Ritual yang Berakhir di Laut
Menariknya, perjalanan ritual tidak selesai di puncak gunung.
Setelah seluruh prosesi selesai, peserta tidak diperbolehkan kembali melalui jalur pendakian yang sama. Mereka harus menuruni gunung melalui rute berbeda hingga mencapai pesisir laut.
Di sana, seluruh peserta menjalani ritual penyucian diri dengan mandi di laut tanpa mengenakan pakaian. Air laut dipercaya menjadi media pemurnian sebelum mereka kembali ke kampung.
Larangan melanggar tahapan ritual ini diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat percaya bahwa mengabaikan aturan adat dapat mendatangkan malapetaka sekaligus menggagalkan harapan turunnya hujan.
Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Manggarai memandang gunung, hutan, dan laut sebagai satu kesatuan ekosistem spiritual yang saling terhubung.
Warisan Budaya di Tengah Hutan Tropis
Poco Ndeki tidak hanya menyimpan situs ritual.
Di lereng gunung terdapat bekas permukiman tua masyarakat Suku Motu yang dikenal dengan nama Rene. Di kawasan ini masih dapat ditemukan compang, yakni altar batu tempat masyarakat dahulu mempersembahkan sesaji kepada leluhur.
Pepohonan tua berupa kopi, kemiri, kelapa, jeruk, hingga belimbing yang dahulu ditanam para penghuni kampung masih tumbuh, menjadi saksi bisu perjalanan panjang komunitas yang pernah hidup di kawasan tersebut.
Hutan Poco Ndeki sendiri menjadi habitat beragam satwa endemik Flores, mulai dari elang Flores, nuri, kakatua, maleo, hingga berbagai jenis burung hutan yang menjadikan kawasan ini penting, baik secara ekologis maupun budaya.
Ketika Mitos Menjadi Identitas Pariwisata
Keunikan Watu Embu Haki dan Watu Embu Kodi Fai perlahan mulai dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara. Daya tariknya tidak hanya terletak pada bentuk batu yang tidak lazim, tetapi juga pada kisah budaya yang mengitarinya.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur mulai membangun jalur pendakian, memperkuat promosi wisata, serta memperkenalkan Poco Ndeki sebagai destinasi yang menggabungkan wisata alam, sejarah, dan budaya.
Namun, bagi masyarakat lokal, nilai terpenting dari situs ini tetap bukan pada jumlah wisatawan yang datang. Batu-batu tersebut adalah pengingat bahwa kehidupan manusia selalu bergantung pada harmoni dengan alam.
Di puncak Poco Ndeki, batu bukan sekadar batu. Ia adalah simbol kesuburan, penjaga tradisi, dan saksi hubungan panjang antara manusia Flores dengan pegunungan yang memberi mereka kehidupan.


