Kearifan Lokal Lewotobi, Membaca Bahasa Alam dari Gunung Kembar

Dua puncak Lewotobi tetap berdiri di Flores Timur, seperti dua penjaga yang telah menyaksikan kehidupan masyarakat selama bergenerasi. Dan di bawah bayangannya, pengetahuan tentang alam terus diwariskan—sebuah warisan yang mungkin tidak tersimpan dalam mesin, tetapi hidup dalam ingatan manusia.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Kekuatan utama sistem semacam ini terletak pada kedekatan masyarakat dengan lingkungannya. Mereka hidup bersama gunung, sungai, hutan, hewan, dan perubahan cuaca. Alam bukan sekadar objek pengamatan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, nilai kearifan lokal Lewotobi tidak berhenti pada kemampuan membaca tanda bahaya.

Ritual dan tradisi yang dilakukan bersama juga memperkuat hubungan sosial masyarakat. Ketika seluruh warga berkumpul, mereka membangun jaringan komunikasi, memperkuat kepercayaan, dan memahami peran masing-masing dalam menghadapi situasi sulit.

- Advertisement -

Dalam kondisi darurat, hubungan sosial yang kuat dapat menjadi modal penting. Masyarakat yang terbiasa bekerja bersama cenderung memiliki jaringan komunikasi informal yang lebih cepat diaktifkan ketika ancaman muncul.

Ritual juga dapat memberikan kesiapan mental. Ancaman erupsi adalah sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya diprediksi dan sering menghadirkan kecemasan. Tradisi yang diwariskan leluhur memberi masyarakat ruang untuk mempersiapkan diri secara bersama-sama, sekaligus menjaga ketenangan dalam menghadapi ketidakpastian.

Menjembatani Tradisi dan Ilmu Pengetahuan Modern

Di tengah perkembangan teknologi pemantauan gunung api, kearifan lokal Lewotobi tetap memiliki arti penting. Sistem modern menyediakan instrumen untuk mengukur aktivitas seismik, deformasi tanah, emisi gas, dan berbagai perubahan geologi lainnya. Sementara masyarakat lokal membawa pengalaman panjang dalam memahami lingkungan tempat mereka tinggal.

- Advertisement -

Keduanya tidak harus saling bertentangan.

Prinsip ini sejalan dengan Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 yang mengakui pentingnya pengetahuan lokal dan tradisional dalam pengurangan risiko bencana. Pengetahuan masyarakat dapat menjadi salah satu kekuatan dalam membangun kesiapsiagaan yang lebih dekat dengan kebutuhan komunitas.

Di Indonesia, pelestarian pengetahuan dan praktik budaya juga mendapat landasan melalui berbagai kebijakan, termasuk Peraturan Kepala BNPB Nomor 1 Tahun 2012 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

- Advertisement -
Baca Juga :  Filosofi Pakaian Adat Ulos, Baju kebanggaan Suku Batak

Meski demikian, keberlanjutan kearifan lokal Lewotobi menghadapi tantangan. Modernisasi, perubahan pola hidup, migrasi penduduk, dan minimnya dokumentasi dapat menghambat pewarisan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sebagian besar pengetahuan tersebut masih hidup melalui cerita, ritual, dan pengalaman langsung. Jika generasi muda semakin jauh dari tradisi, maka bukan hanya sebuah ritual yang terancam hilang, tetapi juga cara lama manusia membaca lingkungan.

Di kaki Gunung Lewotobi, masyarakat Desa Nawokote telah menunjukkan bahwa mitigasi bencana tidak selalu dimulai dari alat paling canggih. Terkadang, kesiapsiagaan tumbuh dari kemampuan untuk mendengarkan perubahan yang terjadi di sekitar.

Dari perubahan perilaku hewan, aroma belerang, warna air, arah angin, hingga gemuruh gunung, alam memiliki bahasa yang telah lama dipelajari oleh masyarakat.

Kini, tantangannya adalah memastikan bahasa itu tidak hilang.

Sebab, di tengah kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan modern, kearifan lokal Lewotobi mengingatkan bahwa manusia telah lama belajar bertahan dengan cara memperhatikan alam. Bukan untuk menggantikan teknologi, melainkan untuk berjalan bersamanya.

Dua puncak Lewotobi tetap berdiri di Flores Timur, seperti dua penjaga yang telah menyaksikan kehidupan masyarakat selama bergenerasi. Dan di bawah bayangannya, pengetahuan tentang alam terus diwariskan—sebuah warisan yang mungkin tidak tersimpan dalam mesin, tetapi hidup dalam ingatan manusia.

- Advertisement -

Majalah Dimensi Indonesia:
Edisi Nagekeo

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.

Unduh majalah