Kisah kelahiran Putri Karang Melenu kemudian terus hidup melalui berbagai tradisi masyarakat Kutai, termasuk prosesi Mengulur Naga. Kehadiran Naga Laki dan Naga Bini menjadi bagian dari upaya menghormati dan menghidupkan kembali cerita tentang asal-usul tokoh yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara.
Legenda yang mungkin terdengar seperti cerita dari masa silam itu, setiap Erau kembali menemukan wujudnya dalam bentuk ritual.
Perjalanan Pulang ke Kutai Lama
Lihat postingan ini di Instagram
Dari Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara di Tenggarong, Naga Laki dan Naga Bini dibawa menuju Kutai Lama.
Tujuannya bukan tanpa alasan.
Kutai Lama memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara. Kawasan Jaitan Layar atau Tepian Batu dipercaya sebagai salah satu lokasi awal Kerajaan Kutai Kartanegara. Kawasan ini juga diyakini memiliki hubungan dengan tempat lahirnya Putri Karang Melenu.
Meski pusat pemerintahan kemudian berada di Tenggarong, Kutai Lama tetap menjadi ruang yang menyimpan jejak awal perjalanan kerajaan. Karena itulah, prosesi Mengulur Naga dapat dipandang sebagai perjalanan simbolis menuju akar sejarah.
Ketika tiba di Jaitan Layar, replika naga menjalani tahap akhir dari perjalanan panjangnya.
Tubuh naga dipisahkan dari kepala dan ekornya. Kedua bagian tersebut kemudian dibawa kembali ke Keraton untuk digunakan dalam Upacara Erau berikutnya. Sementara itu, tubuh naga dihanyutkan ke Sungai Mahakam.
Ada sesuatu yang puitis dalam akhir ritual tersebut. Tubuh naga yang sebelumnya diarak dan menjadi pusat perhatian perlahan kembali menyatu dengan sungai, tempat legenda Putri Karang Melenu berawal.
Naga Sepanjang Puluhan Meter
Replika naga yang digunakan dalam prosesi Mengulur Naga bukanlah benda kecil. Pada 2025, panjang replika tersebut mencapai sekitar 31,5 meter.
Bagian kepala dan ekor dibuat dari kayu. Sementara tubuh naga menggunakan rangka rotan dan bambu yang kemudian dibungkus kain kuning. Lapisan kain perca membentuk sisik-sisik yang memperkuat rupa naga.
Bahan-bahan sederhana dari alam itu kemudian dirangkai menjadi makhluk mitologis yang membawa beban sejarah dan makna budaya.
Setiap bagian naga seolah mempertemukan keterampilan masyarakat dengan ingatan kolektif yang diwariskan lintas generasi.
Pada 2026, ritual Mengulur Naga dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 20 September, pukul 10.00 Wita.
Bagi masyarakat Kutai, ritual ini bukan hanya tentang dua replika naga yang melakukan perjalanan dari Tenggarong ke Kutai Lama. Mengulur Naga adalah cara sebuah masyarakat menjaga hubungan dengan masa lalu.
Di sepanjang perjalanan itu, legenda Putri Karang Melenu kembali diceritakan. Sungai Mahakam kembali menjadi saksi. Dan sepasang naga kembali mengingatkan bahwa kehidupan, seperti Naga Laki dan Naga Bini, selalu membutuhkan keseimbangan.
Ketika tubuh naga akhirnya dihanyutkan ke sungai, yang tersisa bukan sekadar ritual yang telah selesai dilaksanakan. Ada cerita, identitas, dan ingatan yang kembali mengalir bersama Mahakam—menuju generasi berikutnya yang akan kembali mengulur naga pada masa mendatang.


