Basamsam, Ketika Kampung Dayak Salako Ditutup untuk Menjaga Keselamatan

Basamsam atau Besamsam merupakan ritual tolak bala masyarakat Dayak Salako di Kalimantan Barat. Tradisi menutup kampung ini menyimpan filosofi tentang perlindungan, keseimbangan alam, dan kehidupan bersama.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di sebuah kampung Dayak Salako di Kalimantan Barat, suasana yang biasanya dipenuhi aktivitas perlahan berubah. Pintu-pintu rumah ditutup. Jalan keluar-masuk kampung diberi batas. Warga menahan diri untuk tidak bepergian, sementara daun-daun tertentu digantung di depan rumah.

Tidak ada keadaan darurat yang sedang berlangsung. Penutupan itu justru merupakan bagian dari sebuah ritual yang telah diwariskan lintas generasi. Namanya Basamsam, atau Besamsam.

Bagi masyarakat Dayak Salako di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Basamsam merupakan upacara adat untuk menolak bala. Ritual ini menjadi cara masyarakat memohon perlindungan dari malapetaka, penyakit, maupun berbagai gangguan yang diyakini dapat mengancam kehidupan kampung.

- Advertisement -

Lebih dari sekadar ritual spiritual, Basamsam memperlihatkan bagaimana masyarakat tradisional membangun sistem perlindungan melalui aturan bersama. Selama beberapa hari, kehidupan warga diatur oleh hukum adat yang mengikat seluruh anggota komunitas.

Kampung seolah menjadi ruang yang untuk sementara waktu dipisahkan dari dunia luar.

Tiga Hari Menutup Kampung

Pelaksanaan Basamsam berlangsung selama tiga hari. Persiapannya bahkan dimulai sebelum ritual utama, melalui musyawarah masyarakat dan kegiatan gotong royong untuk menyiapkan berbagai perlengkapan adat atau paraga.

- Advertisement -

Di dalamnya terdapat sejumlah benda yang memiliki fungsi dalam rangkaian ritual, antara lain tempayan berisi minyak, mangkuk berisi beras kuning, ayam kampung, kue cucur, lemang, bontokng, arak, serta kapur sirih.

Pada hari pertama, ritual dimulai dengan doa yang dipanjatkan oleh Ketua Adat di pantak samsam, tempat yang dianggap sakral dan berkaitan dengan arwah leluhur. Daun-daun seperti intawa, juang, dan uwar kemudian digantung di depan rumah bersama kain putih. Benda-benda tersebut menjadi penanda sekaligus simbol perlindungan.

Jalan keluar-masuk dusun ditutup menggunakan tali bentangan atau rambu pembatas. Kampung memasuki masa samsam—sebuah keadaan ketika masyarakat harus membatasi aktivitas dan hubungan dengan dunia luar. Ketua Basamsam kemudian melakukan nyoeg, yakni mengoleskan minyak yang telah didoakan ke dahi warga serta pintu rumah.

- Advertisement -
Baca Juga :  Filosofi Warna Baju Bodo Bugis-Makassar

Setelah proses tersebut, warga diharapkan tetap berada di dalam rumah. Pintu dan jendela ditutup rapat. Kampung yang biasanya menjadi ruang pergerakan manusia mendadak berubah menjadi kawasan yang penuh batas. Hari kedua menjadi masa pembukaan sementara.

Sekitar pukul 06.00 hingga 08.00, masyarakat diperbolehkan membuka rumah, memasak, dan melakukan sejumlah aktivitas di luar. Namun, setelah waktu tersebut berakhir, kampung kembali ditutup dan ritual nyoeg dilakukan kembali.

Pembatasan ini bukan sekadar larangan bergerak. Ia mengajarkan disiplin kolektif: keselamatan kampung dipandang sebagai tanggung jawab bersama.

- Advertisement -

Majalah Dimensi Indonesia:
Edisi Nagekeo

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.

Unduh majalah