Di tepian Sungai Martapura, aroma santan yang perlahan menguap dari kukusan bambu berpadu dengan wangi daun pandan yang semerbak. Suara pedagang wadai di pasar tradisional terdengar bersahutan, menawarkan aneka kue khas Banjar yang berwarna-warni. Di antara deretan penganan manis itu, satu kue tampil menawan dengan tiga lapis warna alami—hijau pandan, cokelat gula merah, dan putih santan: Putri Selat.
Sekilas, kue ini mungkin tampak sederhana. Namun bagi masyarakat Banjar, Putri Selat bukan sekadar kudapan, melainkan cerita yang hidup—tentang sejarah kerajaan, mitos perempuan suci, dan kebanggaan kuliner yang diwariskan lintas generasi.
Jejak Sejarah dari Zaman Kerajaan Banjar
Legenda setempat menyebut bahwa kue ini telah dikenal sejak masa Kerajaan Banjar berdiri di abad ke-16. Kala itu, Putri Selat dikaitkan dengan sosok legendaris Putri Junjung Buih—perempuan yang menurut kepercayaan rakyat Banjar muncul dari buih sungai dan menjadi lambang legitimasi kekuasaan raja-raja Banjar.
Kelembutan lapisannya, warna-warna alaminya, dan rasa manis gurihnya dipercaya mencerminkan keanggunan dan kemurnian sang putri. Dari sanalah kue ini mendapat namanya: Putri Selat—selat yang menghubungkan daratan dan lautan, manusia dan legenda, masa lalu dan masa kini.
Pada masa kerajaan, kue ini disebut sebagai hidangan istimewa yang disajikan di istana. Bahan-bahannya—tepung beras, santan kelapa, gula merah, dan daun pandan—dipilih dengan cermat, melambangkan keseimbangan unsur alam.
Filosofi Tiga Lapisan
Putri Selat terdiri dari tiga lapisan yang bukan hanya menawan secara visual, tetapi juga sarat makna.
- Lapisan bawah yang berwarna putih dari santan kental menggambarkan dasar kehidupan yang murni, sederhana, dan kokoh.
- Lapisan tengah berwarna cokelat gula merah merepresentasikan kemanisan perjuangan hidup—sebuah harmoni antara pahit dan manis.
- Lapisan atas berwarna hijau pandan melambangkan ketenangan, kesuburan, dan kesejukan hati seorang putri.
Ketiga lapisan ini disusun dengan penuh kesabaran, dikukus perlahan agar tidak pecah, menghasilkan tekstur lembut dan aroma harum yang khas. Dalam tradisi Banjar, proses mengukus wadai sering kali dilakukan secara gotong-royong di dapur-dapur besar menjelang bulan Ramadan atau acara adat, diiringi cerita-cerita lama yang dituturkan para ibu kepada anak-anaknya.
Dari Istana ke Meja Rakyat
Kini, Putri Selat telah menembus batas-batas bangsawan. Ia hadir di pasar-pasar Ramadan, dijual di wadah kecil berlapis daun pisang atau plastik bening, menyapa siapa pun yang ingin mencicipi kelezatan klasik ini.
Di Banjarmasin dan Martapura, aroma pandan dan gula merah yang menguar dari lapak wadai menandai waktu berbuka yang semakin dekat. “Kalau Ramadan tanpa Putri Selat, rasanya belum lengkap,” kata Norhayati, seorang penjual kue tradisional di Pasar Lama.
Tak hanya di Kalimantan Selatan, Putri Selat juga dikenal di Sumatera, Malaysia, hingga Singapura—dengan nama dan variasi berbeda. Di Semenanjung Malaya, kue ini disebut Seri Muka, meski versi Banjar biasanya memiliki lapisan tambahan gula merah di tengahnya yang membuat cita rasanya lebih kompleks.
Kearifan dan Keindahan dalam Satu Gigitan
Dalam setiap potongan Putri Selat, tersimpan harmoni rasa yang menggambarkan filosofi hidup masyarakat Banjar: keseimbangan antara manis dan gurih, antara dunia nyata dan legenda, antara kerja keras dan keindahan.
Kue ini juga menjadi saksi perjalanan budaya Melayu yang melintasi sungai dan lautan—menyebar dari tepian Barito hingga ke Selat Malaka, dari dapur rakyat jelata hingga meja perjamuan bangsawan.
Menjaga Warisan Rasa
Di tengah gempuran kue modern dan camilan instan, Putri Selat tetap bertahan. Para pembuat kue di Banjarmasin kini mencoba mengemasnya dalam bentuk modern—cup kecil, warna lembut pastel, bahkan versi mini untuk oleh-oleh wisatawan—tanpa mengubah resep aslinya.
Bagi masyarakat Banjar, mempertahankan wadai-wadai seperti Putri Selat bukan sekadar menjaga cita rasa, melainkan juga melestarikan ingatan kolektif tentang asal-usul mereka.


