosial orang yang dimakamkan. Meski demikian, kerbau-kerbau yang tidak langka juga bisa berharga tinggi kalau menjadi jawara dalam acara adu kerbau.

Kendaraan Menuju Puya

Kerbau bagi masyarakat Toraja merupakan lambang kemakmuran. Kerbau dapat ditemukan pada tongkonan diukiran pa’ tedong dan juga susunan tanduk pada tiang penopang.

Pada tulak somba tongkonan dapat dilihat tanduk tedong yang disusun rapi dari bawah ke atas. Jumlah tanduk yang dipajang menunjukkan bahwa pemilik tongkonan pernah melakukan upacara rambu solo’ dengan mengorbankan sejumlah kerbau.

Mengapa dalam upacara rambu solo’, banyak kerbau yang dikorbankan?

Seseorang yang sudah meninggal tapi prosesi rambu solo’-nya belum rampung, masih dianggap sebagai orang yang sakit dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup. Untuk merampungkan prosesi rambu solo’ banyak persiapan dan kegiatan yang dilakukan. Rambu solo’ merupakan prosesi yang sangat kompleks.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

[gs-fb-comments]

BACA JUGA

- Advertisement -