Di tepian Sungai Musi, tempat kapal-kapal sejak berabad-abad lalu membawa manusia, rempah, kain, dan gagasan dari berbagai penjuru dunia, kebudayaan Palembang tumbuh sebagai pertemuan banyak pengaruh.
Jejak pertemuan itu tidak hanya terlihat pada arsitektur, bahasa, atau makanan. Ia juga tersimpan di permukaan selembar kain.
Batik Palembang mungkin belum setenar songket dalam percakapan tentang wastra Sumatra Selatan. Nama Palembang bahkan lebih sering langsung mengingatkan orang pada kain tenun berbenang emas yang berkilau. Namun, di balik kemegahan songket, berkembang pula tradisi batik dengan karakter visual yang berbeda.
Keduanya memang memiliki hubungan estetika yang erat, tetapi berasal dari teknik pembuatan yang berbeda. Songket dibentuk melalui proses tenun dengan memasukkan benang tambahan, sementara batik menghasilkan corak melalui teknik perintangan menggunakan malam.
Perbedaan teknik tersebut tidak menghalangi keduanya untuk saling memengaruhi. Pada batik Palembang, pengaruh estetika songket antara lain terlihat dari pilihan warna cerah dan penggunaan aksen emas atau prada pada sejumlah kain.
Lebih jauh lagi, sejarah batik Palembang memperlihatkan bagaimana sebuah kain dapat menjadi semacam arsip visual. Di dalam motifnya tersimpan pertemuan kebudayaan Melayu, Islam, Tionghoa, India, Arab, hingga pengaruh dari kawasan Asia Tenggara lainnya.
Dari Jalur Perdagangan hingga Kesultanan
Lihat postingan ini di Instagram
Palembang sejak lama berada di jalur perdagangan penting. Posisi geografisnya di sepanjang Sungai Musi membuat wilayah ini menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat. Hubungan perdagangan tersebut turut memengaruhi perkembangan seni tekstil.
Sejumlah kajian mengenai batik Palembang menyebutkan adanya pengaruh dari Jawa dan Tiongkok, sekaligus kebudayaan Melayu dan Arab. Pengaruh India juga dapat ditelusuri melalui kemiripan sejumlah motif dengan kain patola.
Salah satu contohnya adalah motif pada kain semage, yang menampilkan bunga menyerupai mawar berkelopak delapan dan dipadukan dengan motif bintang. Dalam tradisi tekstil Patola India, bentuk bunga tersebut berkaitan dengan representasi bunga teratai.
Pada masa Kerajaan Palembang, kain dengan sentuhan warna emas juga digunakan sebagai bagian dari busana kalangan bangsawan, termasuk sebagai penutup kepala atau tanjak. Tradisi tersebut kemudian berlanjut pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Batik menjadi bagian dari kelengkapan pakaian kebesaran Sultan dan para pembesar kesultanan. Pada masa ini, kain tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga menjadi penanda kedudukan, identitas, dan estetika kekuasaan.
Pengaruh songket kemudian memperkaya tampilan batik melalui penggunaan aksen prada emas. Dari sini terlihat bahwa perkembangan batik Palembang bukan proses yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sejarah panjang pertukaran budaya.


