Durian dan Meja Panjang Kebersamaan
Setelah doa dan rangkaian adat selesai, suasana berubah menjadi lebih cair. Warga berkumpul untuk menikmati durian bersama.
Buah yang sebelumnya hadir sebagai representasi hasil bumi kemudian menjadi makanan yang mempertemukan orang-orang dalam satu ruang. Tidak ada lagi batas antara hasil kebun milik satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Durian dimakan bersama, sementara sebagian buah dibawa pulang untuk diberikan kepada anggota keluarga yang tidak hadir.
Kebiasaan tersebut memperlihatkan bahwa hasil panen memiliki makna sosial. Kekayaan alam tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang dimiliki individu, tetapi juga dapat menjadi sarana berbagi dan memperkuat hubungan antarmanusia.
Durian juga menjadi semacam penanda lanskap Bulo. Hasil bumi yang dibawa dalam Mappaende menggambarkan apa yang diberikan lingkungan kepada masyarakat. Dahulu, jenis hasil bumi yang ditampilkan lebih beragam, termasuk padi.
Namun, perubahan cara hidup membuat kebiasaan menyimpan padi seperti masa lalu semakin berkurang. Meski demikian, kehadiran buah-buahan tetap mempertahankan pesan utama: alam adalah sumber kehidupan.
Karena itu, hasil bumi yang hadir dalam Mappaende bukan hanya hidangan. Ia merupakan pengingat tentang hubungan timbal balik antara manusia dan tanah yang menjadi tempat mereka menggantungkan hidup.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Bulo juga berusaha menempatkan tradisi tersebut dalam kerangka kehidupan beragama yang mereka jalani sekarang.
Mappaende tetap dipertahankan dengan memperhatikan norma agama. Bagi masyarakat, warisan leluhur tidak harus berhadapan dengan perubahan zaman. Nilai yang dianggap baik dapat terus dijaga dan dimaknai kembali sesuai kehidupan masa kini.
Pada akhirnya, Mappaende adalah kisah tentang siklus. Tanaman ditanam, tumbuh, kemudian dipanen. Hasilnya disyukuri. Masyarakat berkumpul, berbicara tentang masa depan, lalu menentukan langkah untuk kembali ke ladang.
Di sela siklus tersebut, pesan leluhur kembali diucapkan agar tidak hilang. Sementara durian dibelah dan disantap bersama, sebuah masyarakat sedang melakukan sesuatu yang lebih besar: menjaga ingatan kolektif mereka.
Mappaende mengajarkan bahwa panen bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah jeda untuk bersyukur, bermusyawarah, berbagi, dan mengingat kembali bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam serta sesamanya.


