Mengulur Naga, Ritual Erau Kutai yang Menghidupkan Legenda Putri Karang Melenu

Ketika tubuh naga akhirnya dihanyutkan ke sungai, yang tersisa bukan sekadar ritual yang telah selesai dilaksanakan. Ada cerita, identitas, dan ingatan yang kembali mengalir bersama Mahakam—menuju generasi berikutnya yang akan kembali mengulur naga pada masa mendatang.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di atas Sungai Mahakam, sepasang naga kembali menempuh perjalanan panjang menuju masa lalu. Tubuhnya yang menjulur puluhan meter dibalut kain kuning, sementara kepala dan ekornya menjadi penanda makhluk mitologis yang telah lama hidup dalam ingatan masyarakat Kutai.

Mereka adalah Naga Laki dan Naga Bini, dua replika naga yang menjadi bagian penting dalam prosesi Mengulur Naga atau Ngulur Naga pada Upacara Adat Erau di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Namun, perjalanan kedua naga dari Tenggarong menuju Kutai Lama bukan sekadar arak-arakan adat. Di balik tubuh naga yang kemudian dihanyutkan ke Sungai Mahakam, tersimpan legenda tentang asal-usul Putri Karang Melenu, permaisuri Aji Batara Agung Dewa Sakti, raja pertama Kesultanan Kutai Kartanegara.

Sepasang Naga dan Keseimbangan Kehidupan

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh KUTAI KARTANEGARA (@info_kukar)

- Advertisement -

Dalam prosesi Mengulur Naga, masyarakat menghadirkan dua sosok naga sebagai pasangan. Naga Laki melambangkan naga jantan, sementara Naga Bini merupakan naga betina.

Menurut buku Erau Adat Pelas Benua, pasangan naga tersebut merepresentasikan hubungan laki-laki dan perempuan sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Karena itu, Naga Laki dan Naga Bini juga dimaknai sebagai simbol pasangan suami istri.

- Advertisement -

Maknanya melampaui hubungan antara dua sosok. Sepasang naga itu menjadi gambaran tentang keseimbangan, keselarasan, kesuburan, kebaikan, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Dalam kehidupan tradisional, keseimbangan adalah sesuatu yang harus terus dijaga. Manusia hidup berdampingan dengan sesamanya, dengan alam, dan dengan warisan leluhur yang membentuk identitas mereka. Melalui Mengulur Naga, masyarakat Kutai menyampaikan harapan agar kehidupan tetap harmonis dan senantiasa memperoleh keberkahan.

Tetapi, naga dalam Erau juga membawa masyarakat kembali kepada sebuah legenda yang berpusat di Sungai Mahakam.

- Advertisement -
Baca Juga :  Topeng Hudoq: Wajah Roh, Penjaga Padi, dan Cermin Hubungan Dayak dengan Alam

Jejak Putri yang Muncul dari Pusaran Mahakam

Legenda Putri Karang Melenu menjadi salah satu cerita penting yang berkaitan dengan keberadaan naga dalam Upacara Erau.

Dalam kisah yang diwariskan masyarakat Kutai, Putri Karang Melenu muncul dari pusaran Sungai Mahakam. Ia berada di atas sebuah gong yang diangkut oleh seekor naga yang keluar dari pusaran air.

Sungai Mahakam pun bukan sekadar jalur air dalam cerita tersebut. Sungai menjadi ruang pertemuan antara dunia manusia, alam, dan legenda.

- Advertisement -

Majalah Dimensi Indonesia:
Edisi Nagekeo

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.

Unduh majalah