Mappaende di Bulo: Ketika Panen Menjadi Ruang Syukur, Musyawarah, dan Pewarisan Pesan Leluhur

Mappaende adalah tradisi tahunan masyarakat pegunungan Bulo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, setelah masa panen. Di dalamnya terdapat doa, hasil bumi, simbol kampak dan air, hingga penyampaian pesan adat kepada generasi muda.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di pegunungan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, musim panen tidak berakhir ketika hasil bumi dipetik dari kebun. Ada satu peristiwa yang menjadi penanda bahwa masyarakat telah melewati satu siklus kehidupan: Mappaende.

Setiap tahun setelah panen, masyarakat berkumpul membawa hasil bumi dari ladang dan kebun. Buah-buahan, termasuk durian yang menjadi salah satu hasil pertanian penting di wilayah Bulo, diletakkan bersama sebagai bagian dari perayaan.

Namun Mappaende bukan sekadar pesta panen.

- Advertisement -

Di balik makanan yang kemudian disantap bersama, tersimpan cara masyarakat Bulo memandang hubungan antara manusia, alam, Tuhan, dan adat. Tradisi ini menjadi ruang untuk mengucapkan syukur atas hasil bumi sekaligus membicarakan kehidupan masyarakat untuk menghadapi musim berikutnya.

Pada 22 Agustus 2026, ratusan warga bersama para pemangku adat berkumpul di salah satu rumah warga di Desa Bulo. Suasana pertemuan berlangsung meriah, tetapi sejumlah tahapan tetap dijalankan dengan penuh penghormatan.

Salah satu yang paling menarik adalah prosesi menginjak kampak di dalam nampan berisi air. Sebelum memasuki rumah tempat pelaksanaan Mappaende, setiap warga harus menginjak kampak yang diletakkan di dalam nampan tersebut. Air menjadi unsur penting dalam simbol ini.

- Advertisement -

Bagi masyarakat setempat, prosesi tersebut menggambarkan harapan agar kehidupan selalu dingin atau adem—sebuah metafora untuk ketenangan, keseimbangan, dan kemampuan menghadapi persoalan.

Kampak, di sisi lain, dapat dibaca sebagai benda yang berkaitan dengan aktivitas manusia dalam mengolah alam. Ketika kampak ditempatkan bersama air dan harus diinjak sebelum seseorang memasuki ruang pertemuan, simbol tersebut menjadi bagian dari bahasa adat yang tidak selalu dapat diterjemahkan hanya secara harfiah.

Yang ditekankan masyarakat adalah harapan agar kehidupan setelahnya tetap tenang dan berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan baik.

- Advertisement -
Baca Juga :  Mengenal Pakaian Tradisional Suku Toraja

Dari Syukur Panen hingga Musyawarah Adat

Mappaende memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada ungkapan syukur. Setelah panen selesai, masyarakat memiliki kesempatan untuk berkumpul dan membicarakan berbagai hal yang menyangkut kehidupan bersama. Salah satunya adalah menentukan waktu untuk kembali memulai masa tanam.

Penentuan tersebut menunjukkan bahwa kalender pertanian tradisional tidak hanya bergantung pada perubahan musim, tetapi juga melibatkan pengetahuan kolektif masyarakat.

Para pemangku adat juga menggunakan momentum ini untuk menyampaikan berbagai aturan yang masih berlaku dalam kehidupan masyarakat. Di sinilah Mappaende menjadi semacam ruang pertemuan antara pengalaman masa lalu dan kebutuhan masa kini.

Salah satu bagian pentingnya adalah penyampaian pasang, yaitu pesan atau nasihat adat yang diwariskan oleh leluhur.

Bagi masyarakat Bulo, pasang tidak cukup hanya disimpan sebagai cerita masa lalu. Pesan tersebut perlu disampaikan kembali agar generasi yang lebih muda tetap mengenal nilai dan aturan yang membentuk kehidupan komunitas.

Penyampaian yang dilakukan berulang setiap tahun membuat Mappaende sekaligus berfungsi sebagai mekanisme pewarisan pengetahuan. Tradisi tidak hanya diwariskan melalui benda atau upacara, tetapi melalui ingatan yang terus diucapkan.

Dengan cara itu, generasi baru tidak sekadar mengetahui bahwa Mappaende pernah dilakukan oleh leluhur mereka. Mereka juga memahami alasan mengapa tradisi tersebut tetap dipertahankan.

- Advertisement -

Majalah Dimensi Indonesia:
Edisi Nagekeo

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.

Unduh majalah