Upacara Tabuik, Dari Karbala ke Pariaman Merawat Ingatan

Upacara Tabuik berakar dari kisah tragis gugurnya Imam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam Perang Karbala pada tahun 680 Masehi. Peristiwa ini diperingati setiap tanggal 10 Muharram, atau hari Asyura, sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan dan tirani.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Setiap memasuki bulan Muharram, Kota Pariaman di pesisir barat Sumatera Barat perlahan berubah wajah. Jalan-jalan utama menjadi lebih ramai, suara gandang tasa mulai terdengar dari kejauhan, dan masyarakat bersiap menyambut sebuah tradisi yang telah hidup ratusan tahun: Upacara Tabuik. Bagi orang Pariaman, Tabuik bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang ingatan kolektif yang menyatukan sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan dalam satu peristiwa besar.

Upacara Tabuik berakar dari kisah tragis gugurnya Imam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam Perang Karbala pada tahun 680 Masehi. Peristiwa ini diperingati setiap tanggal 10 Muharram, atau hari Asyura, sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan dan tirani. Dari Timur Tengah, tradisi peringatan ini menyebar hingga ke Asia Selatan, lalu dibawa ke pesisir barat Sumatera oleh tentara Muslim asal India pada abad ke-19. Di tangan masyarakat Minangkabau, ritual tersebut tidak sekadar ditiru, tetapi diolah, disesuaikan, dan akhirnya menjadi bagian dari identitas lokal Pariaman.

Kata tabuik sendiri berasal dari kata tabut, yang berarti peti atau keranda. Dalam konteks tradisi Pariaman, tabuik diwujudkan dalam bentuk bangunan tinggi yang megah, dihiasi ornamen warna-warni, dengan bagian atas menyerupai makhluk bersayap yang dipercaya sebagai simbol kendaraan ruh menuju langit. Tabuik menjadi lambang keranda Imam Husain, sekaligus representasi duka mendalam atas gugurnya seorang tokoh yang dianggap suci dan mulia.

- Advertisement -

Rangkaian Upacara Tabuik tidak berlangsung dalam satu hari. Ia dimulai sejak awal Muharram dan berjalan selama sepuluh hari penuh. Setiap tahapan memiliki makna simbolik yang kuat. Prosesi diawali dengan maambiak tanah, pengambilan tanah dari lokasi tertentu yang dimaknai sebagai simbol makam Imam Husain. Tanah ini kemudian disimpan dengan penuh penghormatan, menjadi penanda dimulainya masa berkabung.

Baca Juga :  Kampung Adat Bodo Ede, Eksotis di Tengah Kota

Hari-hari berikutnya diisi dengan berbagai ritual, termasuk manabang batang pisang, yang melambangkan kesiapan spiritual dan dimulainya pembangunan tabuik. Pada malam tertentu, masyarakat melakukan maatam, sebuah ritual ratapan yang menghadirkan suasana hening dan reflektif. Suara doa, tabuhan gandang tasa, dan gerak tubuh para peserta menyatu dalam atmosfer duka yang sakral.

Puncak rangkaian ritual terjadi pada tanggal 10 Muharram. Sejak pagi, dua tabuik besar milik kelompok Pasa dan Subarang diarak keluar dari tempat pembuatannya. Puluhan pria dewasa mengangkat tabuik sambil menggoyangkannya dengan irama cepat dan penuh tenaga, sebuah prosesi yang dikenal sebagai hoyak tabuik. Suasana berubah riuh. Sorak penonton bercampur dengan dentuman musik tradisional, menciptakan energi kolektif yang luar biasa.

- Advertisement -

Menjelang sore, kedua tabuik dibawa menuju Pantai Gandoriah. Di hadapan laut lepas, tabuik kemudian dihanyutkan ke laut. Momen ini menjadi penutup seluruh rangkaian upacara. Pembuangan tabuik ke laut dimaknai sebagai pelepasan duka, pengembalian ruh para syuhada ke hadirat Ilahi, sekaligus tanda berakhirnya masa berkabung. Banyak penonton terdiam, sebagian larut dalam perasaan haru, menyaksikan bangunan besar itu perlahan menjauh dan akhirnya lenyap di balik ombak.

Di luar makna religiusnya, Upacara Tabuik juga menjadi ruang sosial yang memperkuat kebersamaan warga. Proses pembuatan tabuik melibatkan gotong royong lintas usia dan latar belakang. Anak-anak, pemuda, hingga orang tua memiliki peran masing-masing. Tradisi ini menjadi sarana pewarisan nilai, di mana generasi muda belajar tentang sejarah, solidaritas, dan makna pengorbanan melalui praktik budaya yang nyata.

Kini, Tabuik juga dikenal sebagai salah satu atraksi wisata budaya terbesar di Sumatera Barat. Ribuan pengunjung datang setiap tahun untuk menyaksikan kemegahan dan kekuatan emosional tradisi ini. Meski demikian, bagi masyarakat Pariaman, Tabuik tetaplah lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah warisan hidup, sebuah ritual yang terus dijaga agar tidak kehilangan ruhnya di tengah arus zaman.

- Advertisement -
Baca Juga :  Makna Filosofi Tenun Toraja, Simbol Kejayaan dan Kemakmuran

Di antara dentuman gandang, riuh hoyak tabuik, dan senja di Pantai Gandoriah, Upacara Tabuik mengajarkan satu hal penting: bahwa ingatan sejarah tidak hanya disimpan dalam buku, tetapi juga dirawat melalui tubuh, suara, dan kebersamaan. Sebuah tradisi yang lahir dari duka, namun tumbuh menjadi perayaan identitas dan keteguhan nilai kemanusiaan.