Pagi di Kalimantan Selatan selalu dimulai dengan kesyahduan yang khas. Dari tepian Sungai Martapura, gema salawat dan tabuhan rebana perlahan menggema, menandai tibanya bulan Rabiul Awal—bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Di rumah-rumah kayu beratap tinggi, aroma santan, kayu manis, dan adas manis mulai memenuhi udara. Di sanalah masyarakat Banjar tengah menyiapkan sebuah hidangan istimewa: wadai kararaban.
Bagi orang Banjar, merayakan Maulid Nabi bukan hanya tentang doa dan zikir. Ini juga tentang rasa—sebuah cara untuk mengekspresikan cinta kepada Rasulullah melalui tradisi kuliner yang sarat makna spiritual. Dan di antara aneka wadai yang tersaji di perayaan itu, kararaban selalu hadir di barisan depan.
Jejak Rasa dan Sejarah
Dalam bahasa Banjar, wadai berarti kue, sementara kararaban mengacu pada salah satu jenisnya yang memiliki taburan rempah di permukaannya. Bentuknya sederhana, namun aromanya begitu khas.
Kue ini terbuat dari tepung beras, santan, dan gula merah, lalu dipanggang perlahan hingga permukaannya berwarna keemasan. Setelah matang, barulah ditaburi campuran rempah seperti adas, kayu manis, dan cengkeh—perpaduan yang memberi aroma hangat, lembut, dan menenangkan.
Konon, wadai kararaban sudah dikenal sejak masa awal Islam masuk ke tanah Banjar. Para ulama dan penyebar agama membawa tradisi perayaan Maulid yang kemudian berpadu dengan kearifan lokal setempat. Dari sinilah muncul kebiasaan menyajikan hidangan manis sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Filosofi di Balik Taburan Rempah
Setiap butir rempah di atas wadai kararaban bukan sekadar pemanis. Ia mengandung filosofi mendalam tentang akhlak dan keteladanan Rasulullah. Adas dan kayu manis melambangkan keharuman budi pekerti Nabi yang terus mewangi sepanjang zaman.
Harum kue yang lembut dan menenangkan dipercaya menjadi pengingat agar manusia meneladani kasih sayang, kesabaran, dan kelembutan sang Nabi.
“Wadai ini bukan sekadar makanan, tapi pengingat. Baunya saja sudah seperti doa,” tutur Haji Sarbaini, tokoh masyarakat di Martapura, sambil tersenyum mengenang tradisi masa kecilnya.
Simbol Gotong Royong dan Kebersamaan
Tradisi membuat wadai kararaban juga menggambarkan eratnya ikatan sosial masyarakat Banjar. Menjelang Maulid, para ibu-ibu akan berkumpul di dapur besar atau balai kampung. Mereka menyiapkan adonan bersama, mengaduk santan, mencicipi rasa, dan saling bertukar cerita. Saat kue sudah matang, wadai kararaban dibagikan kepada tetangga, sanak saudara, dan siapa pun yang datang menghadiri perayaan baayun maulid.
Baayun maulid sendiri merupakan salah satu tradisi paling megah di Kalimantan Selatan—sebuah upacara keagamaan di mana anak-anak diayun sambil dilantunkan salawat dan doa. Dalam momen itu, wadai kararaban hadir sebagai suguhan sakral, simbol keberkahan dan kebersamaan.
Rasa Syukur yang Mengikat Generasi
Seiring waktu, wadai kararaban tak kehilangan pesonanya. Meski kini perayaan Maulid dilakukan dengan berbagai cara, aroma kue ini tetap menjadi penanda yang tak tergantikan.
Ia membawa kenangan tentang masa kecil, tentang dapur-dapur Banjar yang penuh tawa, tentang tangan-tangan ibu yang dengan sabar menakar rempah dan mengaduk adonan di atas bara api.
Bagi masyarakat Banjar, setiap potongan wadai kararaban adalah doa. Sebuah wujud rasa syukur atas rahmat kehidupan dan cinta kepada Rasulullah. Seperti harum rempahnya yang perlahan menguar, maknanya pun menembus batas waktu—menghubungkan masa lalu dengan masa kini, tradisi dengan iman, dan rasa dengan keindahan.


