Festival Budaya Saijaan Kotabaru: Makna, Hikayat, dan Tradisi Bajau

Ada alasan mengapa laut menjadi begitu penting dalam Festival Budaya Saijaan. Bagi masyarakat pesisir, laut membentuk lebih dari sekadar lanskap.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Laut bukan sekadar hamparan air bagi masyarakat pesisir Kalimantan Selatan. Di sanalah kehidupan tumbuh, tradisi diwariskan, dan berbagai kisah tentang hubungan manusia dengan alam terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di Kabupaten Kotabaru, hubungan tersebut menemukan bentuknya dalam Festival Budaya Saijaan. Digelar setiap tahun di wilayah yang dikelilingi perairan, festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan budaya, tetapi juga ruang untuk merayakan keberagaman masyarakat pesisir.

Pada 2026, Festival Budaya Saijaan telah memasuki penyelenggaraan ke-12. Mengusung tema Magic From The Sea, Merajut Budaya, Menyapa Dunia, festival berlangsung pada 22–26 Juli 2026 dengan kawasan Siring Laut sebagai pusat kegiatan.

- Advertisement -

Namun, sebelum memahami festival ini, ada satu kata yang perlu dikenali: Saijaan.

Saijaan dan Filosofi Hidup Bersama

Dalam konteks budaya Kotabaru, Saijaan menggambarkan nilai seiya, sekata, sejalan, dan setujuan. Empat kata tersebut merangkum gagasan tentang kebersamaan, sebuah nilai yang dianggap penting bagi masyarakat Kotabaru yang terdiri atas beragam suku dan latar belakang budaya.

Makna tersebut juga memiliki hubungan dengan Hikayat Saijaan dan Ikan Todak, cerita rakyat yang berkembang di Kotabaru.

- Advertisement -

Dalam hikayat itu, Datu Mabrur dikisahkan bertapa di tengah laut dan memohon sebuah pulau sebagai tempat tinggal bagi keturunannya. Dalam perjalanan spiritualnya, ia berhadapan dengan Raja Ikan Todak. Keduanya kemudian mencapai kesepakatan untuk saling membantu.

Raja Ikan Todak bersama penghuni laut membantu mewujudkan keinginan Datu Mabrur. Dari kisah tersebut kemudian muncul daratan yang dikenal sebagai Pulau Halimun, yang selanjutnya disebut Pulau Laut.

Di balik kisah tersebut tersimpan gagasan tentang berjalan bersama dan saling membantu. Karena itu, Saijaan tidak hanya menjadi nama sebuah festival, tetapi juga simbol kehidupan masyarakat Kotabaru yang beragam namun berusaha menjaga keselarasan.

- Advertisement -
Baca Juga :  Sekaten, Upacara Atas Kelahiran Nabi Muhammad SWA yang Unik

Ketika Kehidupan Bajau Bertemu Laut

Salah satu kebudayaan yang mendapat ruang penting dalam Festival Budaya Saijaan adalah budaya masyarakat Bajau Samah.

Di Kotabaru, salah satu komunitas Bajau berada di Desa Rampa. Masyarakat Bajau secara historis dikenal memiliki hubungan yang sangat erat dengan laut. Di berbagai wilayah Asia, kelompok ini bahkan kerap disebut sea nomads karena sebagian komunitasnya pada masa lalu sangat bergantung pada laut dan menjalani kehidupan dengan berpindah menggunakan perahu.

- Advertisement -

Majalah Dimensi Indonesia:
Edisi Nagekeo

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.

Unduh majalah