Bertemu Ular Pemalu yang Mematikan di Bukit Watundoa

Berdasarkan cerita, bahwa di sekitar bukit Watundoa terdapat banyak ular dengan variasi warna yang menarik. Saya tertarik untuk membuktikan apakah itu benar-benar ada? Dari hasil yang saya temukan dilapang hanya terdapat satu jenis ular yaitu Ular Laut Belcher.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Cuaca malam itu cukup bersahabat. Bintang langit masih bercahaya sejak magrib. Kami baru mempersiapkan diri untuk pergi ke sana. Tentu saya tidak sendiri, bersama Rafik dan Udin yang lebih mengenal tempat itu. Namun, mengapa harus membawa pukat? Terlalu merepotkan perjalanan.

Nyatanya mereka berdua adalah pecinta laut. Sangat pandai menangkap ikan menggunakan perangkap besar bernama pukat. Sepertinya mereka tak takut. Dihadapan saya, ini air yang cukup dalam. Mereka masih saja tenang malah semakin bahagia.

Menuju Translok 

Dari Desa Tonggurambang, saya harus berhenti di Kampung Ladha. Sdr. Udin sedang menikmati segelas kopi. Topik diskusinya tidak lain adalah Mujair Nangadhawe yang manis, lezat dan habis terjual. Sebenarnya saya tidak begitu simpatik pada laut. Tujuan saya bukanlah Ikan, melainkan hanya ingin bertemu ular pelangi di bukit Watundoa.

Semua peralatan sudah disiapkan. Saya membawa pena, buku catatan, kamera, tenda dan lainnya untuk pergi ke sana. Kemampuan saya hanya itu sejauh ini. Menulis, memotret dan suka hal yang berbau alam bebas.

Menuju Watundoa

Terowongan untuk berlindung.

Setelah tiba di Translok, satu jam kami berada di rumah milik Rafik. Minum kopi, makan malam dan penambahan bekal untuk dibawa. Sekarang sudah jam sembilan malam. Saatnya pergi tinggalkan rumah.

Saya benci jalur ini, terlalu berputar-putar mengulur waktu. Harus melewati lahan tambak garam yang dikelola oleh PT. Cheetam yang kemungkinan besar bisa nyasar bagi orang baru. Beruntung, Rafik dan Udin adalah guide yang tidak lupa ingatan. Nyaris, jalan yang bikin pusing, melewati hutan dan lumpur mereka masih ingat dalam kondisi seperti malam itu.

“Orang baru, yang baru pertama kali, kedua kali, ketiga kesini akan tetap nyasar,” kata Udin.

Baca Juga :  Air Terjun Oehala, Air Terjun Bertingkat Anti Galau

“Apakah saya harus berkali-kali kesini agar tidak nyasar,” kataku.

“Iya, kamu harus berkali-kali kesini. Karena Watundoa tempat yang sangat bagus. Tapi harus ingat pesan saya, disini masih sangat mistis. Tidak boleh ribut atau hal lainnya. Beberapa orang pernah meninggal disini. Pada waktu tertentu ketika awan gelap berada tepat diatas bukit, itu bertanda penjaga Watundoa sedang marah,” cerita Udin yang bikin bulu kuduk berdiri.

Gua kecil yang ditinggali ular.

Lupakan cerita mistis. Saya tidak terlalu mempedulikan itu. Kami sudah mendekati Watundoa hampir jam sepuluh malam. Motor yang kami gunakan pun tidak jauh dari situ. Namun sebagai pecinta laut, Rafik dan Udin lebih banyak tenaga, memikul Pukat. Pergi menangkap ikan.

Melihat caranya sepertinya mudah, bentang pukatnya lalu melingkar-lingkar agar ikannya tidak bisa loloskan dirinya. Bahkan saya tidak tahu ukuran berapa pukat yang dipakai itu. Saya hanya berdiri di darat, bermain senter kesana kemari, bernyanyi kecil hilangkan rasa takut, menunggu kapan selesainya, kembali ke tenda, bakar dan makan ikannya lalu tidur.

Bermalam di Bukit Watundoa 

Setelah mendirikan tenda dan menyalakan api unggun. Kami bergegas untuk berkeliling Bukit Watundoa. Tujuan dari perjalanan singkat ini adalah ingin membuktikan atas perkataan beberapa warga, termasuk Udin dan Rafik yang juga warga Waekokak.

Tebing yang Curam.

Baru beberapa meter berjalan, jejak mereka begitu banyak. Berukuran kecil bahkan sebesar paha orang dewasa. Kami harus berhati-hati. Selain karang yang tajam, bebatuan yang tertempel pada dinding bukit sangat rapuh dan mudah jatuh.

Bertemu Ular Pemalu

Foto : Dimensi Indonesia. Ular Laut Belcher beristirahat di malam hari.

Pencarian kami selama hampir tiga puluh menit, akhirnya membuahkan hasil. Lebih ekstra untuk menemukan mereka. Demi membuktikan itu, saya memberanikan diri masuk ke gua-gua kecil seukuran badan saya.

Baca Juga :  Batu Sori, Situs Batu Apung Favorit di Baubau

Seolah bongkahan emas. Saya merasa sangat beruntung kali ini. Temuan pertama adalah ular laut berjenis Belcher (Hydrophis Belcheri). Tidak beda jauh dengan yang pernah saya lihat ketika berkunjung ke pantai Tonggurambang bulan lalu. Gerakan mereka begitu cepat ketika berada di dalam air. Sehingga dengan mudah mendapatkan makanan.

Saat saya mencoba lebih dekat dan mengelus badannya, ternyata sifat ular ini sangat tenang, ramah, tidak agresif dan gerak menghindari saya. Sisiknya lembut, lunak. Tapi tetap berhati-hati sebab ular ini memiliki bisa yang menyebabkan kita pusing, mual, muntah, migrain, sakit perut, diare, kejang bahkan kematian. Biasanya ular ini akan menyerang manusia ketika dirinya merasa sangat terancam.

Belum Memuaskan 

Foto : Dimensi Indonesia. Ular Laut Belcher dengan ukuran sebesar paha orang dewasa.

Kunjungan kali ini tidak begitu memuaskan. Harapan saya lebih banyak temukan selain dari ini seperti yang diceritakan. Tapi sekiranya saya senang dengan temuan ini. Saya harus kembali ke sana untuk memperoleh dokumentasi yang lebih banyak.

Satu hal paling penting saya sampaikan kepada seluruh nelayan dan siapapun itu, ular ini akan menyerang manusia ketika nyawanya sangat terancam. Jika bertemu ataupun tidak sengaja ikut tertangkap di pukat, tidak perlu membunuh, sebab ular ini adalah ular pendendam, melalui mata mereka akan merekam semua peristiwa itu. Dan kapan saja dari kawanan mereka akan kembali menyerang pelaku yang menyebabkan kematian mendadak.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

[gs-fb-comments]

BACA JUGA

- Advertisement -