Mihom Gawok, Sup Singkong Langka dari Sukoharjo yang Hampir Terlupakan

Makanan dari Gawok, Sukoharjo ini berupa sup dengan aneka isian seperti ecambah tauge, irisan seledri, dan sandung lamur alias koyor.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di sebuah sudut kecil Sukoharjo, tepatnya di Gawok, aroma kuah hangat berpadu dengan semilir angin sawah. Dari kejauhan, terdengar gemericik air sungai yang mengalir pelan di antara rumah-rumah penduduk. Di sinilah, di sebuah warung sederhana bernama Mihom Tempuran, jejak kuliner langka bernama mihom masih bertahan — sepiring nostalgia dari tahun 1960-an yang nyaris punah ditelan zaman.

Meski namanya berawalan “mi”, mihom sama sekali bukan keluarga dari olahan mi. Ia justru hadir sebagai sup singkong yang kaya tekstur dan cita rasa, sebuah paduan tak lazim antara gurihnya kaldu daging dengan lembutnya olahan singkong.

Di dalam satu mangkuk, Kawan akan menemukan kecambah tauge, irisan seledri, dan potongan sandung lamur alias koyor yang kenyal. Kuahnya bening kekuningan, menyerupai soto seger khas Boyolali, tapi dengan rasa yang berbeda—lebih pekat, lebih membumi.

- Advertisement -

Kuah mihom dimasak dengan bawang putih, bawang merah, kemiri, dan lengkuas. Aroma rempahnya menyeruak lembut, menghadirkan kenangan akan dapur-dapur tua Jawa tempo dulu. Saat sendok pertama menyentuh bibir, rasa gurih dan sedikit pedas dari rempahnya menyapa lembut.

Singkong sebagai Jiwa Makanan

Jika soto berpadu dengan nasi, maka mihom bersanding dengan singkong. Tapi jangan bayangkan singkong manis seperti jenang. Dalam mihom, singkong diolah menjadi bubur gurih yang lembut, lalu dilengkapi stik singkong renyah dan blanggem—sejenis perkedel singkong yang digoreng hingga keemasan.

Ketika disatukan dalam satu mangkuk, tekstur itu berpadu indah: bubur yang lembut, koyor yang kenyal, stik yang kriuk, dan kuah hangat yang menyelimuti semuanya. Di setiap suapan, rasa gurih, asin, dan sedikit manis berpadu sempurna, menghadirkan harmoni sederhana yang membuat lidah enggan berhenti.

- Advertisement -
Baca Juga :  Manfaat Kemiri Bagi Kesehatan, Salah Satunya Melancarkan Pencernaan

“Dulu, mihom itu makanan rakyat,” tutur salah satu warga Gawok yang sudah berusia lanjut, sambil menatap sawah di belakang rumahnya. “Zaman dulu dijual keliling, dipikul dua panci—satu untuk kuah, satu untuk singkong.” Kini, tradisi itu nyaris hilang. Dari belasan penjual pada masa lalu, hanya satu yang tersisa: Mihom Tempuran, di Desa Blimbing, Kecamatan Gatak, sekitar satu kilometer dari Stasiun Gawok.

Warisan yang Bertahan di Tepi Sungai

Di tepian sungai itulah, aroma mihom masih hidup. Pagi hari, para pelanggan duduk di bangku kayu sederhana, menikmati mangkuk mihom yang mengepul hangat. Suasana warungnya sederhana, tapi di situlah keajaiban kuliner berlangsung setiap hari—tanpa spanduk mencolok, tanpa promosi digital, hanya mengandalkan kabar dari mulut ke mulut.

Harga seporsinya pun mengejutkan. Hanya sekitar Rp6.000, sebuah angka yang hampir tak masuk akal di zaman sekarang. “Seperti jualan untuk sedekah,” kata seorang pembeli sambil tersenyum. Barangkali benar—mihom bukan sekadar makanan, tapi simbol kedermawanan dan kesederhanaan masyarakat pedesaan Jawa.

- Advertisement -

Lebih dari Sekadar Kuliner

Mihom adalah bukti bahwa warisan kuliner tidak selalu ditemukan di restoran megah atau buku resep tua. Kadang, ia bersembunyi di warung kecil di tepi sawah, dijaga oleh tangan-tangan yang tetap setia menanak singkong dan merebus koyor sejak pagi buta.

Di tengah derasnya arus modernisasi, mihom mengajarkan satu hal penting: bahwa kelezatan sejati lahir dari kesederhanaan. Dari bahan-bahan lokal yang diolah dengan cinta, dan dari tradisi yang dijaga oleh masyarakat yang mencintai tanahnya.

Barangkali, suatu hari nanti mihom akan hilang sepenuhnya. Tapi selama masih ada satu penjual yang menjaga bara dapurnya, dan satu pembeli yang rela datang jauh-jauh untuk mencicipinya, mihom akan tetap hidup — bukan hanya di lidah, tapi juga di ingatan tentang rumah, tentang Jawa, dan tentang kehangatan yang tak lekang oleh waktu.

Baca Juga :  Asal Usul Bolu Cukke: Kue Kering Bugis yang Sarat Filosofi