Rebo Bontong, Tradisi Tolak Bala Suku Sasak

Saat Rebo Bontong tiba, masyarakat Suku Sasak akan datang berbondong-bondong ke sungai atau pesisir pantai terdekat dan mandi beramai-ramai.

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Lombok, selalu memiliki ragam budaya yang unik, budaya inilah yang menjadi daya tarik bagi setiap wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Seperti halnya Upacara Rebo Bontong yang menjadi rutinitas tahunan masyarakat Pringgabaya di Lombok Timur. Biasanya upacara adat ini dilaksanakan di Pantai Ketapang Pringgabaya.

Upacara Rebo Bontong bertujuan untuk tolak bala (menolak marabahaya). Tradisi ini menjadi andalan bagi masyarakat Pringgabaya, sebab selain untuk ritual, Tradisi Rebo Bontong juga dijadikan sebagai salah satu event wisata tahunan di Pantai Ketapang dan Pantai Tanjung Menangis yang ada di Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.

Ritual-ritual yang menggunakan sesajen bukan hanya di tanah jawa seperti yang banyak diberitakan di media.  Saya semakin yakin akan kekuatan budaya lelehur dahulu sehingga sampai saat ini budaya tersebut  masih menjadi sebuah tradisi yang wajib dilaksanakan sekali dalam setahun.

Menurut  Kepercayaan masyarakat di Lombok timur, apabila ritual tersebut tidak dilaksanakan maka akan banyak terjadi musibah, benar atau tidakanya tapi itulah kepercayaan masyarakat yang sudah mendarah daging.  Ritual yang saya maksud itu adalah “Rebo Bontong” atau “Rebo Buntung”.

Rebo Bontong ( Sasak ) atau Rebo Wekasan (Jawa) adalah hari Rabu terakhir dalam bulan Safar penanggalan Hijriyah. Dalam tradisi Lombok atau suku sasak, hari ini dikenal sebagai hari musibah.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Lombok Timur, Muhir, S. Pd., menyampaikan terkait Rebo Bontong, dilaksanakan sebagian besar di masyarakat Sasak pesisir.

Merujuk pada penuturan orang tua yang mengambil beberapa kisah klasik, kabarnya pada hari rabu terakhir bulan Safar tersebut, Tuhan menurunkan ribuan jenis penyakit, semasa Rasulullah Hidup.

Dan pada waktu itulah Rasulullah terpapar penyakit yang cukup serius selama dua belas hari sampai beliau meninggal dunia pada tanggal hari kelahirannya di dunia.

Baca Juga :  Kasada, Upacara Penyucian Alam Suku Tengger

Lebih lanjut Muhir yang juga Tokoh Adat di Lombok Tmur, menyampaikan sebelum meninggal Rasulullah berpesan agar pada pada hari tersebut memperbanyak doa dan ibadah kepada Alloh agar terhindar dari Wabah yang di turunkan Alloh SWT.

Hal itulah yang di tafsirkan oleh suku Jawa dengan konsep kegiatan ritual Rabu wekasan (istilah jawa). Sasak menafsirkan Rebo terakhir tersebut dengan ritual Tetulak Tamparan atau  dan tradisi nyelamaq di lombok Timur untuk beberapa desa pesisir lainnya. Tutur Kabid Muhir.

Jika di Jawa dan Madura menyakini agar tidak keluar rumah dan bepergian pada hari tersebut untuk menghindari dari bala dan musibah.

Berbeda dengan tradisi di Lombok, mereka menjalankan cara menghindari penyakit dan musibah dengan melakukan tradisi mandi bersama yang dilaksanakan oleh masyarakat Suku Sasak, yang disebut Tradisi Rebo Bontong.

Tradisi Rebo Bontong merupakan ritual mandi bersama yang dilakukan masyarakat Suku Sasak.  Tradisi tersebut digelar sekaligus untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tradisi unik yang sudah berumur ratusan tahun ini diyakini masyarakat dapat menyucikan tubuh dan dapat menghilangkan sakit selama satu tahun ke depan.

Saat Rebo Bontong tiba, masyarakat Suku Sasak akan datang berbondong-bondong ke sungai atau pesisir pantai terdekat dan mandi beramai-ramai. Beberapa desa juga ada yang melakukan ritual mandi bersama di sebuah sumur desa yang dikeramatkan.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

[gs-fb-comments]

BACA JUGA

- Advertisement -