Kaijo, Ritual Penjaga Keseimbangan Ekosistem Pertanian di Nagekeo

Masyarakat Adat Mbay mempercayai bahwa Kaijo adalah sesuatu yang memiliki kekuatan mistik yang bisa mengatasi setiap serangan hama terhadap tanaman jagung, padi dan tanaman lainya, seperti belalang, walangsangit, ulat, tikus dan sebaganya. Ritual adat Kaijo hanya bisa dilakukan setahun sekali, selama lima malam.

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Secara filosofis Kaijo merupakan sebuah kesadaran kosmik. Sebuah level kesadaran berpikir tertinggi dalam komunitas adat Mbay di masa lalu. Mereka secara sadar memahami bahwa manusia dengan alam semesta merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian menjaga keseimbangan alami mutlak dilakukan khususnya dalam hal menghadapi ancaman serangan hama tanaman.

Kata Kaijo berasal dari dua suku kata yaitu Kaik dan Jo’o. Kaik memiliki arti membiarkan, merelakan. Sedangkan Jo’o berarti membatalkan atau menghentikan.

Membangun Kesepakatan bersama, antara Dinas Pariwisata Nagekeo, Pemangku Adat Mbay dan Dimensi Indonesia sebagai Mitra Kerja Pemerintah Nagekeo dalam menyambut Festival Kaijo One Be.

Pengertian kata Kaik

Berdasarkan tutur masyarakat adat Mbay kata Kaik adalah sebuah cara pandang yang melihat hama sebagai mahluk ciptaan yang diberi hak hidup oleh sang pencipta yaitu Tuhan itu sendiri (Mori Karaeng). Meskipun manusia sebagai makhluk ciptaan dengan kemampuan, derajat yang lebih tinggi dari semua mahluk ciptaan, mereka tetap menyadari bahwa semua kuasa hanyalah milik Tuhan semata.

- Advertisement -

Ketika hal itu dilanggar, maka yang terjadi adalah malapetaka. Serangan hama hebat akan terjadi dan tidak dapat dibendung dengan cara apapun. Dampak dari serangan itu adalah gagal panen dan kelaparan yang berkepanjangan.

Oleh sebab itu, para leluhur orang Mbay mengambil sikap untuk membiarkan hama-hama itu tetap hidup menurut kehendak Tuhan. Manakala sewaktu-waktu terjadi serangan terhadap pertanian, mereka hanya boleh menyingkirkan melalui upacara adat yang penuh dengan nilai-nilai kearifan, magis religius dan sakral.

Persiapan Pelaksanaan Ritual Kaijo.

Pengertian Jo’o

JO’O adalah suatu tindakan membatalkan atau menghentikan pergerakan dari setiap penyebab terjadinya suatu peristiwa, kejadian yang dinilai merugikan manusia. Dari kedua suku kata ini kemudian dirangkai menjadi satu kata yakni Kaijo.

- Advertisement -

Tentu semua ini tidak terlepas dari Tuntunan Toing Not Maha Pencipta. Bermula dari musibah yang merugikan hambanya, maka sebagai bentuk kasih sayang-Nya, Tuhan memberi petunjuk kepada para leluhur orang Mbay, bagaimana cara untuk menyingkirkan hama perusak tanaman.

Baca Juga :  Nasu Palek, Tradisi Potong Telinga Suku Dani saat Keluarga Meninggal

Dalam pelaksanaan ritual kaijo, setiap jenis hama hanya bisa ditangkap hidup-hidup, tanpa harus dibunuh, yang kemudian dilakukan ritual.

Tujuan Kaijo

Secara total masyarakat Adat Mbay mempercayai bahwa Kaijo adalah doa yang memiliki kekuatan mistik yang bisa menghentikan dan mengusir dari setiap serangan hama terhadap tanaman mereka. Apabila Kaijo tidak dilaksanakan maka akan berakibat buruk terhadap hasil panen mereka. Kaijo sendiri mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang menyentuh segala aspek penting dalam kehidupan manusia.

- Advertisement -
Keharmonisan pola hubungan antara manusia dan alam semesta ini harus diwujudkan dalam bentuk sebuah ritual adat. Nilai-nilai luhur diuraikan secara jelas dan detil agar dapat dipahami dan dimengerti makna dan tujuan, sehingga semua merasa memiliki serta bertanggung jawab.

Dapat dilihat dari aspek lingkungan, pelaksanaan Kaijo ini berdasarkan pandangan masyarakat adat Mbay yang bertujuan untuk membersihkan hama tanaman dan menghilangkan pengaruh buruk dari aspek niskala, jika kita melihat lebih jauh, tentunya tradisi ini sangat membantu dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

Di saat ini, pertanian lebih cenderung menggunakan pestisida untuk mengatasi hama, disatu sisi pestisida mengandung kimia berbahaya yang dapat mencemari lingkungan dan petani itu sendiri. Dengan demikian melalui ritual Kaijo merupakan salah satu solusi untuk mencegah hama tanpa merusak lingkungan, sekaligus tetap menjaga dan melestarikan tradisi leluhur Maysrakat Mbay.

