Justru di situlah menariknya sebuah wastra. Kain tidak selalu berbicara melalui satu makna yang tunggal. Ia dapat menyimpan sejarah yang terdokumentasi sekaligus ingatan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada batik Palembang, bunga dapat menjadi representasi alam. Geometri dapat membawa pengaruh tekstil lain. Warna dapat mengingatkan pada estetika Melayu dan Tionghoa. Sementara aksen emas menghubungkannya dengan kemegahan tradisi kesultanan.
Semua unsur tersebut bertemu dalam satu permukaan kain. Batik Palembang pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana malam ditorehkan di atas kain. Ia adalah gambaran tentang Palembang sebagai ruang pertemuan kebudayaan.
Di kota yang tumbuh di sepanjang Sungai Musi itu, berbagai pengaruh tidak selalu menghapus identitas lama. Sebaliknya, unsur-unsur tersebut berlapis, beradaptasi, lalu melahirkan bentuk baru.
Dan ketika selembar batik Palembang dibentangkan, yang terlihat bukan sekadar rangkaian bunga dan garis. Di sana terdapat jejak perdagangan, kebudayaan Melayu, nilai Islam, pengaruh Tionghoa dan India, serta ingatan tentang sebuah kota yang selama berabad-abad menjadi jembatan antara berbagai dunia.
Batik Palembang adalah sejarah yang ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan warna, malam, benang, dan tangan para perajinnya.


