Hadok, Pertandingan Tinju Tradisional ala Lembata Bentuk Rasa Syukur

Hadok merupakan atraksi tinju tradisional unik yang digelar di beberapa desa di Kecamatan Atedei, Kabupaten Lembata, NTT.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Terdiri dari beragam suku bangsa, Indonesia kaya akan budaya dan tradisi. Di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya, kamu bisa melihat pertarungan tinju tradisional yang unik. Apa itu?

Hadok merupakan atraksi tinju tradisional unik yang digelar di beberapa desa di Kecamatan Atedei, Kabupaten Lembata, NTT.

Hadok biasanya digelar setelah “bako mehede”, yaitu acara syukur panen pada kebun tertentu atau “man henadokei” sesuai tradisi yang diwariskan nenek moyang setempat.

Bagi warga setempat, hadok merupakan ajang pertarungan bergengsi antarkeluarga, kelompok, bahkan antardesa. Bahkan, jika ada anggota kelompok yang kalah dalam pertarungan, maka akan ada istilah balas dendam agar memperoleh kemenangan di musim panen selanjutnya.

Aturan dalam Pertarungan Hadok

Pertarungan hadok dimulai dengan berdirinya 2 orang di tengah weho (arena pertarungan) yang bertugas sebagai wasit untuk mengatur waktu setiap ronde. Selama pertarungan berlangsung, ada sejumlah aturan yang mesti dipahami para peserta hadok.

Di antaranya adalah bagian tubuh yang bisa dipukul hanya bagian perut ke atas, dengan sasaran utama wajah lawan. Semakin banyak memukul bagian wajah lawan, maka semakin besar peluang kemenangan.

Di setiap kubu disponsori satu orang promotor dan pendukungnya. hadok biasanya dimulai dari anak-anak diikuti anak muda dan orang orang tua.

Pasangan akan bertarung tidak diumumkan atau tidak dipasang, melainkan para hadok akan mencari pasangannya sendiri saat acara dimulai. Saat semua peserta sudah siap, mereka yang ber-hadok akan berlari melintasi arena menemui kelompok lawan dan mencari seseorang yang ia yakini pas untuk dilawan.

Dalam proses mencari lawan atau “dohu”, peserta akan menggosok gosok bahu lawan sebanyak 3 kali. Bila lawannya setuju, ia akan menganggukkan kepala dan bila menolak akan menggelengkan kepala.

Baca Juga :  Wulla Poddu, Ritual Untuk Mendekatkan Diri dengan Tuhan

Selama pertarungan, para penonton dan juga peserta akan menyanyikan syair tradisional untuk memeriahkan suasana.

Wasit akan menghentikan pertandingan dan menyatakan seorang menang apabila ada peserta yang berhasil menjatuhkan lawan ke tanah dan tidak mampu melanjutkan pertarungan.

Selain itu, peserta yang paling banyak memukul bagian wajah atau tubuh lawan, atau lawannya menyerah dengan berlari kembali ke kelompok pendukungnya, ia juga dianggap sebagai pemenang.

Bagikan

Bantu kami menyabarkan kaindahan Indonesia.

BACA JUGA

- Advertisement -