Pelaksanaan Kaijo

Berdasarkan hitungan kalender adat komunitas Mbay, Ritual Kaijo dilakukan selama lima malam di kampung adat Nggolo Mbay. Penetapan Kaijo selalu merujuk pada musim hujan. Jika musim hujan lebih cepat, maka ritual Kaijo akan dilaksanakan berdasarkan umur tanaman jagung. Dalam bahasa Mbay disebut “Bhoke Mese/Tembe Bhadhor” (menjelang berbunga dan berisi), pada masa ini tanaman tersebut sangat rentan terhadap penyakit. Dengan demikian Kaijo harus dilaksanakan.

Wa’i Kaijo merupakan rangkaian kegiatan berupa tarian, nyanyian dan doa pasitaing, berbalas pantun sampe sarot yang diringi dengan alat musik tradisional seperti Par, yang terbuat dari bambu dan goro-goro yang dilengkapi dengan aksesoris adat (Sorang dan Jambok Ekur).

Menurut pahaman orang Mbay bahwa jagung diibaratkan seorang Ibu yang sedang mengandung, Kaijo sebagai doa selamat agar janin yang ada di dalam kandungan ibu dapat bertumbuh subur, sehingga melahirkan seorang bayi yang sehat tanpa cacat secara fisik maupun mental. Begitu pula jagung dan tanaman pertanian lainya, apabila ingin mendapatkan hasil panen yang berlimpah, maka haruslah dilakukan ritual Kaijo.

Baca Juga :  Kampung Adat Boamara dan Rumah Adat Strata Tertinggi

Rangkaian Ritual Kaijo

Pembukaan ritual Kaijo diawali dengan Koro Ala Ulu Ngata” di rumah Nga-ndung di pagi hari. Pelaksanaan ini tidak boleh meliwati jam 12.00 siang. Sebab di pagi hari Tuhan dan arwah nenek moyang turut hadir untuk mendengar, merestui, mengabulkan segala doa pasitaing dan permohonan mereka Tusituming Somba Sekung.

Wa’i Kaijo merupakan rangkaian kegiatan berupa tarian, nyanyian dan doa pasitaing, berbalas pantun sampe sarot yang diringi dengan alat musik tradisional seperti Par, yang terbuat dari bambu dan goro-goro yang dilengkapi dengan aksesoris adat (Sorang dan Jambok Ekur).

Kemudian dilanjutkan pada malam hari yaitu Wa’i Kaijo. Wa’i Kaijo merupakan rangkaian kegiatan berupa tarian, nyanyian dan doa pasitaing, berbalas pantun sampe sarot yang diringi dengan alat musik tradisional seperti Par, yang terbuat dari bambu dan goro-goro yang dilengkapi dengan aksesoris adat (Sorang dan Jambok Ekur). Hingga malam ke empat dengan kegiatan yang sama hingga pagi hari.

Wa’i Kaijo dilakukan secara bersama-sama, dipimpin oleh tetua adat yang memiliki kemampuan dalam seni budaya dan paham makna dari setiap gerakan kaki, ungkapan doa, sampe sarot (pantun berbalas pantun) dan irama lagu.

Generasi Muda yang penuh semangat.

Pada malam ke lima, sebagai malam puncak dari rangkaian Ritual Kaijo. Seluruh masyarakat Mbay yang memiliki lahan pertanian wajib membawa hama-hama tersebut ke tempat ritual yang diisi dalam “Teru” (Bambu, tempat mengisi hama), kemudian bambu yang berisi hama tersebut digantung di pohon “Nga-ndung-Moles” (tempat seremonial adat di tengah kampung).

Pada pagi subuh di malam ke lima dilakukan ritual penutup yaitu Koro “Podho Nawung” yaitu hama-hama akan diantar menuju suatu tempat yang disebut “Wewo Inewesan” tempat asal usul hama seperti Belalang, Ulat, Tikus, dan hama lainnya yang kemudian ditutup dengan Puilebhang.

Generasi Perempuan Mbay yang energik.

Dalam puilebhang ditandai dengan mebelah buah kelapa muda lalu airnya disiramkan ke tanah agar tanah kembali dingin, subur dan bersahabat. Air kelapa sebagai simbol kehidupan bagi umat manusia dan juga diyakini melalui air kelapa akan membersihkan bumi.

Baca Juga :  Perjalanan Panjang Tari Tea Eku Boawae Tahun 1979 Hingga Kini

Naskah ini dirangkum Dimensi Indonesia dari beberapa narasumber

- Advertisement -