Massawe To Tamma, Pawai Kecil untuk Mimpi Besar Anak Mandar

Massawe To Tamma kembali digelar sebuah tradisi yang menandai bukan hanya kelulusan pendidikan dasar dan khatam Al-Qur’an, tetapi juga perayaan kolektif atas tumbuhnya generasi penerus.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Pagi belum sepenuhnya matang ketika denting rebana mulai terdengar di sudut-sudut kampung. Dari halaman rumah hingga jalan utama desa, warga Mandar berbondong-bondong keluar, mengenakan pakaian terbaik mereka. Hari itu bukan hari biasa. Massawe To Tamma kembali digelar sebuah tradisi yang menandai bukan hanya kelulusan pendidikan dasar dan khatam Al-Qur’an, tetapi juga perayaan kolektif atas tumbuhnya generasi penerus.

Di Kabupaten Majene dan sejumlah wilayah Sulawesi Barat, Massawe To Tamma telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat. Tradisi ini hidup dari rumah ke rumah, dari generasi ke generasi, diwariskan sebagai bentuk syukur dan penghormatan atas perjalanan anak-anak yang telah menuntaskan fase awal pendidikan formal dan spiritual mereka.

Ratusan anak tampil sebagai pusat perhatian. Wajah-wajah polos itu dipulas senyum malu-malu, duduk tegap di atas Sayyang Pattu’du kuda yang dihias meriah dengan kain berwarna cerah, payet berkilau, dan ornamen khas Mandar. Iringan musik tradisional dan lantunan shalawat mengalun pelan, mengiringi langkah kuda yang menari mengikuti irama. Bagi warga Mandar, inilah simbol kehormatan: anak yang telah to tamma selesai menuntaskan baca Al-Qur’an dan pendidikan dasar diarak sebagai tanda kebanggaan bersama.

- Advertisement -

Lebih dari sekadar pawai budaya, Massawe To Tamma adalah ruang perjumpaan nilai-nilai. Di satu sisi, ia menegaskan kuatnya fondasi keislaman masyarakat Mandar. Di sisi lain, tradisi ini menjadi penanda betapa adat dan agama berjalan beriringan, saling menguatkan, tanpa harus saling meniadakan. Doa-doa dipanjatkan bersama, harapan-harapan disematkan pada pundak anak-anak yang kelak akan memikul masa depan daerahnya.

“Ini bukan sekadar merayakan kelulusan,” tutur seorang tokoh adat di sela kegiatan. “Ini adalah cara kami mengajarkan bahwa ilmu dan akhlak harus berjalan seimbang sejak dini.”

Baca Juga :  Panen Lawang, Tarian dari Kebun Cengkeh Sabang

Keterlibatan masyarakat terlihat nyata. Orang tua, guru, tokoh agama, aparat desa, hingga pemerintah daerah bergotong royong menyiapkan acara. Jalan-jalan dibersihkan, panggung sederhana didirikan, dan keamanan dijaga bersama agar tradisi berjalan khidmat dan tertib. Momentum ini juga sering dimanfaatkan oleh para pemangku kebijakan untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya pendidikan, persatuan, dan pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.

- Advertisement -

Di balik kemeriahan, Massawe To Tamma menyimpan makna sosial yang dalam. Tradisi ini mempererat ikatan antarwarga, menghapus sekat sosial, dan menghidupkan semangat kolektivitas. Semua anak tanpa memandang latar belakang ekonomi mendapat tempat yang sama dalam perayaan. Di sinilah nilai keadilan sosial dan kebersamaan diuji dan dirawat.

Namun, di tengah perubahan zaman, Massawe To Tamma juga menghadapi tantangan. Modernisasi, pergeseran pola hidup, dan minimnya regenerasi pelaku budaya menjadi ancaman nyata. Karena itu, upaya dokumentasi, penguatan peran sekolah, serta dukungan pemerintah menjadi kunci agar tradisi ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi tetap hidup sebagai identitas kultural masyarakat Mandar.

Ketika pawai usai dan keramaian perlahan bubar, yang tertinggal bukan hanya jejak tapal kuda di jalan desa. Ada harapan yang dititipkan, ada nilai yang ditanamkan. Massawe To Tamma bukan tentang hari ini semata, melainkan tentang masa depan tentang anak-anak Mandar yang kelak akan tumbuh, melangkah lebih jauh, dengan akar budaya dan nilai spiritual yang kokoh.