Asal Usul Tuyul, Sosok Dedemit Berwujud Anak Kecil

Tuyul, menurut mitologi masyarakat Jawa, adalah makhluk halus yang berwujud sebagai orang kerdil atau anak kecil dengan kepala yang gundul.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Asal Usul Tuyul. Dalam konteks mitologi Jawa, tuyul dikenal sebagai makhluk halus yang memiliki kecenderungan mencuri uang.  Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, tuyul adalah sosok makhluk halus yang berwujut anak kecil, gundul dan telanjang dada.

Ada pula yang menggabarkan berwujud anak kecil dengan rambut yang berantakan, kulit pucat, dan tidak memiliki hidung. Mereka sering dihubungkan dengan perilaku jahil, seperti mencuri uang atau barang berharga.

Namun, ada juga pandangan yang berbeda yang menyatakan bahwa tuyul dapat memiliki peran positif, seperti penjaga rumah atau memberikan keberuntungan kepada pemiliknya.

- Iklan -

Lalu dari mana asal usul tuyul hingga menjadi sosok yang dikaitkan sebagai cara pintas untuk menjadi kaya?

Untuk memahami penjelasan ini, kita perlu kembali ke tahun 1870. Pada masa itu, Belanda menerapkan kebijakan pintu terbuka atau liberalisasi ekonomi sebagai pengganti sistem tanam paksa. Meskipun perubahan ini awalnya dianggap memberikan dampak positif dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun kenyataannya tidak demikian.

Menurut penelitian Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam buku “Ekonomi Indonesia 1800-2010” (2012), liberalisasi ekonomi malah menciptakan rezim kolonial baru di mana terjadi pengambilalihan perkebunan rakyat untuk diubah menjadi perkebunan besar dan pabrik gula.

- Iklan -

Situasi ini berdampak negatif pada kehidupan masyarakat, terutama petani kecil di Jawa yang semakin terperosok ke dalam jurang kemiskinan karena kehilangan kendali atas lahan perkebunan.

Di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang mendapatkan keuntungan dari sistem ini, yaitu pedagang, baik dari kalangan pribumi maupun Tionghoa, yang dengan cepat menjadi kaya. Kekayaan yang cepat ini menyebabkan keheranan di kalangan petani yang mengalami kesulitan ekonomi. Petani bingung mengenai asal-usul kekayaan tiba-tiba mereka.

Baca Juga :  Deskripsi Kerajaan Islam Ende Berdasar Peninggalan

Perlu diketahui bahwa pada saat itu, petani hidup dalam sistem subsisten, seperti yang dijelaskan oleh Ong Hok Ham dalam buku “Wahyu yang Hilang Negeri Yang Guncang” (2019). Mereka bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sendiri. Jika ada surplus hasil tani, mereka akan memberikannya sebagai upeti atau menjualnya.

- Iklan -

Dampaknya, pandangan petani adalah bahwa kenaikan kekayaan seharusnya melalui proses yang transparan dan dapat dilihat oleh semua orang. Namun, petani tidak melihat upaya keras yang dilakukan oleh orang kaya baru tersebut.

Mereka tidak dapat membuktikan asal usul kekayaan tersebut jika ditanya oleh petani lain. Akibatnya, muncul rasa iri dan kecemburuan terhadap pedagang karena mendapatkan kekayaan dengan mudah.

Menurut George Quinn dalam artikel “An Excursion to Java’s Get Rich Quick Tree” (2009), petani selalu beranggapan bahwa kekayaan harus dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, ketika orang kaya tidak dapat menjelaskan asal-usul kekayaannya, petani merasa iri dan menduga bahwa uang tersebut hasil pencurian.

Mengingat pandangan mistik pada masa itu, petani meyakini bahwa pencurian kekayaan terjadi karena kerjasama antara orang kaya dan makhluk supranatural, seperti tuyul. Tuyul adalah sosok mitologi Jawa berupa makhluk halus atau hantu berbadan kecil dan botak yang dapat dipelihara.

Sebagai hasilnya, petani yang iri cenderung menuduh bahwa orang kaya baru memperoleh kekayaan dengan cara yang tidak benar. Tuduhan ini, seperti yang ditulis Ong Hok Ham dalam buku “Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong” (2002), menyebabkan pedagang dan pengusaha sukses kehilangan status di masyarakat.

Mereka dianggap “hina” karena dianggap memperoleh kekayaan melalui cara yang tidak sah, yaitu dengan bersekutu dengan setan. Padahal, semua ini terjadi sebagai dampak dari perubahan kebijakan kolonial Belanda yang tidak diinginkan oleh pengusaha.

Baca Juga :  Pejabat Hindia Belanda Kritik Soal Tradisi Baju Baru¬†

Sikap tidak suka petani terhadap orang yang menjadi kaya secara tiba-tiba tidak hanya berdampak pada hubungan personal, melainkan juga berpengaruh pada transaksi barang oleh orang kaya tersebut.

Orang kaya cenderung membeli barang yang tidak mencerminkan kekayaan mereka, seperti emas atau barang mewah. Jika mereka membeli tanah atau rumah, mereka akan dituduh memelihara setan atau tuyul oleh petani.

Tuduhan tanpa dasar ini kemudian meningkatkan popularitas tokoh tuyul sebagai subjek mistis yang terus populer hingga saat ini di Indonesia. Terlebih lagi, masyarakat Indonesia yang hidup secara agraris selama bertahun-tahun terus memelihara imajinasi dan asumsi bahwa tuyul digunakan untuk mencapai kekayaan. Itulah cerita asal usul tuyul.

- Iklan -

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

BAGIKAN