Di dalam ruang Stinggil Keraton Kutai Kartanegara di Tenggarong, sebuah pusaka berada dalam posisi rebah. Ia terbaring di atas hamparan berwarna kuning, dikelilingi berbagai perlengkapan adat dan simbol yang telah diwariskan dari masa lampau.
Namun, ketika pusaka itu kemudian diangkat dan ditegakkan, sebuah peristiwa besar pun dimulai. Bagi masyarakat Kutai, saat itulah Erau resmi dibuka.
Pusaka tersebut dikenal sebagai Tiang Ayu, salah satu unsur paling penting dalam Festival Adat Erau di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Selama Tiang Ayu belum berdiri, rangkaian adat Erau belum dimulai. Sebaliknya, ketika pusaka itu kembali direbahkan, seluruh prosesi Erau pun dinyatakan berakhir.
Di antara berbagai ritual Erau yang berlangsung lebih dari sepekan, Tiang Ayu menjadi penanda yang menghubungkan awal dan akhir sebuah perayaan adat.
Pusaka dari Masa Raja Pertama Kutai
Tiang Ayu memiliki hubungan erat dengan Sangkoh Piatu, sebuah pusaka yang dipercaya sebagai senjata milik Aji Batara Agung Dewa Sakti, raja pertama Kutai Kartanegara. Pusaka ini memiliki panjang sekitar dua meter.
Dalam tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sangkoh Piatu bersama Tiang Ayu didirikan untuk membuka rangkaian Erau dan kembali direbahkan ketika seluruh upacara telah selesai.
Menurut penjelasan Museum Mulawarman, Tiang Ayu juga dikenal dengan sejumlah nama lain, seperti Ayu, Pinang Ayu, dan Rebak Ayu. Benda tersebut berupa tombak pusaka yang diselipkan dalam kain kuning. Warna kuning bukan sekadar penghias.
Dalam simbolisme Tiang Ayu, kain kuning menjadi lambang kerahayuan, sebuah gagasan tentang keselamatan dan ketenteraman. Karena itu, keberadaan Tiang Ayu tidak hanya berkaitan dengan sebuah pusaka kerajaan, tetapi juga menjadi simbol harapan akan kehidupan yang damai dan terlindungi.
Dalam publikasi Fungsi Simbolik Perayaan Erau di Tenggarong (Kajian Semiotika), Tiang Ayu dimaknai sebagai simbol pegangan hidup. Mendirikan Tiang Ayu berarti mendirikan atau mencari kerahayuan.
Ketika Pusaka Dikelilingi Simbol-Simbol Kehidupan
Tiang Ayu tidak pernah berdiri sendiri. Berbagai benda adat ditempatkan di sekelilingnya, masing-masing menjadi bagian dari susunan ritual yang membentuk satu kesatuan. Pada bagian pusaka terdapat Tali Juwita dan kain Cinde.
Tali Juwita terdiri atas tujuh lapis benang emas dengan beberapa cincin. Sementara kain Cinde dililitkan langsung pada Tiang Ayu. Janur kuning, daun sirih, dan buah pinang juga turut melengkapi susunan tersebut. Semua benda itu dimasukkan ke dalam kain kuning sebelum diikat pada Tiang Ayu.
Saat ritual berlangsung, pusaka ditempatkan di atas kasur berwarna kuning yang dilapisi kain kuning bermotif merah bernama Tapak Liman. Di bawah alas itu terdapat susunan Tambak Karang yang digambarkan dengan empat naga dan seluang mas.
Di sisi Tiang Ayu turut ditempatkan pusaka lain, yakni Gong Raden Galuh dan Batu Tijakan.
Benda-benda tersebut membentuk sebuah ruang simbolik yang mempertemukan pusaka, alam, legenda, dan kepercayaan masyarakat Kutai. Tiang Ayu berdiri di tengahnya sebagai pusat dari sebuah awal.
Saat Tiang Ayu Berdiri, Erau Dimulai
Prosesi Mendirikan Tiang Ayu dilaksanakan di ruang Stinggil Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara, yang kini berada di kompleks Museum Mulawarman, Tenggarong.
Sebelum ditegakkan, Tiang Ayu berada dalam posisi rebah di atas alas yang telah disiapkan dan menghadap ke arah singgasana Sultan. Setelah Sultan memasuki ruang Stinggil, suasana ritual dimulai.
Para dewa dan belian menjalankan bagian masing-masing dalam upacara. Setelah ritual besawai dilakukan, anggota keluarga dan kerabat Kesultanan kemudian mengangkat Tiang Ayu dari tempat pembaringannya.


