Makna dan Filosofi Pakaian Adat Minangkabau

Bundo Kanduang juga sering disebut Limpapeh Rumah Nan Gadang.

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Bundo Kanduang dan penghulu adalah pakaian adat Minangkabau yang digunakan oleh perempuan dan pria yang sudah terten dan menjadi simbol pentingnya peran seorang seseorang dalam sebuah rumah tangga.

Nah, kira-kira apa lagi yah keunikan Pakaian Adat Minang ini? Berikut makna Pakaian Adat Minang dikutip dari buku berjudul Pesona Indonesia karya Anita Chairul Tanjung (2018:206).

Pakaian Adat Minangkabau Wanita

Pakaian Adat Minangkabau
Pakaian Adat Minangkabau untuk Wanita. INT

Pakaian iniĀ  merupakan simbol kebesaran, terutama bagi perempuan yang telah menikah. Bundo Kanduang menekankan pentingnya peran seorang ibu dalam menciptakan harmoni dan kerukunan dalam keluarga.

- Advertisement -
  1. Tingkuluak (Tengkuluk): Tingkuluak adalah penutup kepala yang memiliki bentuk seperti kepala kerbau atau atap rumah tradisional Minangkabau. Penutup kepala memiliki makna orang yang memakainya adalah pemilik rumah gadang.
  2. Baju Batabue: Baju batabue adalah baju kurung yang dihiasi dengan benang emas yang membentuk motif-motif indah. Baju ini memiliki empat varian warna, yaitu merah, hitam, biru, dan lembayung. Pada tepi lengan dan leher baju ini, terdapat hiasan yang disebut “minse,” yang merupakan sulaman yang menggambarkan ketaatan perempuan Minangkabau pada aturan adat yang berlaku.
  3. Lambak atau Sarung: Lambak atau sarung digunakan sebagai bawahan yang melengkapi baju batabue. Jenis lambak bisa berupa songket dan diikat dengan cara khusus sesuai dengan tradisi.
  4. Salempang: Salempang adalah selendang yang terbuat dari kain songket dan diletakkan di pundak wanita. Salempang ini melambangkan welas asih pada anak dan cucu serta kewaspadaan dalam berbagai kondisi.
  5. Perhiasan: Pakaian tradisional Bundo Kanduang juga dilengkapi dengan beragam perhiasan, termasuk gelang (galang), kalung (dukuah), dan cincin. Dukuah, misalnya, melambangkan bahwa seorang perempuan Minangkabau harus bertindak dengan integritas dan kebenaran dalam segala aspek kehidupan.
Baca Juga :  Tedak Siten, Ritual Anak Pertama Kali Mengijak Tanah

Pakaian Adat Minangkabau Pria

Pakaian Adat Minangkabau
Pakaian Adat Minangkabau pria. INT

Pakaian tradisional Minangkabau yang dikenal dengan sebutan “penghulu” adalah pakaian yang memiliki status khusus dalam masyarakat. Pakaian ini hanya dikenakan oleh para tetua adat atau mereka yang memiliki hak dan kewenangan untuk memakainya.

  1. Deta atau Destar: Deta adalah penutup kepala yang terbuat dari kain berwarna hitam gelap. Penutup kepala ini dililitkan untuk membentuk kerutan. Kerutan ini melambangkan bahwa seorang tetua, khususnya seorang penghulu, harus mengerutkan dahinya terlebih dahulu sebelum memutuskan sebuah perkara. Ini mencerminkan pentingnya mempertimbangkan segala sesuatu dengan adil sebelum mengambil keputusan.
  2. Baju: Penghulu mengenakan baju berwarna hitam yang terbuat dari kain beludru. Warna hitam dalam pakaian ini melambangkan kepemimpinan yang setia dan teguh pada prinsip-prinsipnya, bahkan ketika dihadapkan pada godaan atau tantangan.
  3. Sarawa: Sarawa adalah celana yang dikenakan oleh penghulu, dan biasanya berwarna hitam. Celana ini memiliki ukuran besar pada betis dan paha, yang melambangkan jiwa besar seorang pemimpin, terutama saat mengambil keputusan penting.
  4. Sasampiang: Sasampiang adalah selendang merah yang dihiasi dengan benang makau berwarna-warni. Selendang ini diletakkan di bahu penghulu. Warna merah dalam selendang melambangkan keberanian, sementara hiasan benang mencerminkan ilmu dan kebijaksanaan. Pemimpin harus berani dan bijaksana dalam tindakan dan keputusannya.
  5. Cawek atau Ikat Pinggang: Cawek digunakan sebagai ikat pinggang, dan biasanya terbuat dari sutra. Ikat pinggang tersebut digunakan untuk menguatkan ikat celana sarawa yang longgar. Sutra dalam cawek melambangkan kemampuan seorang penghulu untuk menjadi cakap dan lembut dalam memimpin masyarakat.
  6. Sandang: Sandang adalah kain merah yang diikatkan di pinggang. Kain merah ini adalah simbol tunduknya seorang penghulu pada hukum adat yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Ini mengingatkan pemimpin akan tanggung jawab besar untuk menjalankan tugasnya sesuai dengan norma adat yang telah ditetapkan.
  7. Keris dan Tongkat: Penghulu sering membawa keris yang diselipkan di pinggang dan tongkat yang digunakan sebagai petunjuk jalan. Keris melambangkan amanah dan tanggung jawab besar yang melekat pada kepemimpinan, sementara tongkat adalah simbol penting yang menunjukkan pengarahan dan panduan yang diberikan oleh pemimpin.
Baca Juga :  Kampung Adat Boamara dan Rumah Adat Strata Tertinggi
- Advertisement -