Bunga, Geometri, dan Warna yang Berani
Lihat postingan ini di Instagram
Jika diperhatikan lebih dekat, batik Palembang memiliki kecenderungan visual yang khas. Ragam hiasnya banyak mengambil inspirasi dari tumbuhan dan bentuk geometris. Bunga, daun, sulur, dan susunan simetris menjadi elemen yang sering muncul.
Kecenderungan tersebut juga berkaitan dengan lingkungan budaya Islam yang berkembang kuat di Palembang. Dalam sejumlah referensi mengenai batik Palembang disebutkan bahwa ragam hiasnya cenderung menghindari penggambaran manusia dan hewan secara utuh.
Sebagai gantinya, alam hadir melalui bentuk flora. Warna pun menjadi bagian penting dari identitas kain ini. Merah, kuning, dan hijau terang menjadi warna yang banyak ditemukan, dengan pengaruh estetika Melayu dan songket.
Beberapa motif bahkan memiliki cerita yang menarik untuk ditelusuri. Motif Songket, misalnya, mengadaptasi susunan geometris dan ornamen yang dikenal dalam kain tenun songket ke dalam teknik batik.
Sementara motif Lasem memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya Tionghoa pesisir. Warna merah yang menjadi cirinya mengingatkan pada karakter warna merah yang populer dalam tradisi tekstil Lasem.
Ada pula motif Jumputan, yang menghasilkan pola lingkaran dan titik melalui teknik ikat celup. Salah satu cirinya adalah pola titik tujuh, berupa titik-titik kecil yang mengelilingi sebuah lingkaran lebih besar.
Motif lain yang menarik adalah Jupri Kembang Teh. Ragam hiasnya mengambil bentuk sulur dan bunga tanaman teh, sekaligus berkaitan dengan lanskap perkebunan teh di dataran tinggi Sumatra Selatan, termasuk kawasan sekitar Gunung Dempo. Di antara motif-motif tersebut, flora bukan sekadar penghias kain. Ia menjadi cara masyarakat menerjemahkan lingkungan ke dalam bahasa visual.
Motif sebagai Ingatan Budaya
Kekayaan batik Palembang tidak berhenti pada beberapa motif yang lebih dikenal. Ada pula Gribik yang terinspirasi dari anyaman bambu, Encim yang memperlihatkan pengaruh Tionghoa, Kembang Bakung, Kerak Mutung, Sembagi, Salahi, Bungo Dadar, Bungo Delimo, Bungo Pacik, Bungo Cino, dan Bungo Tanjung.
Beberapa motif membawa asosiasi terhadap tumbuhan, makanan, benda tradisional, maupun kehidupan sehari-hari.
Bungo Delimo, misalnya, mengambil inspirasi dari bunga dan buah delima. Bungo Tanjung mengangkat bunga tanjung yang dikenal karena aromanya. Sementara Jukung dan Sumping menghubungkan kehidupan sungai dengan simbol kebangsawanan: jukung mengingatkan pada perahu yang menjadi bagian dari kehidupan Sungai Musi, sedangkan sumping merupakan ornamen yang berkaitan dengan busana tradisional.
Ada pula Babar Emas yang memperlihatkan hubungan antara batik dan penggunaan prada emas dalam estetika busana kebesaran. Sementara Babar Kecubung mengambil inspirasi dari bunga kecubung.
Namun, makna filosofis motif-motif tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Tidak semua penafsiran memiliki dokumentasi sejarah yang sama kuat. Sebagian dapat ditelusuri melalui sumber tertulis dan peninggalan sejarah, sedangkan sebagian lainnya berkembang sebagai interpretasi masyarakat dan tradisi lisan.


