Kaledo, Sajian Tradisional Khas Palu Kesukaan Para Raja

Kaledo, kuliner khas Palu, Donggala, dan sekitarnya di Sulawesi Tengah memiliki cita rasa sedikit asam, tapi tetap gurih dan menyegarkan.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Kota Palu, Sulawesi Tengah tak hanya menyuguhkan pemandangan yang indah dan menawan, tapi juga memiliki makanan khas. Salah satu makanan khas Palu, Donggala, dan sekitarnya di Sulawesi Tengah adalah sup kaledo.

Kaledo sering diartikan singkatan dari Kaki Lembu Donggala. Sebenarnya, kelahiran kaledo bersamaan dengan tumbuhnya budaya Kaili –Kulawi di Lembah Palu.

Sebelum masuknya ajaran Islam pada abad-16, etnis Kaili dan Kulawi hidup dalam masa pra sejarah atau menganut paham animisme. Pada masa itu, masyarakat Lembah Palu dengan segala kondisi geografis yang didominasi panas, perbukitan dan hutan, membuat banyak hewan yang tinggal di lembah ini.

Keunikan dan keutamaan Kaledo adalah pada sunsum yang terletak pada bagian tengah tulang kaki sapi.

Pada masa itu, masyarakat animis Lembah Palu telah mampu menciptakan satu resep masakan, dengan bahan dasar potongan kaki hewan, yang diolah secara sederhana menggunakan asam muda, garam, cabai segar, serta satu jenis tumbuhan yang dominan hidup di lereng-lereng pegunungan.

Di masa tersebut, kaledo yang dibuat masyarakat etnis Kaili berbahan dasar potongan kaki berbagai jenis hewan, seperti kaki kambing, atau kaki babi hutan.

Seiring perkembangan budaya hidup masyarakat etnis Kaili di Lembah Palu, utamanya setelah ajaran Islam masuk pada abad-16. Karena pengaruh ajaran dan nilai Islam yang jadi keyakinan masyarakat, bahan dasar Kaledo juga ikut berubah hanya dengan memanfaatkan Kaki Sapi.

Namun, pada saat itu, ada dua jenis kuliner. Satu rasa yang dikembangkan masyarakat Kaili, yakni Uta Poiti dan Kaledo.

Perbedaannya, pada Uta Poiti selain menggunakan potongan tulang yang masih tertempel daging, ditambah dengan daging murni serta jeroan. Sementara itu, untuk masakan kaledo, murni menggunakan potongan kaki sapi.

Baca Juga :  Sejarah Kuliner Nusantara, Memanjakan Lidah Berabad Lamanya
Kaledo Khas Palu
Kaledo Khas Palu. IST

Disukai Para Raja

Di zaman dahulu kala, kaledo menjadi sajian kehormatan oleh para raja-raja di Lembah Palu bagi para tamu kehormatan dari kaum bangsawan yang disebut dengan Toma Oge atau Toma Langgai atau Langga Nunu. Biasanya, mereka adalah para pembesar dari sub-sub kerajaan di lembah Palu.

Namun, kini masyarakat di Kota Palu sering sekali menyantap kuliner satu ini ketika perayaan Idul Fitri atau Idul Adha.

Sup kaledo ini akan terasa lengkap jika disantap bersama dengan beras yang dicampur santan dan dibungkus dengan daun pisang yang kemudian direbus. Sehingga nantinya Parents dapat menikmati kedua hidangan khas Sulawesi tersebut.

Rasa asam yang  berasal dari buah asam yang merupakan salah satu komponen pelengkap kaledo dan juga dari jeruk nipis yang dapat ditambahkan sesuka hati.

Kuahnya yang menyegarkan terbuat dari kaldu sup biasa tanpa tambahan santan dengan bumbu sederhana, yaitu menggunakan garam, asam, dan cabai segar. Dalam proses pembuatannya, daging melalui perebusan yang panjang, sehingga memiliki tekstur yang lebih empuk.

Sebagai pelengkap, ada bawang goreng khas dan potongan paru goreng di dalam plastik kecil serta potongan jeruk nipis. Nikmat Sekali!

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

[gs-fb-comments]

BACA JUGA

- Advertisement -