Rumah Boyang, Rumah Adat Mandar Simbol Kebangsawanan dan Keseimbangan

Rumah adat di Indonesia didominasi oleh jenis rumah panggung, seperti salah satunya yaitu rumah Boyang yang merupakan rumah adat Sulawesi Barat. Rumah Boyang sendiri merupakan rumah adat dari suku Mandar sehingga rumah Boyang sering juga disebut dengan rumah Mandar.

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Rumah Boyang, sebuah rumah adat asal Provinsi Sulawesi Barat, merupakan tempat tinggal bagi suku Mandar yang mayoritas mendiami wilayah tersebut, terutama Mamuju sebagai ibu kota.

Buku “Arsitektur Mandar Sulawesi Barat” (2008) karya Faisal menjelaskan bahwa masyarakat Mandar menyebut rumah tinggal mereka sebagai Boyang. Terdapat dua jenis Boyang, yaitu Boyang Adaq dan Boyang Beasa.

Boyang Adaq dihuni oleh keturunan bangsawan, sementara Boyang Beasa oleh masyarakat umum. Meskipun keduanya memiliki kesamaan dalam struktur bangunan, perbedaan utamanya terletak pada status penghuni.

- Advertisement -

Boyang Adaq diberi ornamen khusus yang mencerminkan identitas dan mendukung tingkat status sosial penghuninya. Ornamen tersebut, seperti tumbaq layar (penutup bubungan), disusun antara tiga hingga tujuh susun. Semakin banyak susunan menunjukkan semakin tinggi derajat kebangsawanan. Di sisi lain, Boyang Beasa memiliki penutup bubungan yang tidak bersusun atau hanya satu susun.

Perbedaan juga terlihat pada bagian tangga rumah. Tangga Boyang Adaq terdiri atas dua susun, dengan susunan pertama memiliki tiga anak tangga, sedangkan susunan kedua memiliki sembilan atau sebelas anak tangga. Kedua susunan tersebut diantarai oleh pararang. Sebaliknya, tangga Boyang Beasa tidak bersusun atau hanya terdiri dari satu susunan.

Jenis-jenis Rumah Boyang

Rumah Boyang
Jenis-jenis Rumah Boyang

Berdasarkan informasi dari Buku Arsitektur Mandar Sulawesi Barat (2018), Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, terdapat dua varian rumah Boyang, yakni Boyang Adaq dan Boyang Beasa.

- Advertisement -

Boyang Adaq menjadi tempat tinggal bagi kaum bangsawan, sementara Boyang Beasa ditempati oleh masyarakat umum. Meskipun secara arsitektur bangunan keduanya serupa, perbedaan status sosial tercermin melalui ornamen khusus pada rumah Boyang Adaq.

Ornamen khas seperti Tumbaq Lajar pada bagian depan atap rumah menjadi penanda status sosial. Rumah Boyang Adaq memiliki Tumbaq Lajar yang disusun bertingkat (3 hingga 7 susun), mencerminkan tingkat kebangsawanan pemilik rumah. Jumlah susunan ini menjadi indikator tinggi rendahnya status sosial, di mana semakin banyak susunan, semakin tinggi status sosialnya.

Baca Juga :  Banua Mamasa, Rumah Adat dengan Banyak Pesan dan Filosofi Hidup

Anak tangga juga menjadi ornamen berbeda, khususnya pada rumah Boyang Adaq. Anak tangga dibuat bersusun 2, dengan bagian bawah terdiri dari 3 anak tangga, dan bagian atas antara 9 hingga 11 anak tangga.

- Advertisement -

Adanya pararang, area lantai berukuran sekitar 1×1 meter, antara tingkat pertama dan kedua, memiliki fungsi untuk menyimpan alas kaki sebelum memasuki rumah. Pada rumah Boyang Beasa, ornamen ini tidak dibuat bertingkat.

Masyarakat suku Mandar memberikan makna yang dalam terhadap susunan tingkat dan ornamen khusus ini. Bahkan, dalam sejarahnya, pembangunan rumah adat dengan Tumbaq Lajar yang melebihi kadar kebangsawanan pada masa pemerintahan Arajang Balanipa ke-53 Hj Andi Saharibulang, maka dipastikan rumahnya akan digusur.

Bentuk dan Desain Khas Bangunan Rumah Adat Mandar

Gaya arsitektur dan struktur bangunan rumah adat Mandar menonjolkan keunikan tersendiri. Baik rumah Boyang Adaq maupun rumah Boyang Beasa, keduanya memiliki kesamaan dalam bentuk dan struktur yang mencirikan identitas budaya Mandar.

Secara umum, rumah adat Mandar merupakan bangunan berbentuk segi empat dengan konsep rumah panggung. Tiang-tiang utama yang menopang bangunan terbuat dari balok-balok besar dengan tinggi sekitar 2 meter. Uniknya, tiang-tiang ini tidak tertanam langsung ke dalam tanah, melainkan disangga dengan batu untuk mencegah kecepatan pembusukan.

