Pusaka itu perlahan ditempatkan pada penyangga. Ketika Tiang Ayu telah berdiri, seluruh hadirin mengikuti doa.
Sejak saat itulah, Erau dimulai. Tiang Ayu akan tetap berdiri sepanjang seluruh rangkaian Festival Adat Erau berlangsung. Berbagai kegiatan dan ritual kemudian mengisi hari-hari berikutnya hingga mencapai puncak perayaan.
Namun, seperti segala sesuatu yang memiliki awal, Erau juga memiliki sebuah penutup. Dan penutup itu kembali ditandai oleh Tiang Ayu.
Tiga Gerakan Sebelum Erau Berakhir
Pada hari terakhir Erau, masyarakat dan keluarga Kesultanan kembali berkumpul di ruang Stinggil. Kali ini, mereka tidak akan mendirikan Tiang Ayu. Mereka akan merebahkannya.
Sultan bersama kerabat Kesultanan menghadap ke arah Sangkoh Piatu. Para pangkon berada di sisi ruang ritual, sementara para dewa dan belian mengambil tempat di sekitar lokasi pembaringan Tiang Ayu.
Setelah Sultan hadir, empat orang kerabat Kesultanan berjajar di sisi Sangkoh Piatu. Kemudian pusaka itu digoyangkan sebanyak tiga kali.
Gerakannya menyerupai orang yang sedang menebang pohon. Setelah tiga gerakan tersebut, Tiang Ayu perlahan direbahkan kembali ke atas kasur kuning yang telah disiapkan. Namun, ritual belum selesai.
Para dewa kemudian melakukan tepong tawar di sekitar Sangkoh Piatu dan melanjutkan ritual di hadapan Sultan. Doa dan restu diusapkan pada bagian tertentu tubuh Sultan, sebelum Sultan memercikkan air kembang ke mata, wajah, dan kepala.
Barulah rangkaian penutup selesai. Tiang Ayu kembali ke posisi tempat ia memulai perjalanannya: rebah.
Sebuah Tiang, Penanda Sebuah Perjalanan
Festival Adat Erau dikenal dengan kemeriahan berbagai prosesi dan tradisi, termasuk Belimbur yang menjadi salah satu acara puncak paling meriah. Namun, jauh di balik perayaan itu, Tiang Ayu memegang peran yang tidak tergantikan.
Ia adalah penanda waktu. Selama Tiang Ayu belum didirikan, Erau belum dimulai. Ketika ia berdiri, seluruh rangkaian adat bergerak. Dan ketika kembali direbahkan, Erau pun selesai.
Bagi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Tiang Ayu bukan sekadar tombak pusaka. Ia adalah pegangan hidup, simbol keselamatan, dan penghubung antara tradisi masa lalu dengan kehidupan masa kini.
Saat pusaka itu kembali berbaring di atas alas kuningnya, sebuah siklus Erau telah selesai. Seluruh tanggung jawab pemerintahan kemudian kembali dijalankan oleh Sultan Ing Martadipura.
Namun, Tiang Ayu akan tetap menunggu. Hingga pada Erau berikutnya, ketika ia kembali diangkat, ditegakkan, dan sekali lagi menjadi penanda bahwa sebuah perjalanan adat telah dimulai.


