Watu Embu Poco Ndeki, Penjaga Kesuburan di Atap Pegunungan Flores

Jelajahi Watu Embu Poco Ndeki di Manggarai Timur, NTT, situs budaya unik dengan batu simbol laki-laki dan perempuan yang menjadi bagian dari ritual meminta hujan, mitologi kesuburan, dan wisata alam pegunungan Flores.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di balik rimbunnya hutan tropis Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, terdapat sebuah lanskap yang mempertemukan geologi, mitologi, dan spiritualitas dalam satu ruang yang sama. Di puncak Gunung Poco Ndeki, sekitar dua jam perjalanan kaki dari Kampung Sere, berdiri sepasang batu yang selama berabad-abad dipandang bukan sekadar bentukan alam, melainkan simbol asal-usul kehidupan.

Masyarakat setempat menyebutnya Watu Embu Haki dan Watu Embu Kodi Fai. Keduanya dipercaya merepresentasikan unsur maskulin dan feminin—laki-laki serta perempuan—yang dalam kosmologi masyarakat Manggarai menjadi lambang keseimbangan sekaligus sumber kesuburan alam.

Bagi pendatang, keduanya mungkin hanya tampak sebagai formasi batu yang tidak biasa. Namun bagi masyarakat adat, tempat ini adalah ruang sakral tempat manusia berkomunikasi dengan alam dan para leluhur.

- Advertisement -

Dua Batu, Dua Simbol Kehidupan

Puncak Poco Ndeki berada di kawasan perbukitan yang menghadap hamparan pegunungan Flores bagian timur. Jalur menuju lokasi melewati kebun kopi, kakao, hingga hutan tropis yang masih rapat, menghadirkan perjalanan yang perlahan membawa pengunjung meninggalkan hiruk-pikuk dunia modern.

Sekitar seratus meter terpisah satu sama lain, berdiri dua batu yang menjadi pusat perhatian.

Watu Embu Haki berupa batu tegak yang menyerupai simbol kelamin laki-laki. Tingginya hanya sekitar 30 sentimeter dengan diameter sekitar 15 sentimeter. Keunikannya terletak pada sifat batu tersebut yang dapat digoyangkan ke berbagai arah, tetapi tetap kokoh menancap di tanah dan tidak pernah dapat dicabut.

- Advertisement -

Sementara itu, Watu Embu Kodi Fai berada di dalam sebuah gua batu kecil. Bentuknya menyerupai simbol perempuan dengan permukaan berbentuk segitiga. Yang membuatnya semakin menarik, permukaan batu itu selalu lembap dan mengeluarkan air meskipun gua tempatnya berada tidak dialiri rembesan hujan maupun mata air.

Baca Juga :  Ritual Beluluh, Tradisi Sakral Erau Adat Kutai dan Sejarahnya

Fenomena tersebut telah lama menjadi bagian dari cerita turun-temurun masyarakat setempat, sekaligus memperkuat nilai sakral situs ini.

Ketika Alam Menjadi Tempat Memohon Hujan

Di Poco Ndeki, batu-batu ini bukanlah objek wisata semata. Selama ratusan tahun, keduanya menjadi pusat ritual adat ketika musim kemarau berlangsung terlalu panjang.

- Advertisement -

Saat ladang mulai mengering dan hujan tak kunjung datang, para tetua adat mendaki gunung membawa sesaji berupa telur ayam, beras merah, sirih, pinang, serta tembakau. Persembahan itu dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus permohonan agar hujan kembali menyuburkan tanah.

Dalam prosesi tersebut, Watu Embu Kodi Fai dipercaya melambangkan rahim perempuan—tempat asal kehidupan dan kesuburan. Para tetua kemudian menusukkan sepotong kayu ke bagian batu yang menyerupai liang rahim.

Jika ujung kayu keluar dalam keadaan basah, masyarakat meyakini hujan akan turun dalam dua hingga tiga hari berikutnya. Sebaliknya, jika tetap kering, mereka percaya alam masih belum memberikan pertanda.

Bagi masyarakat adat, ritual ini bukan sekadar ramalan cuaca, melainkan bentuk dialog spiritual antara manusia, alam, dan kekuatan yang menjaga keseimbangan kehidupan.

- Advertisement -