Struktur rumah Boyang dapat dibagi menjadi tiga lapisan, dimulai dari bagian atas hingga bagian bawah. Bagian paling atas disebut Tapang, yang mencakup atap dan loteng. Loteng, yang terletak di atas ruang tamu, sering digunakan sebagai tempat penyimpanan beras atau gabah. Pada masa lampau, Tapang juga berfungsi sebagai tempat pemingitan bagi calon pengantin perempuan.

Bagian tengah disebut Roang Boyang, merupakan ruang tempat tinggal penghuni rumah. Bagian paling bawah, atau Naong Boyang, adalah bagian kolong rumah.

Baca Juga :  32 Ukiran Toraja dan Makna Filosofinya

Struktur rumah Boyang dari depan ke belakang terdiri dari tiga petak, yaitu Samboyang (ruang depan), Tangnga Boyang (ruang tengah), dan Bui Boyang (bagian belakang).

  1. Samboyang berfungsi sebagai ruang tamu dan pusat pertemuan pria pada acara hajatan. Ruangan ini memerlukan perhatian khusus terkait kebersihannya. Antara Samboyang dan Tangnga Boyang terdapat sekat bernama Passollor, yang menjadi batas untuk area tamu. Melewati Passollor tanpa izin dianggap kurang sopan.
  2. Tangnga Boyang menjadi pusat aktivitas dan interaksi sosial keluarga. Di sini, kegiatan seperti menonton TV dan bercengkerama sering dilakukan. Bagian ini juga berisi kamar tidur utama untuk kepala keluarga, istri, dan anak-anak kecil.
  3. Bagian terdalam dari rumah adat Mandar, Bui’ Boyang, merupakan tempat bagi kamar-kamar tidur yang diperuntukkan untuk orang tua dan anak-anak perempuan. Hal ini dilakukan untuk memberikan perlindungan maksimal bagi mereka.

Ruang Tambahan pada Rumah Boyang Mandar

Lotang tambahan pada rumah Boyang Mandar memperkaya fungsi dan manfaat bangunan, terdiri dari empat bagian yang memiliki peran masing-masing:

  1. Tapang adalah ruangan di loteng rumah yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan. Pada masa lampau, Tapang juga digunakan sebagai kamar tersendiri untuk calon pengantin, mempertimbangkan lokasinya yang tersembunyi dan dapat menjaga kesucian calon pengantin.
  2. Paceko merupakan dapur dalam rumah Boyang. Selain berfungsi sebagai tempat memasak, di bagian ini terdapat kamar mandi yang disebut pattetemeangang. Paceko berperan sebagai pusat kegiatan memasak sekaligus tempat penyimpanan persediaan makanan.
  3. Lego-lego adalah bagian depan rumah atau teras dari rumah Boyang. Berfungsi sebagai tempat bersantai atau area duduk bagi tamu sebelum memasuki rumah utama. Lego-lego menciptakan suasana nyaman dan ramah sebelum adanya interaksi di dalam rumah.
  4. Naong Boyang adalah sebutan untuk bagian kolong rumah. Fungsinya sangat beragam, mulai dari kandang ternak hingga tempat penyimpanan berbagai perkakas pertanian atau nelayan. Bagian ini mencerminkan adaptabilitas rumah Boyang dalam memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari masyarakat Mandar.
Baca Juga :  Kisah Ta Ina Luhu dari Raja di Negeri Luhu

Dengan adanya lotang tambahan ini, rumah Boyang tidak hanya memperlihatkan keindahan arsitektur, tetapi juga memberikan solusi fungsional bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Mandar.

Dengan begitu, rumah adat Mandar menampilkan tidak hanya keindahan arsitektur dan struktur bangunan, tetapi juga menggambarkan sistem tata ruang dan fungsionalitas yang mendalam.

Makna dan Filosofi Mendalam Rumah Adat Mandar

Rumah Adat Mandar, tidak hanya memancarkan keindahan arsitektur, tetapi juga mengandung makna dan filosofi yang mendalam. Dalam rumah ini, sekat Passollor menunjukkan pentingnya menjaga etika di dalamnya, mencerminkan nilai moral masyarakat Mandar.

Susunan Tumbaq Lajar antara Boyang Adaq dan Boyang Beasa mencerminkan struktur sosial dan nilai-nilai kebangsawanan yang dihormati. Ornamen penghias rumah mencirikan nilai-nilai keagamaan dan spiritualitas, sementara hiasan rumah menciptakan keharmonisan estetis yang dihargai dalam budaya Mandar.

Filosofi struktur bangunan rumah ini membawa makna mendalam, dengan konsep “da’dua tassisara, tallu tammallaesang” yang menyoroti hubungan tak terpisahkan antara hukum dan demokrasi (dua) serta kebutuhan saling mendukung antara ekonomi, keadilan, dan persatuan (tiga).

Dengan menekankan pentingnya penegakan hukum dan demokrasi, rumah adat Mandar mengajarkan kesadaran akan prinsip-prinsip demokratis. Nilai-nilai keadilan dan persatuan diakui sebagai elemen krusial dalam menciptakan keseimbangan ekonomi dan harmoni sosial di tengah masyarakat Mandar.

Sehingga, rumah adat ini bukan hanya sebagai struktur fisik, melainkan juga sebagai simbol budaya yang mewariskan nilai-nilai mendalam kepada generasi penerus.

- Advertisement -