Buroncong, Kue Pesisir Makassar yang Menyimpan Rasa dari Masa Lalu

Buroncong merupakan kue tradisional khas Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan, yang dimasak di atas tungku api. Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan jejak kuliner yang telah bertahan lintas generasi.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Asap tipis mengepul dari tungku kecil. Di atasnya, cetakan logam berbentuk setengah lingkaran dipanaskan, sementara adonan berwarna pucat perlahan dituangkan ke dalam setiap lekukannya. Beberapa saat kemudian, aroma tepung yang dipanggang mulai memenuhi udara.

Di tengah perubahan wajah Kota Makassar, pemandangan seperti ini masih dapat ditemukan. Dari sebuah gerobak sederhana, buroncong lahir sebagai kudapan yang mungkin tampak biasa, tetapi menyimpan perjalanan panjang kuliner masyarakat Sulawesi Selatan.

Bentuknya sekilas mengingatkan pada kue pukis. Namun, buroncong memiliki karakter tersendiri. Kue ini dimasak langsung di atas tungku api menggunakan cetakan khusus, menghasilkan bagian luar yang matang dengan aroma khas panggangan.

- Advertisement -

Tidak ada catatan yang benar-benar memastikan kapan buroncong pertama kali dibuat. Sejumlah informasi menyebut kue ini telah dikenal masyarakat Sulawesi Selatan sejak puluhan tahun lalu, bahkan kemungkinan lebih lama. Ketidakjelasan mengenai asal-usul persisnya justru memperlihatkan bagaimana makanan tradisional kerap tumbuh melalui ingatan kolektif masyarakat, bukan semata-mata melalui catatan tertulis.

Buroncong kemudian bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Makassar, kue ini lazim dinikmati pada pagi hari, terutama ketika masih hangat. Secangkir kopi atau teh menjadi pasangan yang sederhana, tetapi akrab bagi banyak keluarga.

Bagi sebagian orang, cita rasa buroncong bukan hanya persoalan makanan. Ia membawa ingatan tentang pagi, gerobak penjual, suara tungku, dan suasana kota yang perlahan mulai ramai.

Dari Beroncong hingga Kue Ganco

- Advertisement -


Satu hal menarik dari buroncong adalah banyaknya nama yang digunakan masyarakat. Kue ini dikenal dengan sebutan beroncong, garoncong, geroncong, hingga kue ganco.

Perbedaan penyebutan tersebut menunjukkan bahwa sebuah makanan dapat memiliki identitas yang beragam ketika hidup di tengah masyarakat dengan latar bahasa dan kebiasaan yang berbeda.

Baca Juga :  Tenaroh Dedah, Kuliner Warisan untuk Masa Depan

Buroncong dapat ditemukan di sejumlah kawasan Makassar, termasuk sekitar Jalan Hertasning dan kawasan Pantai Losari ketika kegiatan akhir pekan berlangsung.

- Advertisement -

Ciri yang paling mudah dikenali bukan hanya kuenya, melainkan gerobak penjualnya. Tungku api menjadi bagian penting dari proses pembuatan sekaligus menciptakan aroma khas yang sulit dipisahkan dari pengalaman menikmati buroncong.

Adonannya pun dapat menghasilkan karakter rasa yang berbeda. Ada penjual yang menawarkan rasa manis, sementara lainnya mempertahankan cita rasa gurih.

Keragaman tersebut menunjukkan bahwa resep tradisional tidak selalu memiliki satu bentuk yang mutlak. Ia dapat berubah mengikuti selera, bahan yang tersedia, dan kebiasaan masyarakat di tempat makanan itu berkembang.

Dahulu, buroncong juga dikenal sebagai jajanan yang sangat terjangkau. Harga yang pernah berada di kisaran ratusan rupiah membuatnya dekat dengan berbagai lapisan masyarakat. Kini, nilainya mungkin telah berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi kedekatannya dengan kehidupan masyarakat tetap bertahan.

Kue Sederhana yang Bertahan

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh LIXA & WANDY (@its.lixawandy)

Ada sesuatu yang menarik dari makanan tradisional seperti buroncong. Ia tidak lahir dari dapur restoran mewah. Tidak membutuhkan penyajian rumit. Tidak pula bergantung pada dekorasi yang berlebihan. Buroncong justru bertahan melalui kesederhanaannya.

Cetakan, adonan, tungku, dan waktu menjadi bagian dari proses yang telah dikenal masyarakat selama bertahun-tahun. Di tangan penjual, benda-benda sederhana tersebut menghasilkan makanan yang menjadi bagian dari lanskap kuliner Makassar.

Nama kue ganco bahkan sering dikaitkan dengan kemiripan bunyinya dengan gancu, alat berbentuk kait yang digunakan untuk mengangkat atau memindahkan barang, termasuk karung. Hubungan nama ini menjadi salah satu cerita yang berkembang di tengah masyarakat mengenai identitas buroncong.

Baca Juga :  Ketupat Kandangan, Cita Rasa Sungai yang Mengalir dari Tanah Banjar

Namun, seperti banyak kuliner tradisional lainnya, cerita mengenai nama dan asal-usulnya perlu dipandang sebagai bagian dari ingatan budaya masyarakat, terutama ketika sumber sejarah tertulis yang memastikan asal-usulnya belum tersedia. Yang jelas, buroncong telah menjadi bagian dari perjalanan kuliner Sulawesi Selatan.

Di tengah munculnya berbagai makanan modern, kue yang dipanggang di atas tungku ini masih menemukan tempatnya. Ia hadir di pagi hari, menemani kopi, dijajakan dari gerobak, dan sesekali menjadi pengingat tentang bagaimana makanan sederhana dapat bertahan melewati perubahan zaman.

Buroncong mungkin hanya berupa kue kecil berbentuk sederhana. Namun, dari kepulan asap tungkunya, tersimpan sebuah cerita besar tentang ingatan, kebiasaan, dan ketahanan kuliner masyarakat Makassar.

- Advertisement -