Sekaten, Upacara Atas Kelahiran Nabi Muhammad SWA yang Unik

Upacara Sekaten adalah upacara tradisional yang diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. 

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Upacara tradisional Sekaten merupakan bagian integral dari kebudayaan masyarakat pendukungnya. Kelestarian upacara tradisional tersebut dimungkinkan oleh fungsinya bagi kehidupan masyarakat pendukungnya.

Upacara tradisional akan mengalami kepunahan apabila tidak memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Upacara tradisional mengandung berbagai aturan yang wajib dipatuhi oleh warga masyarakat pendukungnya. Aturan tersebut tumbuh dan berkembang secara turun temurun dengan perannya yang dapat melestarikan ketertiban hidup bermasyarakat.

Sekaten merupakan salah satu upacara tradisional yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.  Upacara Sekaten adalah upacara tradisional yang diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W.

Upacara Sekaten pada hakekatnya adalah suatu tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Pada mulanya, upacara tersebut diselenggarakan tiap tahun oleh raja-raja di Tanah Hindu, berwujud selamatan atau sesaji untuk arwah para leluhur.

Namun dalam perkembangannya, Upacara Sekaten sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam melalui kegiatan kesenian gamelan. Penyebarluasan agama Islam menggunakan media berupa kesenian gamelan karena masyarakat saat itu menggemari kesenian Jawa dengan gamelannya. Sehingga, untuk memperingati Maulid Nabi   Muhammad SAW tidak  lagi dengan kesenian rebana, melainkan dengan kesenian gamelan.

Diserap dari bahasa Arab, yakni syahdatain, ini merupakan ritual keagamaan yang dilakukan dengan rutin. Upacara sekaten dikenal oleh masyarakat sebagai upacara tradisional Jawa. Upacara ini dilakukan penuh selama seminggu, yang diisi dengan berbagai aktivitas, berupa Festival kebudayaan, Pementasan alat musik gamelan, Kemeriahan pasar malam dan Tarian tradisional Jawa.

Tradisi dalam penyambutan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dilakukan selama 7 hari. Biasanya, dilangsungkan sejak tanggal 5 Mulud (Rabiulawal) sore hari sampai dengan tanggal 11 Mulud (Rabiulawal) tengah malam.

Ini adalah tradisi Islam yang telah dilakukan pada awal Kesultanan Demak. Selain itu, asal usul tradisi ini juga diberlakukan sejak era Sunan Kalijaga di masa lampau.

Baca Juga :  Pasola, Tradisi Pembawa Berkah Bagi Masyarakat Sumba Barat

Melansir Grinnel College, awal mulanya  Sunan Kalijaga mengidekan untuk melakukan pementasan gamelan di halaman masjid. Hal ini dibantu oleh para sultan yang menjabat pada masa itu. Sejak saat itu, pementasan musik dengan gamelan dilakukan untuk perayaan Maulid Nabi atau dikenal dengan sekaten. Adapun, ini juga campur tangan dari budaya Hindu, Jawa, dan umat Muslim.

Alasan khusus diberlakukan ritual keagamaan ini adalah untuk mengenalkan agama Islam ke masyarakat umum. Perayaan biasanya berlangsung di alun-alun utara Yogyakarta. Secara bersamaan, ini juga dirayakan di alun-alun utara Surakarta. Ini menjadi lokasi yang cukup sering dikunjungi sebagai tempat wisata di Jogjakarta.

Arti dari sekaten ini adalah perasan senang dan tanda syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tentunya, penyambutan ini dilakukan dengan suasana meriah dan penuh sukacita.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

[gs-fb-comments]

BACA JUGA

- Advertisement -