Di antara warisan budaya masyarakat Dayak, perisai merupakan salah satu benda yang paling mudah dikenali. Bentuknya memanjang, ringan, tetapi dibuat cukup kuat untuk menghadapi senjata lawan. Permukaannya hampir selalu dihiasi ukiran dengan karakter yang khas—wajah manusia, sosok raksasa, hewan, api, hingga pola-pola geometris.
Namun, perisai Dayak sesungguhnya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada fungsi pertahanannya.
Dahulu, benda ini dibawa ke medan perang untuk melindungi tubuh dari tebasan mandau, tusukan tombak, atau serangan senjata lainnya. Kini, ketika peperangan antarkelompok tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat seperti masa lalu, perisai menemukan kehidupan baru sebagai perlengkapan tari, benda pusaka, dekorasi, dan karya seni.
Perubahan fungsi tersebut tidak menghapus makna lamanya. Justru melalui ukiran dan simbol yang tetap dipertahankan, perisai menjadi semacam kanvas kayu yang merekam cara masyarakat Dayak memahami manusia, alam, dunia atas, dunia bawah, dan kekuatan yang dipercaya menjaga kehidupan.
Satu Perisai, Banyak Nama
Tidak semua masyarakat Dayak menyebut perisai dengan nama yang sama. Dalam bahasa Dayak Ngaju, misalnya, perisai dikenal sebagai talawang. Sementara masyarakat Dayak Ma’anyan mengenalnya dengan sebutan kajubet.
Pada masyarakat Dayak Taman, terdapat istilah jabang dan kelau. Jabang digunakan sebagai kata sifat yang bermakna pelindung, penjaga, atau sesuatu yang mengayomi. Sementara kelau merupakan kata benda yang merujuk pada perisai sebagai benda fisik.
Perbedaan istilah tersebut memperlihatkan satu hal penting: perisai tidak hanya dipahami sebagai benda material. Gagasan tentang perlindungan bahkan tercermin dalam bahasa yang digunakan masyarakat untuk menyebutnya.
Dibuat untuk Melindungi Tubuh
Secara umum, perisai Dayak dibuat dari jenis kayu yang ringan tetapi memiliki kekuatan cukup baik. Pada perisai masyarakat Dayak Taman, misalnya, bahan seperti kulit kayu to’li atau kayu mara’ digunakan karena memiliki karakter yang sesuai untuk perlengkapan pertahanan.
Bentuknya memanjang dengan bagian yang menyerupai segi enam. Ukurannya kurang lebih mencapai satu meter dengan lebar sekitar setengah meter. Proporsi tersebut bukan sekadar pilihan estetika.
Perisai dirancang agar mampu menutupi bagian penting tubuh, terutama dada, sehingga dapat menjadi penghalang ketika seseorang menghadapi serangan dari depan. Dalam konteks peperangan tradisional, beberapa detik dapat menentukan keselamatan seseorang. Perisai karena itu harus cukup besar untuk memberikan perlindungan, tetapi tetap ringan agar dapat dibawa dan digerakkan dengan cepat.
Di sinilah pengetahuan praktis masyarakat bertemu dengan keterampilan membuat benda.
Perisai Laki-laki dan Perisai Perempuan
Pada masyarakat Dayak Taman, perisai secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan karakter ragam hiasnya: perisai laki-laki dan perisai perempuan. Keduanya sama-sama menggunakan figur gergasi atau raksasa, tetapi memiliki karakter visual yang berbeda.
Perisai Laki-laki: Wajah yang Menggetarkan
Perisai laki-laki biasanya menampilkan sosok gergasi dengan wajah yang dibuat menakutkan. Mata digambarkan besar dan menyala, sementara taring dibuat runcing. Warna merah menjadi salah satu unsur dominan.
Dalam catatan mengenai tradisi Dayak Taman, warna merah pada perisai masa lalu dikaitkan dengan campuran bahan pewarna yang salah satunya dipercaya berasal dari darah musuh dan warna dari buah rotan. Sosok mengerikan tersebut bukan sekadar hiasan.
Dalam kepercayaan tradisional, tampilan perisai dipercaya memiliki kekuatan simbolis untuk memengaruhi keberanian dan mental lawan. Wajah yang menakutkan diharapkan dapat menimbulkan rasa gentar bahkan sebelum pertempuran berlangsung.
Dengan demikian, perisai berfungsi secara fisik sekaligus psikologis. Kayu menjadi pelindung tubuh, sedangkan simbol pada permukaannya menjadi bagian dari perlindungan mental.
Perisai Perempuan: Wajah yang Lebih Bersahabat
Berbeda dengan karakter perisai laki-laki, perisai perempuan tetap menampilkan figur gergasi tetapi dengan pendekatan visual yang lebih lembut. Warna putih dan kuning lebih dominan. Dalam tradisi pewarnaan lama, putih dapat diperoleh dari kapur sirih, sedangkan kuning berasal dari kunyit.
Jika perisai laki-laki dirancang untuk menimbulkan rasa takut, perisai perempuan dikaitkan dengan kelembutan, keramahan, dan persahabatan. Pemaknaan tersebut juga berhubungan dengan harapan agar pihak lawan merasa iba dan tidak tega menyerang.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa satu simbol dapat memiliki bahasa visual yang berbeda sesuai dengan konteksnya.


