Di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dua puncak gunung berdiri berdampingan di tengah lanskap vulkanik yang telah lama membentuk kehidupan masyarakat di sekitarnya. Gunung Lewotobi Laki-laki menjulang sekitar 1.584 meter di atas permukaan laut, sementara Lewotobi Perempuan berdiri sedikit lebih tinggi dengan ketinggian sekitar 1.703 meter.
Bagi masyarakat Desa Nawokote dan wilayah sekitarnya, kedua gunung itu bukan sekadar bentang alam yang dapat diamati dari kejauhan. Lewotobi adalah bagian dari kehidupan, identitas, dan cara masyarakat memahami alam yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Nama Lewotobi sendiri berasal dari bahasa Lamaholot. Kata lewo berarti kampung, sedangkan tobi berarti kembar. Bersama-sama, keduanya membentuk makna “kampung kembar”, sebuah nama yang mencerminkan keberadaan dua puncak yang berdiri berdampingan.
Dalam pandangan masyarakat setempat, Lewotobi Laki-laki dan Lewotobi Perempuan juga merepresentasikan dua kekuatan yang saling melengkapi. Lewotobi Laki-laki dipandang sebagai simbol kekuatan dan maskulinitas, sementara Lewotobi Perempuan dikaitkan dengan kesuburan dan keibuan. Dualisme ini sejalan dengan konsep complementary dualism yang banyak ditemukan dalam kosmologi masyarakat Austronesia.
Dari hubungan panjang antara manusia dan gunung inilah lahir sebuah pengetahuan lokal yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Jauh sebelum sistem pemantauan vulkanik modern hadir, warga telah memiliki cara sendiri untuk membaca perubahan alam dan mengenali tanda-tanda bahaya.
Ketika Gunung Dipercaya Mengirim Pesan
Dalam kehidupan masyarakat Flores Timur, perubahan pada Gunung Lewotobi tidak selalu dipandang semata-mata sebagai gejala geologi. Gemuruh, asap, perubahan cuaca, hingga aktivitas vulkanik dapat dimaknai sebagai tanda yang perlu diperhatikan oleh masyarakat.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Administrasi Publik Unika Widya Mandira oleh Ernawati Daeng dan tim menjelaskan bahwa masyarakat setempat memaknai erupsi juga melalui pendekatan spiritual dan adat. Dalam pandangan tradisional, kedua puncak Lewotobi dipercaya dapat saling “berkomunikasi” melalui aktivitas vulkaniknya.
Pemahaman tersebut melahirkan berbagai aturan adat, ritual, dan pantangan yang diwariskan secara turun-temurun. Bagi masyarakat, alam bukan sesuatu yang sepenuhnya harus ditaklukkan. Alam adalah ruang hidup yang perlu diamati, dipahami, dan dihormati.
Salah satu praktik penting dalam kearifan lokal ini adalah Ritual Tuba Ile. Ritual tersebut dipimpin oleh mosalaki atau pemimpin adat bersama masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada gunung.
Tuba Ile sering dipahami sebagai ritual “memberi makan” gunung agar tetap tenang. Namun, di balik makna spiritualnya, terdapat pengetahuan lingkungan yang dibangun melalui pengamatan panjang terhadap alam.
Para tetua adat dan mosalaki memperhatikan berbagai perubahan di sekitar gunung. Perubahan warna atau suhu tanah, perilaku hewan yang tidak biasa, bau belerang yang semakin kuat, perubahan debit dan warna sumber air, hingga pola cuaca serta arah angin yang tidak lazim menjadi bagian dari tanda-tanda yang diamati.
Dalam kajian ilmiah, pengetahuan yang tumbuh melalui hubungan panjang antara masyarakat dan lingkungannya dikenal sebagai Traditional Ecological Knowledge atau TEK. Pengetahuan semacam ini tidak lahir dari laboratorium, melainkan dari pengalaman, pengamatan, dan ingatan kolektif yang diwariskan selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Membaca Alam dengan Pengetahuan yang Diwariskan
Kearifan lokal dalam menghadapi bencana tidak berarti menggantikan peran ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, pengalaman di berbagai wilayah menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional dapat menjadi pelengkap penting bagi sistem mitigasi berbasis teknologi.
Penelitian Azhar Firdaus dan tim yang dipublikasikan dalam Jàmbá: Journal of Disaster Risk Studies, misalnya, mencatat pentingnya integrasi pengetahuan lokal dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana.
Di berbagai kawasan vulkanik, masyarakat sering memiliki kemampuan mengenali perubahan kecil pada lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Pengalaman menghadapi Gunung Merapi pada 2010, serta sejumlah komunitas di Vanuatu dan Papua Nugini, menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dapat membantu masyarakat melakukan respons awal terhadap ancaman.


